Kisah Mata Hari, Penari Eksotis yang Jadi Mata-Mata

Kisah Mata Hari, Penari Eksotis yang Jadi Mata-Mata

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 11 Agu 2026 18:11 WIB
Kisah Mata Hari, Penari Eksotis yang Jadi Mata-Mata
Jakarta -

Mata Hari adalah legenda pada masanya. Ketika ia muncul di panggung hiburan Paris pada tahun 1905, ia berhasil memikat hati kalangan elite.

"Ia menari dengan tudung dan korset bertatahkan permata, hampir tanpa balutan busana lainnya," tulis media Paris. "Belum pernah ada orang yang berani tampil begitu terbuka dengan penuh gairah. Betapa indahnya gerakan-gerakan yang ia lakukan, berani sekaligus anggun secara bersamaan."

Mata Hari telah meyakinkan penonton dan pers bahwa ia adalah seorang penari kuil yang eksotis, meski namun artis berambut gelap itu sebenarnya berasal dari Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu ciri khas zaman itu, Belle Epoque, adalah dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat Paris akan budaya-budaya yang dianggap eksotis. Didorong oleh keputusasaan finansial, Mata Hari memanfaatkan ketertarikan masyarakat dengan berpura-pura menjadi orang India.

Untuk membuat penampilannya lebih meyakinkan, ia pun membuat kisah hidupnya sendiri, menyebut dirinya sebagai putri Brahmana yang sangat dihormati. "Ibuku, penari Bayadere pertama di Kuil Ranganathaswamy, meninggal pada usia empat belas tahun, tepat pada hari kelahiranku. Setelah para pendeta kuil mengkremasi jenazahnya, mereka mengadopsi dan menamai aku Mata Hari, yang berarti 'Mata Hari' (kata dalam bahasa Melayu berarti matahari)," jelasnya.

Mata Hari mengaku telah mempelajari tarian-tarian suci kuil sejak usia dini. Selama pertunjukan, satu per satu tudung penutup dilepaskannya. Kemudian, ia berkata, "Aku tidak pernah menari dengan baik. Satu-satunya alasan orang datang menontonku adalah karena aku berani tampil telanjang," katanya.

Putri seorang pembuat topi Belanda

Kalangan elite tak pernah bosan dengan Mata Hari, tanpa menyadari bahwa nama aslinya adalah Margaretha Geertruida Zelle dan ia berasal dari kota kecil Leeuwarden di Belanda.

Lahir pada 7 Agustus 1876, Mata Hari adalah putri seorang pembuat topi yang menjadi kaya raya karena sang ayah pintar berspekulasi di pasar saham. Ayahnya sering memanjakan putrinya dengan hadiah-hadiah mewah. Untuk ulang tahun keenamnya, sang ayah memberinya sebuah kereta yang ditarik dengan kambing.

Di usia 13 tahun, kehidupan mewah Mata Hari 'jungkir balik'. Ayahnya bangkrut dan meninggalkan keluarganya. Dua tahun kemudian, ketika ibunya meninggal dunia, ia pun tinggal bersama kerabatnya.

Mata Hari bertemu suaminya lewat iklan surat kabar, "Seorang perwira dari Hindia Belanda (Indonesia) yang sekarang sedang pulang ke kampung halaman, mencari teman kencan seorang perempuan muda yang baik untuk dinikahi. Keuangan bukan masalah."

Mata Hari dan perwira yang bernama John Rudolf MacLeod dengan cepat menjalin hubungan asmara. MacLeod juga adalah seorang bangsawan Belanda keturunan Skotlandia. Usia mereka terpaut 20 tahun. Pada tahun 1897, ia menemani suaminya ke Hindia Belanda, mereka sempat tinggal di Ambarawa dan Malang. Namun, impiannya akan kehidupan yang bahagia tak pernah terwujud.

Pertengkaran yang sering terjadi, merenggangkan hubungan mereka. Kemudian, putra mereka yang berusia dua tahun meninggal secara tragis setelah keracunan. Ketika MacLeod kembali ke Eropa pada tahun 1902, pernikahan mereka kandas.

MacLeod meninggalkan Mata Hari, membawa serta putri mereka dan menolak membayar tunjangan hidup sang mantan istri, sehingga Mata Hari harus berjuang sendiri menghidupi dirinya.

Ia pun memulai kariernya di Paris sebagai model bagi para pelukis dan mencoba peruntungannya di dunia sirkus. Namun, karakter panggung eksotis Mata Hari-lah yang pada akhirnya membuatnya terkenal. Ia tampil di tempat-tempat bergengsi di seluruh Eropa, termasuk Wina dan Monte Carlo, serta menginap di hotel-hotel mewah.

Ia menari di pesta-pesta malam yang diselenggarakan oleh keluarga bankir Rothschild dan menghibur Pangeran Mahkota Wilhelm, putra Kaisar Jerman Wilhelm II. Kesuksesannya memberinya akses ke lingkaran sosial tertinggi, di mana ia menjalin hubungan dengan para diplomat dan perwira militer berpangkat tinggi yang rela membayar lebih untuk sekadar ditemani Mata Hari.

Terhimpit finansial membuatnya jadi agen rahasia

Popularitas Mata Hari mulai memudar seiring banyaknya penari muda yang mulai mengikuti jejaknya. Penonton di Paris yang haus sensasi pun beralih ke sensasi baru lainnya. Ketika Perang Dunia I meletus pada tahun 1914, Mata Hari tidak lagi dapat mempertahankan gaya hidup mewahnya.

Dia menerima tawaran dari konsul Jerman di Belanda untuk membantu melunasi utangnya dan dijanjikan uang yang lebih banyak jika berhasil mengumpulkan informasi intelijen dari tokoh-tokoh berpengaruh di pihak lawan dalam perang dunia tersebut. Bayaran awalnya adalah 20.000 franc, jumlah yang sangat besar pada masa itu. Mata Hari pun menjadi Agen H 21.

Kemudian, dinas intelijen Prancis mendekatinya dan menawarkan uang yang lebih banyak, Mata Hari pun jadi agen ganda. Namun, dia salah perhitungan. Pihak Prancis merekrutnya agar dapat menangkapnya saat sedang memata-matai Jerman.

Pada saat yang sama, karena kecurigaan terhadap aktivitasnya spionasenya, badan intelijen Inggris juga memantau Mata Hari saat melakukan perjalanan keliling Eropa. Pada 13 Februari 1917, dia ditangkap.

Pada 15 Oktober, di usia 41 tahun, Mata Hari dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan berat di Chteau de Vincennes, dekat Paris. Para saksi mata melaporkan bahwa sang penari itu menghadapi regu tembak yang terdiri dari 12 orang dengan kepala tegak dan bahkan sempat melemparkan ciuman ke udara. Ia menolak memakai penutup mata dan malah mengucapkan kata-kata terakhirnya kepada komandan yang memberi perintah tembak: "Terima kasih, tuan!"

Status Mata Hari sebagai mata-mata diwarnai kontroversi. Menurut dokumen dari badan intelijen Inggris, yang dirahasiakan selama beberapa dekade, informasi yang Mata Hari bagikan kemungkinan besar tidak berpengaruh pada Perang Dunia I.

Tampaknya Mata Hari dijadikan sebagai kambing hitam pada saat antusiasme publik terhadap perang memudar dan pengadilan militer Prancis membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Hingga akhir hayatnya sang penari itu membantah telah melakukan spionase.

Terlepas apakah ia benar-benar seorang mata-mata ulung atau tidak, keahliannya dalam membangun citra seorang penari eksotis nan misterius, tidaklah diragukan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Kecoak Cyborg Ini Bisa Jadi Penyelamat dan Mata-mata

(ita/ita)


Berita Terkait