Suriah Ambil Alih Pengelolaan Pangkalan Militer Rusia

Suriah Ambil Alih Pengelolaan Pangkalan Militer Rusia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 10 Agu 2026 16:55 WIB
Suriah Ambil Alih Pengelolaan Pangkalan Militer Rusia
Jakarta -

Suriah dan Rusia menyepakati masa depan pengelolaan pangkalan-pangkalan militer Rusia di pesisir Mediterania negara tersebut.

Sebelumnya, Rusia menggunakan pangkalan-pangkalan itu untuk mendukung mantan pemimpin Suriah, Bashar Assad, selama perang saudara di Suriah. Perang itu berlangsung selama 13 tahun, sebelum berakhir pada 2024.

Pada Minggu (09/08), Kementerian Luar Negeri Suriah mengumumkan bahwa kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) setelah bernegosiasi selama 18 bulan.

Kesepakatan tersebut membuat Rusia tidak lagi punya pangkalan militer di negara Arab itu.

Apa yang akan terjadi dengan pangkalan militer Rusia di Suriah?

Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Suriah, mereka akan mengambil alih pengelolaan Bandara Hmeimim dan dermaga komersial di Pelabuhan Tartus.

Media pemerintah menyatakan, pangkalan-pangkalan tersebut akan diubah menjadi "pusat pelatihan dan peningkatan kapasitas bersama, dengan tetap menjaga kepentingan bersama."

Fasilitas-fasilitas tersebut secara bertahap akan berada di bawah pengelolaan pemerintah Suriah. Kementerian mengatakan proses ini diperkirakan selesai dalam waktu tiga bulan.

Rusia belum memberikan komentar mengenai kesepakatan tersebut.

Rusia berupaya membangun hubungan dengan Suriah pasca-Assad

Selama perang saudara Suriah (2011–2024), di bawah kepemimpinan Presiden Assad, Rusia merupakan sekutu dan pendukung militer utama Suriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Assad digulingkan pada Desember 2024 dan kini menjadi eksil di Moskow. Presiden Suriah saat ini, Ahmad al-Sharaa, memimpin aliansi pemberontak Islamis yang bertempur melawan pasukan pemerintah selama perang.

Penggulingan Assad pada 2024 menjadi pukulan besar bagi pengaruh Moskow di kawasan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya membangun hubungan dengan kepemimpinan baru Suriah. Upaya ini dilakukan untuk mempertahankan dua pangkalan militer resmi Rusia. Keduanya merupakan pangkalan resmi yang tersisa di luar bekas wilayah Uni Soviet.

Al-Sharaa telah dua kali bertemu Putin di Moskow sejak berkuasa pada Januari 2025.

Dalam kunjungan terakhirnya, Putin mengatakan,"banyak hal soal pemulihan hubungan telah tercapai."

Pemerintah Suriah selama ini menuntut Moskow mengekstradisi Assad.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Putin Desak Israel Angkat Kaki dari Suriah

(ita/ita)


Berita Terkait