Setelah gelombang panas ekstrem pada Juni 2026 dan kebakaran hutan hebat di Prancis selatan serta Spanyol, musim panas Eropa yang diwarnai krisis akibat perubahan iklim terus berlanjut dengan menurunnya debit air sungai di seluruh Benua Biru tersebut.
Beberapa bagian dari Sungai Rhein, Danube, dan Po yang berperan penting telah mencapai tingkat terendah dalam sejarah, yang mengancam transportasi barang, perekonomian secara luas, dan pertanian. Hal ini membuat para petani memperingatkan akan terjadinya kenaikan harga akibat panen yang buruk di tengah kekeringan.
Di sepanjang Sungai Danube, kapal kargo dan kapal pesiar tidak lagi dapat melintas di beberapa tempat. Di Hungaria, Rumania, serta Kroasia, kapal dan mobil yang tenggelam kembali muncul ke permukaan akibat mengeringnya dasar sungai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sejumlah kota Jerman, termasuk Köln dan Düsseldorf, masyarakat kini dapat berjalan kaki melintasi bagian-bagian Sungai Rhein yang biasanya dilalui arus deras. Permukaan air sungai diperkirakan akan turun lebih drastis lagi dalam beberapa hari mendatang.
Krisis air ini diperparah oleh pemanasan global yang dipicu pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Rendahnya permukaan air juga semakin berdampak buruk pada ekosistem dan pada akhirnya dapat menaikkan biaya air minum bersih.
Dampak terhadap lingkungan
Lahan pertanian yang kering, jutaan hektare panen yang hilang, dan dasar sungai yang mulai terlihat merupakan beberapa konsekuensi paling nyata dari kekeringan ini. Namun, ekosistem bawah air juga turut menderita.
Seiring turunnya permukaan air, suhu sungai meningkat dan kandungan oksigen terlarut berkurang, sehingga meningkatkan risiko kematian massal ikan. Hal tersebut dijelaskan oleh seorang ilmuwan dari Badan Lingkungan Hidup Federal Jerman (Umweltbundesamt/UBA) Jeanette Völker.
"Terutama di sepanjang Sungai Rhein, Anda dapat melihat bagaimana tepian kerikil mengering. Tempat ini merupakan habitat bagi kerang dan invertebrata, yang memiliki fungsi sebagai pakan bagi ikan. Hal ini menimbulkan tekanan yang sangat besar pada ekosistem tersebut. Kerang tidak dapat berpindah dengan cukup cepat dan akhirnya mati," kata Völker kepada DW.
Kekeringan, sinar matahari yang terik, dan beban nutrisi tinggi dari pupuk pertanian juga memicu pertumbuhan alga yang berbahaya bagi ikan.
Dampak ini terlihat pada tahun 2022 di Sungai Oder di Jerman sebelah timur. Suhu tinggi, tingkat air yang rendah, dan kadar garam yang meningkat memungkinkan alga invasif beracun menyebar. Sekitar 1.000 metrik ton ikan mati di sepanjang bagian sungai perbatasan Jerman-Polandia tersebut.
Para ahli tidak memperkirakan bencana seperti yang terjadi di Sungai Oder akan terulang di Sungai Rhein pada musim panas tahun 2026 karena kadar oksigen masih cukup tinggi. Namun, ancaman terhadap ekosistem air tawar secara keseluruhan tetap ada.
Berdampak pada air layak minum
Sungai Rhein dan Danube dialiri oleh banyak anak sungai yang debit airnya juga semakin berkurang. Anak-anak sungai ini sangat penting karena tepiannya rimbun dan dipenuhi alang-alang yang berfungsi sebagai filter alami, sehingga air dapat perlahan-lahan meresap melalui lapisan tanah yang membantu menyaring polutan sebelum air mencapai sumur bawah tanah.
"Sebagian besar air minum kami berasal dari apa yang dikenal sebagai 'filtrasi tepi sungai,'" kata Hagen Koch, seorang peneliti yang fokus terhadap adaptasi dan ketahanan iklim di Institut für Klimafolgenforschung (PIK), di Postdam, Jerman.
Dengan kata lain, air minum Jerman berasal dari sumur-sumur tersebut. Namun, kekeringan melemahkan proses ini. Konsentrasi polutan meningkat karena volume air limbah yang hampir sama, yang sebagian besar berasal dari industri dan instalasi pengolahan limbah, tetap dibuang ke sungai meskipun permukaan air terus menurun.
"Jika ekosistem rusak, yaitu, hewan dan tumbuhan yang berkontribusi pada pemurnian air, hal ini akan menimbulkan biaya tambahan yang signifikan. Pengolahan tambahan diperlukan untuk memasok air minum bersih kepada jutaan orang," ujar Koch kepada DW.
Kelompok industri Jerman memperkirakan biaya pasokan air dapat naik hingga 30% akibat perubahan iklim. Pada tahun 2035, investasi tambahan hingga €14 miliar (sekitar Rp242 triliun) mungkin diperlukan untuk meningkatkan sistem pengolahan air, serta membangun saluran air yang lebih dalam dan memperbarui waduk yang dirancang untuk menjaga suhu air tetap rendah dan membatasi pertumbuhan mikroba.
Situasi ini telah menarik perhatian akan perdebatan yang lebih luas mengenai penggunaan air. Meskipun rumah tangga membayar air yang mereka konsumsi, beberapa sektor industri, termasuk pertambangan dan pertanian, dibebaskan dari biaya pengambilan air di banyak negara bagian Jerman.
Untuk menghemat air, otoritas di beberapa kota di Jerman saat ini memberlakukan pembatasan ketat terhadap pengambilan air dari sungai dan aliran air oleh individu swasta. Di Köln, warga yang melanggar larangan tersebut terancam denda hingga €50.000 (sekitar Rp865 juta).
Sektor ekonomi terganggu
Tingkat air yang rendah di sungai-sungai Jerman telah menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian. Beberapa kapal hanya dapat mengangkut seperlima dari muatan biasanya, sehingga menghambat produksi dan memicu kenaikan harga. Industri baja, kimia, dan minyak Jerman mengalami dampak yang sangat parah.
Pasokan energi juga berada di bawah tekanan. Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar telah mendesak rumah tangga dan perusahaan untuk menghemat listrik. Ia memperingatkan bahwa negara tersebut berisiko menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah tingkat air yang rendah di Sungai Danube memaksa penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir Paks.
Rumania meledakkan bebatuan, ini yang dilakukan Jerman
Para politisi sedang menjajaki langkah-langkah darurat sebagai respons terhadap situasi ini. Di Rumania, militer meledakkan formasi batuan di salah satu cabang Sungai Danube untuk menjamin pasokan air pendingin bagi pembangkit listrik tenaga nuklir Cernavoda dan mencegah penghentian operasinya.
Menteri Perhubungan Jerman mengumpulkan perwakilan dari industri, pelabuhan, dan angkutan sungai pada 6 Agustus 2026 untuk membahas solusi jangka pendek dan jangka panjang terhadap krisis ini. Salah satu usulan yang dibahas adalah memperdalam bagian-bagian saluran navigasi Sungai Rhein agar pengiriman barang dapat terus berlanjut meskipun tingkat air rendah.
Para kritikus memperingatkan bahwa pengerukan dan pendalaman saluran pelayaran lebih lanjut akan mempercepat aliran air, menurunkan tingkat air tanah, dan menyebabkan dataran banjir mengering lebih cepat, yang pada akhirnya tidak banyak membantu menyelesaikan masalah dalam jangka panjang.
Sebaliknya, para pengamat menyerukan perlunya perluasan penggunaan kapal dengan draf rendah, serta peralihan dari angkutan barang melalui laut ke angkutan kereta api. Hagen Koch mendukung pengembangan kapal dengan draf yang lebih dangkal, tetapi menggarisbawahi bahwa perubahan semacam itu membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan.
Bagi Jeanette Völker, solusinya terletak pada pemulihan bagian-bagian sungai di Eropa yang telah mengalami modifikasi besar-besaran. Menghubungkan kembali dataran banjir, melindungi lahan basah, dan memulihkan lahan gambut akan membantu lanskap menampung lebih banyak air serta meningkatkan ketahanan selama kekeringan di masa depan.
Waduk dan bendungan juga dapat berperan di tempat-tempat yang secara lingkungan dapat diterima. Namun, para ahli memperingatkan bahwa adaptasi saja tidak akan cukup. Tanpa upaya perlindungan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat, investasi apa pun bisa jadi hanya setetes air di tengah derasnya arus.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Muhammad Hanafi
Editor: Adelia Dinda Sani










































