Di tengah kekhawatiran meningkatnya ancaman Cina terhadap dominasi teknologi Amerika Serikat (AS), pemerintahan Trump pada hari Selasa (28/7) melarang robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri untuk masuk ke AS.
Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena adanya "risiko terhadap keamanan nasional."
FCC menjelaskan bahwa robot-robot tersebut "mengumpulkan data yang berpotensi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memata-matai warga Amerika." Mereka juga mengkhawatirkan adanya peningkatan kemampuan badan intelijen asing dengan mengambil alih kendali robot tersebut dari jarak jauh.
Langkah ini secara langsung menargetkan Cina, yang menurut bank Inggris Barclays menyumbang sekitar 85% jumlah produksi robot humanoid di dunia pada tahun lalu.
Seberapa serius ancaman keamanan dari robot Cina?
Otoritas AS memperingatkan bahwa robot humanoid dan robot berkaki empat asal Cina dapat mengumpulkan data lokasi dan informasi pribadi secara rinci. Selain itu robot-robot tersebut dapat dikendalikan dari jarak jauh, menimbulkan risiko bagi infrastruktur penting di Amerika Serikat.
Kekhawatiran utama berfokus pada potensi penggunaan ganda (dual-use) teknologi tersebut, yakni untuk keperluan sipil maupun militer.
Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Unitree Robotics. Produsen robot terkemuka asal Cina yang masuk dalam daftar Pentagon sebagai perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer Cina. Robot buatan Unitree diketahui telah digunakan dalam latihan militer.
Para peneliti juga menemukan adanya celah keamanan pada robot Unitree. Salah satunya adalah memungkinkan peretasan melalui perintah suara yang memungkinkan satu robot dapat mengendalikan robot lainnya.
AS juga khawatir penggunaan robot Cina dalam jumlah besar dapat mengumpulkan data di dunia nyata yang kemudian dikirim kembali ke sistem kecerdasan buatan (AI) Cina. Kekhawatiran ini muncul seiring perkembangan AI di Cina yang sangat cepat dan mulai menyaingi para kompetitor dari AS.
Namun, ancaman ini sebagian besar masih bersifat teoritis karena mayoritas robot humanoid komersial masih berada pada tahap awal pengembangan.
Cina juga menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa AS menggunakan alasan keamanan nasional sebagai dalih. Tujuan utama AS sebenarnya adalah menutup pasar serta menekan perkembangan teknologi Cina di sana.
Beijing diperkirakan akan mengambil langkah balasan. Salah satunya adalah pembatasan ekspor bahan baku penting yang dibutuhkan perusahaan robotika AS untuk meningkatkan produksi mereka.
Pemerintahan Trump menunjukan keseriusannya untuk mendukung industri robotika AS. Industri ini juga menopang pembangunan ekosistem AI Amerika yang nilainya mendekati satu triliun dolar atau sekitar 17.900 triliun rupiah.
Menurut para pengamat industri, Trump ingin memastikan perusahaan seperti Figure AI, Tesla Optimus, dan Agility Robotics terlindungi dari produsen Cina. Di sisi lain, perusahaan Cina mampu memproduksi robot dalam jumlah besar dengan harga yang sering kali hanya setengah atau bahkan lebih murah dibandingkan produk asal AS.
Sebelumnya, Washington juga telah menerapkan pembatasan serupa terhadap drone dan panel surya asal Cina.Selain juga mengenakan bea masuk sebesar 100% terhadap kendaraan listrik asal negeri tirai bambu tersebut.
Apakah larangan ini akan membantu perusahaan robot AS mengejar ketertinggalan?
Banyak pihak menilai larangan tersebut merupakan upaya Trump untuk mengulur waktu. AS dinilai terlambat menyadari kecepatan Cina dalam meningkatkan skala produksi robot.
Menurut lembaga riset teknologi Omdia, enam dari sepuluh perusahaan robotika teratas dunia berasal dari Cina. Perusahaan-perusahaan tersebut mengirimkan hampir 11.600 robot humanoid tahun lalu, sementara perusahaan-perusahaan AS hanya mengirimkan beberapa ratus unit saja.
Pada bulan Maret, Bank of America memperkirakan jumlah pengiriman robot humanoid akan mencapai sekitar 90.000 unit pada akhir tahun ini.
Secara umum, AS dianggap lebih unggul dalam mengembangkan "otak" robot melalui teknologi AI yang canggih. Sebaliknya, Cina unggul dalam produksi massal robot yang lebih murah serta memiliki kemampuan gerak lebih baik berkat perangkat mekanis berkualitas tinggi.
Rush Doshi, Direktur Inisiatif Strategi Cina di Dewan Hubungan Luar Negeri AS, menyebut larangan ini sebagai, "salah satu langkah paling signifikan yang diambil untuk mendukung ekosistem robotika Amerika Serikat."
Sementara itu, Evan Beard, CEO Standard Bots, perusahaan yang memproduksi lengan robotik, menilai pemerintahan Trump sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada Cina.
Dalam unggahannya di platform X, Beard menuliskan "robotika adalah teknologi yang harus dipimpin dan dimiliki Amerika. Robot yang diproduksi pihak asing tidak akan diizinkan mendominasi industri robotika AS."
Namun, para kritikus berpendapat bahwa larangan tersebut justru bisa memperlambat inovasi AI di Amerika. Para peneliti saat ini mengandalkan robot dari Cina yang relatif murah untuk melakukan berbagai percobaan.
Salah satunya, Georg Stieler, penasihat industri robotika. Ia menulis di X, "pembatasan memang dapat mengurangi potensi adanya risiko keamanan, tetapi tidak otomatis menciptakan ekosistem industri domestik yang kompetitif."
CNBC mengutip Marc Einstein, Direktur Riset di Counterpoint Research, yang mengatakan bahwa larangan ini merupakan, "kabar buruk bagi produsen robot humanoid Cina yang berencana melakukan IPO dalam beberapa bulan mendatang."
Einstein juga memperingatkan bahwa Beijing dapat mengambil tindakan balasan dengan membatasi penjualan logam tanah jarang kepada perusahaan Amerika dan membatasi akses perusahaan-perusahaan AS seperti Tesla dan Nvidia ke pasar Cina.
Seberapa besar pasar robot humanoid di masa depan?
Barclays memperkirakan bahwa pasar robot humanoid yang saat ini bernilai sekitar 2 hingga 3 miliar dolar atau sekitar 54 triliun rupiah dapat tumbuh hingga 200 miliar dolar atau sekitar 3.600 triliun rupiah pada tahun 2035. Nilai tersebut dirasa dapat tercapai apabila kemampuan AI, mekanik, dan baterai robot terus mengalami peningkatan.
Elon Musk bahkan jauh lebih optimistis. Ia menyatakan bahwa robot Tesla Optimus berpotensi menjadi, "Produk terbesar yang pernah ada."
Menurut Musk, dalam jangka panjang penjualannya bisa mencapai 10 triliun dolar (sekitar 180.000 triliun rupiah).
Jika diproduksi secara massal, Musk memperkirakan harga Optimus yang saat ini sekitar 100.000 dolar dapat turun menjadi sekitar 20.000 hingga 30.000 dolar per unit. Dengan harga tersebut, robot akan cukup terjangkau untuk digunakan di pabrik, gudang, dan pada akhirnya di rumah tangga.
Dari proyeksi Barclays dan target harga jual produk Tesla tersebut menunjukkan kemungkinan penjualan sekitar 7 hingga 10 juta robot humanoid per tahun pada 2035.
Dalam jangka pendek, robot humanoid diperkirakan akan mengambil alih pekerjaan yang repetitif dan menguras fisik seperti di gudang atau pabrik. Di masa depan, penggunaannya dapat meluas ke sektor kesehatan, perawatan lansia, dan berbagai pekerjaan rumah tangga.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Athif Aiman
Editor: Yuniman Farid
Lihat juga Video: Membandingkan Sambutan untuk Trump vs Putin saat Bertemu Xi Jinping
(ita/ita)