Sejarah Vanila yang Tak Seharum Namanya

Sejarah Vanila yang Tak Seharum Namanya

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 28 Jul 2026 16:20 WIB
Sejarah Vanila yang Tak Seharum Namanya
Jakarta -

Kini vanila bisa ditemukan di mana saja dari es krim yang kita makan, sirop pereda batuk, sabun, produk pembersih rumah, hingga parfum.

Ini tak lain berkat vanila sintetis yang lebih murah dan mudah didapat, namun hal ini juga membuat vanila identik dengan sinonim "biasa" atau "sederhana" dalam bahasa Inggris.

Namun tanaman menjalar vanili secara alami adalah salah satu tanaman yang membutuhkan tenaga manusia secara intensif untuk membudidayakannya dan salah satu tanaman yang paling kompleks secara kimiawi, karena mengandung lebih dari 200 senyawa aromatik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai rempah termahal kedua di dunia setelah safron, harganya berkisar antara €90 hingga €550 (Rp1.8 hingga 11,3 juta) per kilogram.

Sejarah vanila sama sekali tidak biasa atau sederhana.

Sejarahnya melibatkan seekor lebah yang tidak menyengat, intrik kolonial, serta kecerdikan seorang buruh anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Edmond Albius, yang penemuannya memperkaya kas kolonial dan mengubah tujuan budidaya vanili di seluruh dunia.

Sejarah asal-usul vanili umumnya dikaitkan dengan Mesoamerika kuno, tempat di mana tanaman anggrek, Vanilla planifolia, merambat dan tumbuh liar di hutan-hutan tropis.

Berbagai komunitas adat memiliki nama masing-masing untuk tanaman ini. Suku Mexica menyebutnya "tlilxochitl," suku Totonac "xanat," dan suku Maya "sisbic." Vanili merupakan komoditas berharga di tengah peradaban tersebut karena kerap digunakan dalam pengobatan, upacara ritual, pengharum kuil, pemberi rasa pada minuman coklat, dan sebagai upeti.

Suku Totonac yang tinggal di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Veracruz di Meksiko, adalah suku yang pertama kali membudidayakan tanaman merambat ini, karena aromanya. Ketika suku Aztek menaklukkan mereka, suku Aztek menuntut vanili sebagai upeti dan menggunakannya untuk memberi rasa "xocolatl," minuman sakral berbahan dasar kakao yang diperuntukkan bagi kaum elite dan prajurit, cikal bakal komoditas cokelat modern.

Pada tahun 1519, Kaisar Aztek Moctezuma Xocoyotzin menyuguhkan minuman ini kepada pasukan Spanyol yang dipimpin oleh Hernn Cortes, tak lama sebelum Spanyol mendirikan pemerintahan kolonial di Meksiko tengah.

Selanjutnya, Spanyol memperkenalkan vanili ke Eropa, di mana vanili pertama kali beredar di istana kerajaan Spanyol melalui resep cokelat yang mereka adopsi dari Meksiko. Vanili segera menyebar ke dapur istana Prancis dan Inggris, di mana vanili mulai digunakan sebagai satu-satunya bahan penyedap dalam beberapa jenis manisan dan kue kering.

Eropa yang kesulitan membudidayakan Vanili

Tanaman anggrek vanili pun dibudidayakan di kebun raya di Prancis dan Inggris, tetapi sekeras apa pun usaha orang-orang Eropa, mereka tidak bisa membuat bunga-bunga tanaman tersebut berbuah.

Para administrator kolonial mengirimkan tanaman merambat ini ke seluruh wilayah kekaisaran mereka ke India, Jawa, Filipina, dan pulau koloni Prancis, Reunion. Tanaman merambat itu tumbuh dan bunganya mekar, tetapi tidak menghasilkan polong-polong vanili. Teka-teki ini bertahan selama hampir tiga abad.

Para petani pun kebingungan mencari alasannya hingga tahun 1836, ketika ahli hortikultura asal Belgia, Charles Morren, mengidentifikasi lebah Melipona yang tidak memiliki sengat sebagai penyerbuk alami vanili, serangga yang secara geografis hanya ada di Meksiko.

Morren sempat berhasil melakukan penyerbukan manual pada vanili di laboratorium, namun metodenya memakan waktu dan tidak dapat diterapkan secara massal di perkebunan kolonial.

Hingga akhirnya Edmond Albius seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang diperbudak di Pulau Reunion, memecahkan masalah tersebut.

Albius dan penemuannya yang sederhana tapi luar biasa

Pada tahun 1841, Albius menemukan cara untuk menyerbuki bunga vanili menggunakan tangan.

Dengan menggunakan ibu jari dan serpihan kayu kecil Albius membuka selaput tipis di dalam bunga yang memisahkan serbuk sari dan putik. Lalu ia menempelkan keduanya hingga bersentuhan. Tak lama kemudian, anggrek tersebut menghasilkan buah vanili.

Sejarawan Eric T. Jennings, penulis buku "Vanilla: The History of an Extraordinary Bean" (2025), telah mencoba teknik tersebut sendiri. "Seperti banyak penemuan brilian lainnya, penemuannya tampak sangat sederhana setelah diketahui. Menyatukan bagian jantan dan betina dari vanili lebih mudah diucapkan daripada dilakukan," katanya kepada DW.

Setelah penemuan Albius, Pulau Reunion (dengan nama sebelumnya Bourbon) sempat mendominasi pasar vanili global. Namun, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, para administrator kolonial Prancis telah menyebarkan metode penyerbukan manual ini ke koloni mereka yang lain, Madagaskar, yang hingga kini masih menjadi produsen vanili terbesar di dunia.

Biji vanili yang ditanam di koloni-koloni Prancis ini kemudian dikenal sebagai vanili Bourbon dinamai sesuai nama wilayah kolonial, Ile Bourbon (pulau Bourbon).

Sang penemu hidup dalam kemiskinan

Teknik Albius kini menjadi standar universal dalam industri vanili global bernilai miliaran dolar. Proses ini tetap merupakan upaya yang lambat, rumit, dan sangat bergantung pada tenaga kerja, karena setiap bunga vanili hanya mekar selama satu hari dan perlu segera diserbuki secara manual.

Namun, Albius tidak pernah memperoleh keuntungan dari industri yang dibangun berdasarkan kecerdikannya. Ia meninggal dalam kemiskinan pada tahun 1880 di usia 51 tahun, sementara kas kolonial Prancis membengkak berkat metode yang ia ciptakan saat berusia 12 tahun.

Jennings, yang melakukan penelitian hingga ke Reunion, mengatakan kepada DW bahwa terdapat dua monumen untuk menghormati Albius yakni sebuah plakat dan patung di kota kelahirannya, Sainte-Suzanne, Pulau Reunion. Beberapa sekolah juga dinamai Albius.

"Namun, menurut saya, kisahnya masih relatif tidak dikenal," kata Jennings, meskipun penemuan Albius telah mengubah masa depan pertanian di Reunion.

"Dia tidak hanya membawa kemakmuran bagi Pulau Reunion dengan menjadikannya produsen vanili terkemuka di dunia dalam waktu 30 tahun sejak penemuannya, tetapi juga membantu mendiversifikasi kembali tanaman di pulau tersebut, yang saat itu sedang mengupayakan monokultur tebu. Monokultur itu mulai menguras dan menguras kesuburan tanah pulau tersebut," jelas Jennings.

Jennings sepakat menyebut kurangnya pengakuan yang layak atau kompensasi finansial atas penemuan Albius disebabkan oleh fakta bahwa Albius adalah seorang remaja yang diperbudak. Meskipun demikian Jennings menekankan bahwa Albius tetap diakui sebagai penemu metode baru, karena seorang ahli botani kulit putih saingannya yang memimpin kebun utama Reunion mencoba mengklaim penemuan tersebut sebagai miliknya, tapi gagal.

"Kita mengetahui detail-detail tentang Edmond Albius dari bantahan yang dilontarkan mantan pemilik dan kenalan Albius terhadap klaim-klaim pihak lain terhadap temuan tersebut," jelas Jennings.

Jauh dari kata biasa

Namun, kisah vanili terus berkembang setelah penemuan besar Edmond. Para ahli kimia berhasil mengisolasi vanilin, senyawa yang menjadi sumber sebagian besar aromanya vanila, pada tahun 1858 dan menyintesisnya pada tahun 1874.

Murah dan mudah diproduksi secara massal, vanilin sintetis dengan cepat menjadi bahan standar dalam es krim, minuman ringan, parfum, kue-kue, dan makanan olahan, mengubah rempah yang dulunya sangat didambakan menjadi rasa yang jarang kita pikirkan dua kali.

Jennings mengatakan substitusi ini mengubah makna dari rasa vanila. Seiring meluasnya konsumsi vanila berkat senyawa sintetis antara tahun 1880 dan 1960, vanila jadi kurang eksklusif, tersebar dengan luas, bahkan terkesan membosankan. "Keseragaman yang mutlak, serta rasa datar yang sempurna dari vanilli sintetis ini menimbulkan efek yang membosankan," kata Jennings mengenai asosiasi bahasa Inggris yang kerap mengartikan vanila dengan kosa kata "biasa saja."

Namun, biji vanili asli, yang mengandung lebih dari 200 senyawa, tidak pernah hambar, begitu pun sejarahnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih



(ita/ita)


Berita Terkait