Di Balik 'Propaganda Pembalasan' Rezim Iran

Di Balik 'Propaganda Pembalasan' Rezim Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 17 Jul 2026 17:09 WIB
Di Balik Propaganda Pembalasan Rezim Iran
Jakarta -

Sejak pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, para pejabat senior Republik Islam Iran semakin menggaungkan retorika mereka.

Para politisi, media yang dikendalikan negara, hingga pemimpin tertinggi Iran yang baru secara terbuka menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.

Menurut gambar yang dipublikasikan media Iran, pada 14 Juli, dalam sidang tatap muka pertama parlemen Iran sejak perang dimulai, para anggota parlemen mengibarkan bendera merah bertuliskan seruan balas dendam. Lebih dari 180 dari total 290 anggota parlemen mendukung tuntutan untuk melakukan pembalasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seruan balas dendam tidak hanya datang dari parlemen.

Media yang mendukung pemerintah juga gencar menggaungkan narasi tersebut. Pada Sabtu (11/07), surat kabar konservatif Hamshahri menerbitkan daftar yang mereka sebut sebagai "orang-orang yang diburu" dengan tajuk "Pembalasan Tak Terelakkan."

Daftar itu memuat 13 politisi dan pejabat militer Barat, termasuk menteri luar negeri, menteri pertahanan, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), hingga Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Perang psikologis?

"Ancaman-ancaman ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai retorika politik," kata pakar hukum sekaligus peneliti hak asasi manusia, Moein Khazaeli, kepada DW.

"Namun, pada saat yang sama, penting untuk membedakan antara kemampuan, niat, dan kemungkinan nyata untuk melaksanakan ancaman tersebut," lanjutnya.

Menurut Khazaeli, pemerintah Iran memiliki beberapa tujuan di balik retorika itu. Sebagian besar ancaman dapat dipandang sebagai bentuk perang psikologis sekaligus strategi penangkalan. Melalui cara ini, rezim berupaya menampilkan aparat militer dan keamanannya yang melemah seolah tetap kuat dan siap beroperasi.

Khazaeli juga menilai, pemerintah Iran ingin mengirim sinyal bahwa mereka dapat menggunakan metode terorisme jika tekanan internasional terus berlanjut. Menurutnya, ancaman itu tidak bisa diabaikan mengingat rekam jejak Republik Islam Iran dalam melakukan operasi di luar negeri.

Koran Hamshahri, yang dimiliki Pemerintah Kota Teheran, dikenal dekat dengan kelompok konservatif. Surat kabar itu termasuk pihak di lingkaran kekuasaan Iran yang menolak perundingan dengan Amerika Serikat dan memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer paling berpengaruh di Iran.

Upaya menunjukkan dukungan terhadap rezim

Aktivis politik Iran, Reza Alijani, mengatakan upacara berkabung untuk Ali Khamenei juga memiliki tujuan politik.Menurutnya, kepemimpinan Iran memanfaatkan momen tersebut untuk kepentingan politik.

Ia mengatakan acara itu bertujuan untuk menunjukkan dukungan terhadap rezim, mengalihkan perhatian dari kemunduran militer, serta melegitimasi kelanjutan konflik atas nama pembalasan.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan pesan tersebut setelah pemakaman ayahnya. Alih-alih menekankan rekonsiliasi atau pembangunan kembali setelah berbulan-bulan perang, ia justru menitikberatkan pada pembalasan.

Sehari setelah masa berkabung selama sepekan berakhir, pernyataan yang dikeluarkan atas namanya, menegaskan akan melanjutkan perjuangan pemimpin sebelumnya.

"Kami bersumpah akan membalas darah sucimu dan darah seluruh syuhada dalam dua perang ini terhadap para pembunuh yang kriminal dan tidak terhormat," tulis pernyataan tersebut.

Menyasar pendukung rezim hingga lawan di luar negeri

Khazaeli mengatakan salah satu sasaran utama dari ancaman tersebut adalah para pendukung rezim sendiri.

"Selama bertahun-tahun, Republik Islam Iran selalu merespons kekalahan militer atau kegagalan di bidang keamanan dengan meningkatkan ancaman. Tujuannya adalah menciptakan kesan bahwa rezim tetap bertekad dan mampu melakukan pembalasan," ujarnya. "Bagi sebagian basis pendukungnya, narasi ini masih dipercaya dan terus diperkuat melalui propaganda negara."

Namun, menurut Khazaeli, pesan-pesan tersebut juga ditujukan kepada audiens internasional. Sasaran mereka bukan hanya pemerintah negara-negara Barat, tetapi juga para penentang Republik Islam Iran di luar negeri, termasuk jurnalis Iran, aktivis politik, pegiat hak asasi manusia, dan kelompok oposisi yang hidup dalam pengasingan sebagai eksil.

Dampak retorika tersebut juga terlihat dari respons terhadap kematian Senator Partai Republik AS, Lindsey Graham. Televisi pemerintah Iran dan sejumlah kanal Telegram yang mendukung pemerintah menyambut kabar kematiannya dengan nada puas, bahkan ada yang menyampaikan ucapan selamat.

Graham dikenal sebagai salah satu politikus AS yang selama bertahun-tahun mendukung kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Republik Islam Iran. Ia juga berulang kali menyerukan serangan militer dan pemboman terhadap Iran.

Artikel pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Tezar Aditya Rahman

Simak juga Video 'Houthi Ancam akan Serang Fasilitas Krusial Milik Arab Saudi':

(ita/ita)


Berita Terkait