×
Ad

AS Perluas Serangan, Iran Ancam Infrastruktur Regional

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 16 Jul 2026 18:09 WIB
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) memperluas serangan terhadap Iran pada Kamis (16/7) dini hari dengan menghantam sasaran yang lebih jauh ke wilayah utara. Pada saat yang sama, militer AS juga menembaki sebuah kapal yang dituduh berupaya menerobos blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap Republik Islam. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Bahrain, Yordania, dan Kuwait menjelang fajar.

Rangkaian serangan saling balas antara Amerika Serikat dan Iran di berbagai kawasan Timur Tengah, disertai ancaman baru terhadap Selat Hormuz, praktis menggagalkan kesepakatan sementara yang sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri perang Iran. Situasi itu berpotensi menyeret kawasan kembali ke perang terbuka.

Menurut pejabat Iran, serangan Amerika telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Untuk pertama kalinya dalam gelombang konflik terbaru ini, serangan juga menjangkau wilayah di sekitar ibu kota Teheran. Seorang juru bicara militer mengancam bahwa "semua infrastruktur di kawasan" akan "hancur dihantam baja" angkatan bersenjata Iran.

Sejak perang AS dan Israel terhadap Iran berkobar pada 28 Februari, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran. Penutupan jalur strategis tersebut memicu lonjakan harga minyak, pupuk, dan berbagai komoditas lain, sekaligus memperkuat posisi tawar Iran dalam perundingan.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan pemerintah Iran akan terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Pada Kamis, dia menyebut kendali Teheran atas jalur perdagangan dunia itu sebagai "pencapaian yang sangat berharga".

Ancaman saling balas kian meningkat

Penutupan Selat Hormuz perlahan menjadi tantangan terbesar bagi Presiden AS Donald Trump dalam Perang Iran. Lonjakan harga bahan bakar kian membebani isu domestik, dimana Trump harus mempertahankan mayoritas kursi di Kongres dalam pemilu sela November mendatang. Pada Rabu (15/7), Washington memberlakukan kembali blokade laut terhadap kapal-kapal Iran di Teluk Oman, yang menutup akses ke Laut Arab dan perairan internasional.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan negaranya siap menghadapi konfrontasi militer yang lebih luas apabila Amerika Serikat tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan sementara. Korps Garda Revolusi pun mengancam akan menutup seluruh ekspor energi dari Timur Tengah sebagai respons terhadap blokade AS.

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan berlaku untuk semua, atau tidak untuk siapa pun," demikian pernyataan Garda Revolusi.

Trump kembali menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan damai, meski tidak menjelaskan lebih lanjut.

"Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan, dan mereka memang ingin menyelesaikan persoalan ini. Kita akan melihat apakah bisa mencapai kesepakatan dengan mereka, atau justru kita menyudahi semuanya," ujar Trump pada Rabu dalam pidato di U.S. Army War College, Pennsylvania.

Secara terpisah, Trump mengklaim melalui media sosial bahwa Teheran telah menunjukkan itikad baik dengan membebaskan seorang warga negara AS yang ditahan sejak 2024, tanpa mengungkapkan rincian lebih lanjut.

Pengacara hak asasi manusia Jared Genser kemudian mengidentifikasi tahanan tersebut sebagai kliennya, Dena Karari, warga negara ganda Amerika-Iran yang tercatat mengelola sebuah organisasi nirlaba dan sebelumnya didakwa melakukan spionase.

Hingga kini, pemerintah Iran belum mengonfirmasi pembebasan tersebut. Kasus Karari juga sebelumnya tidak pernah dipublikasikan, sebagaimana lazim terjadi dalam sejumlah penahanan di Republik Islam itu.

Sementara itu, upaya merajut kembali perundingan AS-Iran masih berlangsung di balik layar, terutama oleh Pakistan yang selama ini menjadi mediator.

"Meski pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) menghadapi berbagai kendala, Pakistan akan terus mendorong semua pihak menghentikan kekerasan dan melanjutkan kembali perundingan di tingkat teknis sesuai dengan ketentuan dalam MoU," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Tahir Andrabi, kepada wartawan di Islamabad.

Serangan meluas ke sejumlah provinsi Iran

Menurut media pemerintah Iran, serangan AS pada Kamis dini hari menghantam sejumlah wilayah di sekitar Teheran. Serangan juga menyasar Provinsi Semnan, lokasi fasilitas produksi rudal balistik dan program antariksa Iran.

Media Iran turut melaporkan serangan di Provinsi Hamedan, Hormozgan, Khuzestan, Lorestan, Markazi, serta Sistan dan Baluchistan.

Sehari sebelumnya, Amerika kembali melancarkan serangan pada siang hari. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan di Pulau Greater Tunb—titik strategis di Selat Hormuz—itu menargetkan fasilitas pertahanan dan rudal Iran.

Militer Amerika juga mengaku menembaki kapal tanker minyak Belma berbendera Curacao yang sedang berlayar menuju Pulau Kharg, terminal utama ekspor minyak Iran di Teluk Persia. Setelah kapal itu disebut mengabaikan sejumlah peringatan, sebuah pesawat tempur Amerika melumpuhkannya dengan menembakkan rudal ke cerobong asap kapal.

Adapun serangan lain pada Rabu menghantam barak Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchistan, satuan yang mengoperasikan tank dan kendaraan lapis baja. Televisi pemerintah Iran melaporkan Amerika menembakkan sedikitnya 13 rudal. Tujuh orang tewas, terdiri atas prajurit wajib militer dan personel aktif, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke Bahrain, Yordania, dan Kuwait pada Kamis dini hari. Ketiga negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika itu belum melaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan.

Di Irak, Perdana Menteri Ali al-Zaidi mengecam serangan drone terhadap Kota Irbil di wilayah otonom Kurdistan pada Kamis malam. Menurut otoritas setempat, drone berhasil dicegat. Tapi, insiden itu terjadi ketika PM al-Zaidi tengah berada di Amerika Serikat dan menyatakan Irak akan berupaya melucuti kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Selat Hormuz tetap kritis

Selama masa berlakunya kesepakatan sementara, sebagian kapal kembali melintas melalui rute di dekat Oman yang berada di bawah pengawasan militer Amerika dan berada di luar kendali Teheran.

Namun dalam beberapa hari terakhir, Iran menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut sehingga memicu aksi saling serang. Amerika Serikat mengancam akan membuka kembali Selat Hormuz dengan kekuatan militer. Meski demikian, para analis menilai langkah itu memerlukan armada laut yang jauh lebih besar, bahkan kemungkinan melibatkan puluhan ribu pasukan darat. Karena itu, pemberlakuan blokade dinilai menjadi alternatif untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Sementara itu, eskalasi konflik di Selat Hormuz ikut memanaskan pasar energi global. Pada Kamis, harga minyak mentah Brent—patokan perdagangan minyak dunia—diperdagangkan di atas US$ 85 per barel. Angka itu lebih dari 15 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah, meski masih jauh di bawah puncaknya yang hampir mencapai US$ 120 per barel saat konflik berada pada fase paling intens.

Editor: Ayu Purwaningsih

width="1" height="1" />

Simak juga Video 'Iran: AS Si Kriminal Terus Melanggar Hukum':




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork