Menurut pemerintah pada Rabu (15/07), ekonomi Cina melambat tajam dengan laju pertumbuhan tahunan sebesar 4,3% pada kuartal kuartal kedua. Angka tersebut menjadi yang terlemah dalam lebih dari tiga tahun.
Data resmi itu berada di bawah perkiraan dan jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan 5% pada kuartal Januari-Maret. Padahal, ekspor melonjak berkat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta tingginya permintaan global terhadap kendaraan listrik buatan Cina.
Beijing juga dinilai mampu meredam dampak ekonomi akibat perang Iran, meski lonjakan harga energi mendorong inflasi global. Berdasarkan data bea cukai, ekspor Cina naik 17,6% pada paruh pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu, dan melonjak 27% pada Juni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, konsumsi domestik dan investasi masih tertinggal sehingga membatasi dorongan terhadap perekonomian dari sektor ekspor.
Cina terlalu fokus dengan teknologi mutakhir
Sejumlah ekonom menilai, perekonomian Cina semakin tidak seimbang karena dukungan negara dan investasi swasta terkonsentrasi pada teknologi mutakhir seperti AI, semikonduktor, dan robotika. Sementara itu, sektor lain seperti manufaktur bernilai tambah rendah dan industri jasa yang banyak menyerap tenaga kerja justru tertinggal.
Ekspor produk teknologi tinggi seperti kendaraan listrik, semikonduktor, dan peralatan elektronik lainnya meningkat tajam. Kenaikan ini didorong oleh besarnya dukungan pemerintah setelah para pemimpin Cina memprioritaskan pengembangan teknologi canggih.
Tahun lalu, Cina mencatat surplus perdagangan global sebesar 1,2 triliun dolar AS (Rp21.688 triliun). Jumlah ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memicu keluhan dari para pembuat kebijakan di berbagai negara terkait ketidakseimbangan perdagangan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Banyak pihak menilai, subsidi besar dari pemerintah Cina menyebabkan kelebihan produksi barang manufaktur. Ini kemudian diekspor ke pasar global.
Perkembangan AI dan robotika mengkhawatirkan
Seperti di banyak negara lain, pesatnya perkembangan AI dan robotika memunculkan kekhawatiran soal lapangan kerja. Hal yang mengkhawatirkan adalah apakah usaha dapat memberi lapangan kerja yang cukup.
Keluarga-keluarga di Cina juga mengurangi belanja untuk pembelian besar. Keinginan mereka untuk berbelanja masih tertahan akibat krisis berkepanjangan di sektor properti. Adapun ketidakpastian mengenai lapangan pekerjaan dan tingkat upah.
Wakil Kepala Biro Statistik Nasional Cina Mao Shengyong mengatakan bahwa ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan di dalam negeri masih menjadi persoalan serius. Terutama di tengah situasi global yang semakin tidak pasti.
Cina berupaya jaga stabilitas lapangan kerja
Ia mengatakan, Cina akan terus membangun pasar domestik yang kuat dan memberikan dukungan untuk menjaga stabilitas lapangan kerja. Hal ini dilakukannya karena Cina berfokus pada manufaktur berteknologi tinggi dan upaya mendorong "pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas."
Kepala Investasi Multi-Aset BNP Paribas Securities (Cina) Wei Li mengatakan ekonomi Cina tengah mengalami "transisi yang signifikan."
Sepanjang 2026, pemerintah Cina menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5β5%. Lebih rendah dibanding target 5% pada tahun lalu.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,6%. Meski demikian, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,1% pada 2027.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Rizki Nugraha
Simak juga Video 'Purbaya: Kita Bersyukur di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Masih Terjaga':
(ita/ita)









































