Industri pertahanan Korea Selatan sempat terpukul oleh keputusan pemerintah Kanada yang memilih desain kapal selam buatan Jerman untuk generasi kapal selam berikutnya. Namun, mereka bergerak cepat untuk kembali merebut pangsa pasar dari belanja pertahanan global yang terus meningkat.
Korea Selatan sudah lama mempertahankan sektor pertahanan yang kuat, sebagai upaya melindungi negara dari rezim yang agresif dan sulit diprediksi di perbatasannya dengan Korea Utara.
Namun, dalam satu dekade terakhir, pemerintahan yang silih berganti di Seoul juga makin gencar mengembangkan pasar ekspor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Strategi itu terbukti membuahkan hasil sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.
"Korea Selatan berada dalam situasi politik dan geopolitik yang unik karena keberadaan Korea Utara dan ketergantungan besar kami pada kehadiran militer Amerika Serikat (AS) untuk keamanan," kata Park Saing-in, ekonom di Seoul National University.
"Namun, pemerintah terus berusaha lebih mandiri dalam menyediakan perlengkapan bagi angkatan bersenjata kami, dengan menggelontorkan dana besar untuk riset dan pengembangan di perusahaan-perusahaan pertahanan, sehingga mereka bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain," katanya kepada DW.
Menjelma jadi eksportir senjata utama
Peralatan kelas atas tetap dibeli dari Amerika Serikat , seperti jet tempur siluman F-35 Lightning II. Namun, produsen senjata Korea Selatan sudah semakin mahir memproduksi sistem senjata dan perlengkapan kelas menengah yang bisa dikirim cepat ke pembeli dengan biaya relatif rendah, karena lini produksinya sudah lebih dulu tersedia.
Rudal permukaan-ke-udara jarak menengah Cheongung-II, misalnya, dirancang untuk mencegat rudal balistik dan pesawat pada jarak hingga 40 kilometer. Mirip dengan Patriot buatan AS, Korea Selatan menjual 10 baterai sistem ini ke Uni Emirat Arab (UEA) pada 2022, dan sistem tersebut menarik perhatian analis pertahanan setelah mencatat tingkat keberhasilan intersepsi 96% dalam serangan rudal awal di konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.
Setiap unit pencegat diperkirakan berharga 1,1 juta dolar AS (Rp19,8 miliar), jauh lebih murah dibanding pencegat Patriot yang harganya bisa mencapai beberapa juta dolar per unit. Produsennya pun bisa mengirim sistem lengkap dalam waktu sekitar satu tahun, sementara waktu pengiriman baterai Patriot minimal empat tahun.
Alhasil, dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan menjelma jadi salah satu negara pengekspor senjata terbesar di dunia. Pada 2025, ekspor senjatanya mencapai 15,4 miliar dolar AS (Rp278,2 triliun), menurut Seoul Economic Daily yang mengutip data Defense Acquisition Program Administration (DAPA). Ekspor sempat mencapai puncaknya di angka 17,3 miliar dolar AS (Rp312,5 triliun) pada 2022.
Perusahaan-perusahaan Korea Selatan juga memperluas jenis produk yang mereka tawarkan. Dulu, negara ini mengandalkan warisan industri perkapalannya untuk memproduksi kapal perang, ditambah sistem artileri dan pesawat. Kini bidang itu meluas ke kendaraan lapis baja, rudal, dan sistem pertahanan udara.
Eropa jadi pasar utama bagi Korea Selatan
Negara-negara Eropa, yang terguncang oleh agresi Rusia terhadap Ukraina dan melemah akibat bertahun-tahun kurang berinvestasi di sektor pertahanan, menjadi pasar utama.
Polandia menjadi pembeli terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menyumbang lebih dari 40% total ekspor Korea Selatan. Warsawa memesan 364 unit howitzer self-propelled K9 Thunder kaliber 155mm yang dimodifikasi, serta 360 unit tank tempur utama K2 Black Panther, yang diakui sebagai salah satu tank paling mumpuni di dunia.
Polandia juga membeli peluncur roket berganda K239 Chunmoo, 48 unit pesawat tempur dan latih ringan FA-50, serta 1.266 unit kendaraan tempur penggerak empat roda "Legwan".
Perombakan besar-besaran alutsista Polandia ini memungkinkan Warsawa menyerahkan peralatan lama era Soviet miliknya ke Ukraina.
Di belahan Eropa lain, Finlandia, Estonia, Norwegia, dan Rumania sama-sama membeli howitzer K9, sementara kesepakatan untuk tank K2 dan kendaraan tempur infanteri Redback juga diharapkan menyusul. Kendaraan tempur infanteri itu pun dibeli oleh Angkatan Darat Australia lewat kesepakatan senilai 2,4 miliar dolar Australia (Rp30,3 triliun).
Kesepakatan untuk rudal, kapal perang, dan pesawat
Selain UEA, Arab Saudi telah membeli sistem pertahanan rudal Cheongung-II, dan Irak diperkirakan akan mengikuti jejaknya. Vietnam dan Filipina tengah berunding soal kapal patroli militer dan pesawat FA-50. Peru sudah menandatangani kesepakatan dengan Hyundai Heavy Industries untuk proyek angkatan laut, dan tengah membahas pembelian tank K2 serta kendaraan lapis baja K808.
Pada Mei lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menghadiri seremoni peluncuran perdana jet tempur KF-21 buatan dalam negeri, proyek yang juga melibatkan Indonesia dan diharapkan akan dibeli Indonesia dalam jumlah tertentu.
"Kekuatan perusahaan senjata Korea Selatan terletak pada kemampuan mereka memproduksi perlengkapan berkualitas tinggi, dengan waktu pengerjaan singkat, dan harga yang relatif murah," kata Park.
"Dan itu penting bagi perekonomian secara keseluruhan, karena Korea Selatan sudah lama terlalu bergantung pada enam atau tujuh sektor saja," katanya. "Meski Korea Selatan masih kuat di semikonduktor, mobil, dan kapal, tapi kami sudah kehilangan sektor-sektor lain, seperti bahan kimia, ke tangan Cina."
Chun In-bum, jenderal purnawirawan Angkatan Darat Korea Selatan yang kini menjadi peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies, mengatakan perusahaan-perusahaan Korea Selatan sebelumnya sudah terbukti sukses mengenali dan menyempurnakan produk rumah tangga seperti televisi, lalu menjualnya dengan harga lebih murah dibanding pesaing asing.
Ia menekankan bahwa hal serupa kini terjadi di sektor peralatan militer.
"Kami adalah negara manufaktur yang kuat, terbuka terhadap teknologi asing, dan pandai mengejar ketertinggalan dari negara lain," katanya, seraya menambahkan bahwa upaya ini menjadi semacam keharusan nasional mengingat ancaman yang ditimbulkan Korea Utara.
Keunggulan di medan perang
Tidak semua sistem senjata buatan dalam negeri berhasil. Chun menyoroti kekurangan pada helikopter buatan Korea Selatan. Meski begitu, negara-negara asing dengan cepat mengenali sistem senjata mana yang bisa memberi mereka keunggulan di medan perang, dan langsung membelinya dalam jumlah signifikan.
"Mungkin bukan yang terbaik di dunia, tapi tersedia dengan cepat, terbukti berfungsi, harganya bersaing, dan biasanya sudah termasuk paket perawatan sistem ke depannya," katanya. "Bagi negara yang butuh sesuatu segera, itu semua sangat menarik."
Park menambahkan catatan waspada soal sektor pertahanan ini. Bisnis sedang berkembang pesat di tengah ketidakpastian global yang belum pernah terjadi sebelumnya, tapi sektor ini tidak bisa mengandalkan kondisi itu bertahan selamanya.
"Perusahaan-perusahaan Korea saat ini berkinerja baik, tapi dalam jangka panjang, saya memperkirakan negara-negara Eropa dan anggota NATO lain akan berusaha membangun industri pertahanan mereka sendiri untuk memenuhi permintaan lebih lanjut," katanya.
"Karena itu penting bagi Korea Selatan untuk terus mendorong terciptanya kemitraan yang lebih dari sekadar jual-beli, tapi meluas ke riset dan pengembangan bersama, produksi, serta penempatan sistem senjata."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh: Alfi Milano Anadri
Editor: Melisa Lolindu
Lihat juga Video: Hadapi Korea Utara, Korsel Bentuk 500 Ribu Prajurit Drone











































