Satu orang tewas dalam insiden penembakan yang melibatkan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) atau Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (AS) di Kota Biddeford, Maine, pada Senin (14/07). Ketua DPR Negara Bagian Maine, Ryan Fecteau, mengonfirmasi kejadian tersebut melalui unggahan di Facebook.
"Pagi ini terjadi penembakan di Biddeford. Satu orang tewas. ICE terlibat," tulis Fecteau.
Kepolisian Biddeford menolak memberikan keterangan lebih lanjut dan mengarahkan pertanyaan kepada ICE. Hingga kini, lembaga tersebut belum memberikan tanggapan resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Biro Investigasi Federal (FBI) menyatakan telah mengirim personel ke lokasi untuk membantu penyelidikan. Namun, FBI belum mengungkapkan rincian mengenai kronologi maupun identitas korban.
Kronologi kejadian
Senator dari Maine, Angus King, mengatakan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, memberitahunya bahwa agen ICE melepaskan tembakan setelah seorang lelaki yang menjadi target deportasi diduga berusaha menggunakan mobilnya untuk menyerang petugas yang sedang mengejarnya.
King mengatakan para agen yang terlibat dalam penembakan tidak menggunakan kamera perekam yang terpasang di seragam mereka saat insiden terjadi, sehingga tak ada rekaman visual dari kejadian.
Seorang saksi mata, Lucas Scott, mengatakan kepada media lokal bahwa ia mendengar empat kali tembakan setelah sejumlah agen ICE mengepung sebuah mobil berwarna putih.
Menurut kelompok advokasi isu hak imigran, termasuk akses layanan, perlindungan hukum, dan pendampingan bagi komunitas imigran, "Maine Immigrants' Rights Coalition and Presente!", korban adalah lelaki berusia 26 tahun asal Kolombia. Mereka menyebut korban memiliki izin kerja resmi di AS serta terdaftar dengan nomor Jaminan Sosial.
Aktivis pembela hak imigran Project Relief juga mengonfirmasi bahwa salah satu anggota komunitas mereka tewas dalam insiden tersebut. Melalui media sosial, organisasi itu menyatakan telah berkomunikasi dengan keluarga korban.
"Ini adalah seorang anak muda yang hidupnya berakhir terlalu cepat," tulis Project Relief, sambil menyerukan agar kasus tersebut diusut dan keluarga korban mendapat dukungan.
Sementara itu, Gubernur Maine Janet Mills mengatakan telah menerima laporan mengenai penembakan yang melibatkan aparat penegak hukum federal. Ia menambahkan, otoritas negara bagian kini bekerja sama dengan pemerintah federal untuk menyelidiki kronologi insiden tersebut.
Meningkatnya operasi penindakan imigrasi Trump
Penembakan di Maine terjadi hanya beberapa hari setelah agen ICE menembak seorang lelaki saat pemeriksaan kendaraan di Texas. Pejabat setempat kemudian menyatakan lelaki tersebut bukan target utama dalam operasi tersebut.
Jika korban di Maine tewas akibat tembakan agen ICE, insiden ini akan menjadi kematian kesembilan yang terkait dengan operasi aparat imigrasi federal sejak Presiden Donald Trump memperketat kebijakan imigrasinya. Kasus itu juga termasuk penembakan terhadap Alex Pretti dan Renee Good di Minnesota, yang juga tewas dalam insiden yang melibatkan aparat federal terkait penegakan imigrasi.
Insiden ini juga terjadi di tengah gencarnya kampanye anti-imigrasi yang baru-baru ini ditingkatkan oleh pemerintahan Trump. Penembakan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya operasi penindakan imigrasi oleh pemerintahan Trump.
Sejak awal Juni 2026, penangkapan yang dilakukan ICE di Maine telah meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi sekitar 70 kasus per hari pada awal Juli. Statistik tersebut merupakan data internal ICE yang dibagikan kepada kantor berita Reuters oleh sebuah sumber.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu
Editor: Muhammad Hanafi











































