Kenapa Negara Teluk Paling Rugi Saat AS-Iran Berperang?

Kenapa Negara Teluk Paling Rugi Saat AS-Iran Berperang?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 10 Jul 2026 12:55 WIB
Kenapa Negara Teluk Paling Rugi Saat AS-Iran Berperang?
Jakarta -

Sekali lagi, negara-negara di kawasan Teluk berada di garis depan dalam ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada KTT NATO di Ankara pada Rabu (8/7), Presiden Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan sementara AS untuk gencatan senjata tersebut telah "berakhir". Sementara itu, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa telah terjadi pelanggaran besar terhadap kesepakatan tersebut, yaitu nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara pada pertengahan Juni.

Tak lama berselang, AS membombardir sejumlah lokasi di Iran. Iran kemudian membalas dengan menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Seluruh negara di kawasan Teluk berpotensi mengalami kerugian jika konflik kembali meningkat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahrain

Bahrain menjadi lokasi pangkalan utama Angkatan Laut AS. Dalam serangan terbaru Iran, negara ini menjadi sasaran langsung.

Karena Bahrain merupakan salah satu negara Teluk yang berukuran kecil, instalasi militer AS berada lebih dekat dengan kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Akibatnya, konflik berskala terbatas sekalipun dapat mengganggu kehidupan masyarakat sipil.

Dari sisi politik, posisi Bahrain juga cukup rumit. Seperti negara-negara Teluk lainnya, Bahrain adalah kerajaan yang menekan sebagian besar bentuk perbedaan pendapat politik. Namun, berbeda dengan negara Teluk lainnya, keluarga kerajaan Bahrain beraliran Sunni, sementara diperkirakan mayoritas penduduknya beraliran Syiah.

Iran sendiri merupakan negara teokrasi Syiah. Konflik yang terus berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memicu ketegangan di dalam negeri Bahrain. Pemerintah Bahrain telah menangkap ratusan orang yang diduga mengunggah pesan anti-perang di media sosial, menyatakan simpati kepada Iran, mengikuti demonstrasi, atau yang dituduh sebagai mata-mata Iran.

Kuwait

Kuwait menampung jumlah pangkalan militer AS terbanyak di Timur Tengah. Di negara ini terdapat dua pangkalan udara serta sekitar 13.500 personel, termasuk kontraktor sipil. Kondisi tersebut menjadikan Kuwait sebagai target serangan Iran.

Sebelumnya, Kuwait cenderung berhati-hati dalam kebijakan luar negerinya. Negara ini sering berperan sebagai mediator dan menegaskan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung. Pengalaman invasi Irak pada 1990 menjadi salah satu faktor yang membentuk kebijakan luar negeri Kuwait sehingga jauh lebih berhati-hati dibandingkan dengan negara-negara tetangganya.

Namun, serangan Iran terhadap Kuwait akibat keberadaan pangkalan militer AS diperkirakan akan memengaruhi pendekatan tersebut. Sejumlah pengamat mencatat bahwa protes pemerintah Kuwait terhadap serangan Iran kini disampaikan dengan nada yang lebih tegas.

Arab Saudi

Meskipun pejabat Iran telah menyatakan bahwa tidak ada negara yang menampung pasukan AS dengan aman dari serangan, hingga pekan ini Iran belum menyerang Arab Saudi. Padahal, Arab Saudi juga menjadi lokasi pangkalan utama Angkatan Udara AS.

Setelah bertahun-tahun bersaing dengan Iran untuk memperebutkan pengaruh di kawasan, Arab Saudi kini menekankan bahwa diplomasi merupakan satu-satunya cara agar negara-negara Teluk dapat hidup berdampingan secara damai.

Arab Saudi juga lebih memilih memusatkan perhatian pada target ekonominya melalui program Vision 2030 daripada terlibat dalam perang yang, menurut mereka, tidak pernah diinginkan.

Menurut para ahli, prioritas utama Arab Saudi adalah mencegah konflik meluas sekaligus melindungi infrastruktur minyak yang merupakan aset strategis negara. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran telah memaksa Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya, sumber pendapatan utama negara, melalui jalur pipa menuju Laut Merah.

Secara umum, pejabat Arab Saudi berusaha menjaga keseimbangan dalam konflik ini. Mereka tetap berkomunikasi langsung dengan Iran maupun Amerika Serikat. Pada satu tahap, Arab Saudi dilaporkan menolak memberikan akses ke wilayah udaranya kepada AS untuk menyerang Iran. Namun, laporan lain kemudian menyebutkan bahwa Arab Saudi juga melakukan serangan terhadap Iran tanpa dipublikasikan.

Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab juga menjadi lokasi pangkalan udara penting milik AS. Iran sebelumnya pernah menyerang negara ini, tetapi belum melakukannya kembali dalam konflik pekan ini.

Meski demikian, berlanjutnya konflik di Timur Tengah berisiko merusak reputasi Abu Dhabi dan Dubai sebagai pusat keuangan dan perdagangan internasional. Reputasi tersebut sangat penting bagi strategi ekonomi Uni Emirat Arab yang semakin berupaya mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak.

Uni Emirat Arab juga mampu mengalihkan sebagian ekspor minyaknya dari Selat Hormuz melalui jaringan pipa darat. Namun, konflik yang berlangsung lama tetap berpotensi mengganggu jalur tersebut.

Qatar

Qatar menjadi lokasi Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah. Di sisi lain, Qatar memiliki hubungan yang relatif baik dengan Iran, yang sama-sama berbagi ladang gas alam terbesar.

Iran belum menyerang Qatar secara langsung pada pekan ini. Namun, serangan Iran sebelumnya terhadap sebuah kapal Qatar di laut menjadi salah satu insiden yang memicu gelombang serangan terbaru.

Sejumlah analis menyebut diplomat Qatar sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Mereka kerap berperan sebagai mediator dalam konflik AS-Iran, termasuk membantu merumuskan nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran pada Juni lalu.

Oman

Oman tidak menjadi lokasi pangkalan militer utama AS. Negara ini mempertahankan hubungan baik dengan Amerika Serikat maupun Iran, serta sering memfasilitasi diplomasi tertutup (backchannel diplomacy) antara kedua pihak.

Seperti Qatar, Oman juga memiliki peluang untuk kembali menyediakan ruang bagi perundingan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Peran tersebut diperkirakan akan tetap penting dalam waktu dekat.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

(ita/ita)


Berita Terkait