Thong Phet berstatus biksu muda di usia 18 tahun ketika satu tebasan parang di ladang mengubah hidupnya. Tanpa sadar, bilah parangnya menghantam sebuah bom sisa perang, sehingga memicu ledakan.
"Seorang teman membawaku ke rumah sakit. Aku tetap sadar sepanjang waktu. Mereka harus mengamputasi lengan kiriku di bawah siku, dan tangan kananku juga terluka parah," ceritanya kepada DW.
Hingga kini, tim ahli dari Program Nasional Laos untuk Penanganan Bahan Peledak yang Belum Meledak, bekerja secara sistematis menyisir salah satu ladang milik Thong Phet di pinggiran desa Ban Napia, di timur laut Laos.
Tahun 1973 merupakan masa mencekam di seluruh Provinsi Xiangkhouang, kata dia. Penyebabnya adalah perang yang berkecamuk di Vietnam, sekitar 100 kilometer ke arah timur.
Laos tidak secara resmi terlibat dalam Perang Vietnam, yang berkecamuk antara pemberontak komunis di utara melawan Amerika Serikat di selatan. Namun, negeri pegunungan itu digunakan sebagai jalur logistik oleh tentara pemberontak untuk memindahkan senjata dan perbekalan ke selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini cukup menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk melancarkan hujan bom berskala masif di Laos. Serangan itu ikut meluluhlantakkan Provinsi Xiangkhouang yang saat itu merupakan basis kekuatan gerakan komunis Pathet Lao.
Lebih dari 2 juta ton bahan peledak dijatuhkan oleh AS antara tahun 1964 hingga 1973, menjadikan Laos sebagai negara yang paling banyak dibom di dunia jika dihitung per kapita. Jenis bahan peledak yang digunakan mencakup amunisi pembakar, roket, hingga bom seberat 907 kilogram. Namun, senjata yang paling menakutkan bagi penduduk setempat adalah bom klaster.
Ancaman bom klaster
Dirancang untuk hancur di udara, bom klaster melepaskan hingga 600 bom mini, masing-masing berukuran lebih kecil dari kepalan tangan, yang mampu mencemari area seluas beberapa lapangan sepak bola. Diperkirakan 270 juta submunisi ini, yang dikenal warga setempat sebagai "bombies", dijatuhkan oleh AS di Laos, tapi 30% di antaranya gagal meledak. Banyak yang masih terkubur di tempat jatuhnya setengah abad lalu dan terus menjadi ancaman bagi penduduk setempat.
"Saya masih ingat jelas saat bom-bom itu dijatuhkan," kata Phet. "Saya ingat pernah melihat pesawat-pesawat terbang mendekat dan bersembunyi di gua-gua di dekat sini bersama orang tua saya ketika saya masih kecil."
Kini Phet berharap tim penjinak bom (UXO) akhirnya bisa memastikan salah satu ladangnya aman.
Ladang-ladang yang bergelombang ditandai dengan potongan-potongan pita merah yang berkibar tertiup angin. Dua perempuan yang mengenakan seragam lapangan UXO Laos membawa detektor di atas hamparan rumput yang tampak biasa saja, lalu berhenti ketika sinyal terdeteksi. Mereka menandai lokasi tersebut dan melanjutkan perjalanan.
Di belakang mereka, anggota tim lain menyusul dengan detektor logam yang lebih kecil untuk menentukan lokasi target secara lebih tepat. Dengan sangat hati-hati, ia menggali di sekitar lokasi hingga sumber sinyal bisa diidentifikasi.
Kadang yang ditemukan hanyalah serpihan logam. Kadang sisa senjata yang sudah meledak lama dan tidak berbahaya. Namun sering kali, yang tersembunyi di sana adalah 'bombie.'
Menjinakkan bahaya
Setiap temuan 'dipagari' dengan hati-hati menggunakan karung pasir, muatan peledak kecil, dan tanda peringatan bergambar tengkorak. Di penghujung setiap hari kerja, sebuah peringatan berbunyi lewat pengeras suara, bergema ke seluruh lembah, dan memperingatkan penduduk setempat tentang apa yang akan terjadi.
Terdengar suara ledakan keras, dan tiga kepulan asap serentak mengepul ke udara dari temuan hari itu.
Dalam waktu satu minggu saja, tim yang beranggotakan tujuh orang ini telah menjinakkan 19 bombie dan lima peluru kaliber besar yang ditemukan dari lahan pertanian seluas 10.594 meter persegi.
Namun, area yang belum dibersihkan masih sangat luas. Desa ini mencakup lebih dari 23.000 hektar lahan, dengan upaya pencarian sebelumnya berhasil menemukan lima bom besar dan lebih dari 6.000 bombie.
Dan jelas diperlukan upaya lanjutan, karena desa tersebut telah kehilangan lima warganya akibat bahan peledak yang belum meledak. Risiko juga mengintai tim penjinak bom itu sendiri, dengan dua ahli UXO Laos tewas dalam ledakan pada 2002.
Begitu ladang Phet dinyatakan aman, tim ini akan bergerak ke petak lahan berikutnya yang sudah diberi tanda pita merah.
Penghambat pembangunan
"Bahan peledak sisa perang (UXO) merupakan hambatan besar bagi pembangunan di Laos karena membuat segala sesuatunya menjadi lebih mahal dan lambat, mengingat lahan harus disurvei dan dibersihkan untuk memastikan tidak ada risiko," kata Martine Therer, perwakilan tetap Program Pembangunan PBB (UNDP) di Laos, kepada DW.
Berbicara di kantornya di Vientiane, Therer mengatakan bahwa Laos adalah salah satu dari segelintir negara di dunia yang mengadopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-18, "Kehidupan yang Aman dari Senjata yang Belum Meledak," yang berfokus pada pencapaian target yang terukur sehingga UXO tidak lagi menghambat pembangunan manusia dan upaya pengentasan kemiskinan di provinsi-provinsi pedesaan.
"Jika Anda melihat peta kemiskinan, jelas terlihat bahwa daerah-daerah ini sebagian besar tumpang tindih dengan daerah-daerah yang memiliki tingkat kontaminasi UXO yang tinggi," kata Therer. "Jelas bahwa jumlah korban telah menurun, tetapi masih ada rasa takut di masyarakat ini.
"Para petani secara rutin mempertaruhkan nyawa mereka saat membajak sawah, menggali, atau membersihkan semak belukar, di sebuah negara di mana lebih dari 70% penduduk pedesaan menggantungkan hidup pada pertanian dan sumber daya alam," katanya.
"UXO berdampak langsung pada upaya menghasilkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan," kata Therer, "karena lahan yang terkontaminasi sebenarnya bisa dimanfaatkan secara produktif untuk pertanian, pengembangan industri dan pariwisata, serta pembangunan infrastruktur."
Pada tahun 1980-an, korban UXO mencapai ribuan orang setiap tahunnya.
Upaya penjinak bom dan kampanye edukasi menyeluruh di komunitas pedesaan telah menekan angka itu secara drastis. Pada 2015, misalnya, tercatat 44 insiden UXO di seluruh Laos dengan sembilan korban jiwa. Lima tahun kemudian, angka itu turun menjadi 33 insiden dan tujuh kematian. Pada 2025, tercatat enam kematian dalam 25 ledakan.
Angka-angka ini memang kecil dibandingkan kematian dari penyebab lain, dengan lebih dari 900 korban jiwa di jalan raya Laos setiap tahunnya. Namun pemerintah menegaskan komitmennya untuk memimpin upaya global memberantas ancaman senjata tak meledak terhadap warga sipil.
Laos akan menjadi tuan rumah Konferensi Tinjauan Ketiga Konvensi Munisi Klaster selama empat hari pada September mendatang. Konvensi yang awalnya diadopsi pada Mei 2008 ini telah diratifikasi oleh 112 negara. Perjanjian ini mewajibkan negara penandatangan untuk tidak pernah menggunakan, mengembangkan, memproduksi, atau menimbun munisi klaster. Namun secara signifikan, Amerika Serikat, Rusia, dan Cina tidak termasuk dalam daftar penandatangan.
"Sejak awal, Laos telah menjadi juara konvensi ini, dan saya melihat pertemuan ini sebagai kesempatan bagi Laos untuk menunjukkan apa yang bisa dicapai," kata Therer. "Mungkin terlihat kecil dibandingkan besarnya masalah, tapi mereka sudah melakukan begitu banyak dalam 30 tahun terakhir, dan ini adalah kesempatan untuk memperlihatkan seluruh perjalanan itu, sekaligus apa yang masih harus dilakukan."
Edukasi warga desa
Elemen kunci dari kampanye ini selalu berupa edukasi. Warga desa Ban Napia baru-baru ini berkumpul di sekolah setempat untuk menghadiri presentasi dari UXO Lao.
Para orang dewasa di desa ini telah menghabiskan seluruh hidup mereka di bawah bayang-bayang amunisi, kata Thong Kham, ketua tim Edukasi Risiko Senjata Peledak.
Meski memperkuat pesan-pesan utama tidak pernah ada salahnya, sasaran utama presentasi ini adalah anak-anak yang penasaran dan kerap bermain di ladang dan hutan sekitar desa.
"Banyak amunisi dijatuhkan di sekitar desa antara 1964 dan 1973, tapi kami perkirakan hingga 30% tidak meledak," katanya. "Amunisi-amunisi itu masih berdampak pada komunitas-komunitas ini. Warga di sini mengandalkan pertanian, dan keberadaan UXO di lahan mereka menghambat perkembangan lokal dan kehidupan mereka."
Salah satu instruktur Kham menggunakan penunjuk untuk memperlihatkan kepada anak-anak jenis bom, roket, dan peluru yang mungkin mereka temui, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Jangan pernah menyentuh benda mencurigakan, katanya, dan segera laporkan ke orang dewasa. Jangan pernah mencoba membuka senjata, dan gunakan sekop dengan hati-hati saat menggali, bukan cangkul. Dan jangan pernah menyalakan api di tanah di area yang belum dibersihkan dari UXO, karena panas bisa memicu ledakan.
Anak-anak memperhatikan dengan saksama dan mengulang aturan-aturan itu bersama-sama. Tim Kham hanya bisa berharap mereka benar-benar menyerap pelajaran itu.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Rizki Nugraha
Simak juga Video: Geger Ledakan Bom di Suriah: Kondisi Macron Dipastikan Aman











































