Meja kerja di dekat jendela biasanya dianggap anugerah saat musim dingin di Jerman, karena berlimpah sinar matahari dan kehangatan. Tetapi pada musim panas, terlebih tanpa pendingin udara, tempat yang sama bisa berubah menjadi ruang yang menyiksa.
Akibat perubahan iklim, gelombang panas hingga 40 derajat Celsius kini makin sering melanda Jerman, dengan durasi yang kian lama. Celakanya, penggunaan AC masih tergolong terbatas, hanya sekitar 6% rumah tangga yang berpendingin ruangan. Berbeda dengan Amerika Serikat atau banyak negara Asia, tempat pendingin udara hampir menjadi perlengkapan standar.
"Di negara-negara utara, bangunan biasanya dirancang untuk menyimpan panas karena musim dinginnya sangat dingin," jelas ekonom Katharina Utermöhl dari Allianz, yang ikut menulis studi tentang dampak panas terhadap ekonomi Jerman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut studi tersebut, panas ekstrem bisa menciptakan kerugian besar karena produktivitas menurun dan biaya energi meningkat. Artinya, gelombang panas kini bukan lagi sekadar fenomena cuaca, melainkan sudah menjadi masalah serius bagi ekonomi.
Tubuh manusia tidak dirancang untuk bekerja nyaman pada suhu di atas 30 derajat Celsius, apalagi bila tidak terbiasa. Konsentrasi menurun, tubuh bercucur keringat, dan sistem peredaran darah bekerja lebih keras.
Menurut Utermöhl, dampaknya terhadap dunia kerja juga bisa diukur:
- Di atas 30°C, produktivitas turun sekitar 3% setiap kenaikan 1 derajat
- Biaya energi naik sekitar 1,2% setiap kenaikan 1 derajat
Orang bekerja lebih lambat, lebih sering membuat kesalahan, dan mesin bisa mengalami panas berlebih. Jika menggunakan AC, listrik yang dibutuhkan lebih banyak dan lebih mahal. Panas paling berat dirasakan oleh mereka yang bekerja di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, petani, dan kurir. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan Jerman:
- Jumlah pekerja yang sakit meningkat sekitar 3,5% saat suhu di atas 30 °C
- Bisa naik hingga 6% jika gelombang panas berlangsung lama
Kondisi ini tentu ikut menurunkan produktivitas kerja. Menurut studi Allianz, kerugian ekonomi Jerman pada periode 2026 hingga 2030 bisa mencapai sekitar 131 miliar dolar AS (sekitar Rp2.353 triliun). Bahkan, produk domestik bruto (PDB) berpotensi turun hingga 3%. Penurunan keuntungan ini bisa membuat perusahaan menahan investasi, yang pada akhirnya melemahkan produktivitas dan daya saing di masa depan.
Juni terpanas sejak pencatatan dimulai
Meski begitu, Jerman masih berada di tingkat menengah dalam hal dampak ekonomi akibat perubahan iklim. Negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol sudah terdampak lebih parah. Sementara itu, negara-negara Eropa Utara justru masih mendapat keuntungan karena musim dingin yang lebih ringan mengurangi kebutuhan pemanas.
Gelombang panas saat ini juga menjadi yang terpanjang yang pernah tercatat di bulan Juni sejak pencatatan cuaca dimulai.
"Eropa memanas lebih cepat dibanding benua lain, dan dampaknya sudah memakan korban jiwa," kata Hans Henri Kluge dari WHO di Berlin. Dalam empat tahun terakhir, lebih dari 200.000 orang di Eropa meninggal akibat cuaca panas.
Batas aman suhu di tempat kerja
Jerman memiliki aturan tentang tempat kerja:
- Pada suhu ruang 26 °C, perusahaan harus mulai mempertimbangkan langkah pengurangan panas
- Pada 30 °C, langkah perlindungan menjadi wajib, seperti menyediakan minuman atau menyesuaikan jam kerja
- Di atas 35 °C, tempat kerja umumnya dianggap tidak layak
Namun, Partai Kiri menilai aturan ini belum cukup. Mereka meminta perlindungan panas yang lebih ketat, termasuk:
- Penyediaan minuman, pelindung matahari, dan kipas
- Waktu istirahat tambahan
- Bantuan khusus bagi pekerja luar ruangan berupa "tunjangan kerja pendek karena iklim"
- Perlindungan panas sebagai manajemen risiko
Utermöhl menekankan pentingnya berpikir jangka panjang. "Jerman harus berhenti menganggap panas sebagai masalah musiman, ini adalah tugas permanen kebijakan ekonomi," ujarnya. Artinya, penanganan panas harus menjadi bagian dari perencanaan perusahaan, mulai dari rantai pasokan, manajemen karyawan, hingga keputusan properti.
Ia juga menilai pemerintah harus berperan lebih aktif, misalnya:
- Memberikan insentif pajak untuk bangunan yang tahan panas
- Mendorong penggunaan fasad berwarna terang
- Menambah peneduh dan penghijauan bangunan
- Mendesain ulang perencanaan kota secara keseluruhan
Panas juga berdampak pada infrastruktur. "Pada suhu 38 °C, sebagian infrastruktur kita tidak lagi berfungsi dengan baik," kata Utermöhl. Karena itu, pemerintah harus lebih banyak berinvestasi agar infrastruktur siap menghadapi panas ekstrem. Tantangan ini menjadi semakin besar bagi Jerman, yang kondisi keuangannya sudah cukup terbebani.
Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Hani Anggraini
Editor: Rizki Nugraha











































