Skandal Kolumnis Tulis Opini Gunakan AI Guncang Media Jerman

Skandal Kolumnis Tulis Opini Gunakan AI Guncang Media Jerman

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 22 Jun 2026 17:28 WIB
Skandal Kolumnis Tulis Opini Gunakan AI Guncang Media Jerman
Jakarta -

"Bagi ruang redaksi kami, AI adalah alat yang membantu kami menyederhanakan sekaligus meningkatkan beberapa langkah dalam proses editorial. Namun, AI jelas bukan alat yang diizinkan untuk mengambil alih inti pekerjaan kami." Inilah penjelasan yang diterbitkan akhir pekan lalu oleh surat kabar Tagesspiegel yang berbasis di Berlin, ketika berupaya meredam skandal yang mengguncang dunia media di Jerman.

Dalam teks yang sama, pihak redaksi memaparkan alasan di balik keputusan drastis untuk menghentikan sementara publikasi kolom salah satu komentator politik paling terkenal mereka, setelah terungkap bahwa Stephan-Andreas Casdorff, mantan penerbit dan pemimpin redaksi surat kabar tersebut, menggunakan akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun artikel-artikel opini.

Pria berusia 67 tahun itu mengatakan bahwa ia menyadari besarnya pelanggaran yang telah dilakukannya: "Saya telah melakukan kesalahan besar, merusak reputasi publikasi ini dan reputasi saya sendiri," kata Casdorff. "Untuk itu, saya menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Saya menggunakan AI dalam teks-teks tersebut. Seharusnya saya mengungkapkan hal itu, dan karena itu, saya tidak membiarkan artikel-artikel tersebut diterbitkan."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pimpinan redaksi menghapus beberapa artikel Casdorff dari situs web surat kabar tersebut: "Kami memutuskan untuk sementara waktu menarik artikel-artikel yang dimaksud hingga pemeriksaan secara rinci selesai," jelas mereka.

Kasus Casdorff semakin memanaskan perdebatan yang terkadang berlangsung sengit mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam jurnalisme. Beberapa hari sebelumnya terungkap bahwa sebuah artikel opini tamu di Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) yang ditulis oleh Perdana Menteri Negara Bagian Thüringen, Mario Voigt, juga dibuat dengan bantuan AI. FAZ mengatakan bahwa mereka baru mengetahui hal tersebut setelah artikel tersebut diterbitkan.

Ketika teknologi menyentuh inti jurnalisme

Peneliti media Vera Katzenberger dari Universitas Leipzig menilai kasus Casdorff sangat serius karena mengguncang kepercayaan terhadap jurnalisme.

"Ini bukan soal dukungan dalam brainstorming atau riset, ini menyangkut inti dari pekerjaan jurnalistik," kata Katzenberger kepada DW.

Pembaca membeli atau berlangganan surat kabar karena keahlian atau perspektif penulis tertentu. "Jika artikel opini dihasilkan oleh AI tanpa pengungkapan mengenai penggunaannya, publik sangat mungkin memandangnya sebagai bentuk penipuan."

Opini AI dan tantangan bagi demokrasi

Katzenberger juga menilai artikel opini yang didukung AI berbahaya karena komentar semacam itu memiliki fungsi khusus dalam perdebatan demokratis: "Artikel opini memberi kita orientasi dalam dunia yang semakin kompleks dan membantu kita membentuk opini sendiri. Jika artikel opini dihasilkan oleh AI, hal itu secara langsung mengintervensi proses pembentukan opini publik."

Hal tersebut menjadi masalah karena AI tidak memiliki nilai, posisi politik, maupun rasa tanggung jawab, kata Katzenberger. Meski demikian, ia melihat adanya sisi positif dari kasus ini: "Kasus ini justru menunjukkan bahwa ruang redaksi sangat serius dalam menjalankan kebijakan mereka sendiri dan bahwa pelanggaran seperti ini memiliki konsekuensi yang berat."

Redaksi Tagesspiegel mengatakan bahwa mereka menarik artikel-artikel Casdorff sambil menunggu hasil investigasi karena ia melanggar pedoman editorial yang telah dikomunikasikan secara jelas di dalam organisasi dan mengikat semua pihak. "Penilaian jurnalistik, pertimbangan terhadap informasi, klasifikasi analitis, serta cara penulisannya harus selalu menjadi tanggung jawab penulis."

Persyaratan tersebut juga diterapkan oleh Frankfurter Allgemeine Zeitung, yang kini telah menghapus artikel opini tamu yang tampaknya dihasilkan AI dari Perdana Menteri Thüringen tersebut dari situs webnya. Peneliti media itu melihat persoalan ini dari dua sisi: "Siapa pun yang menulis atau menyerahkan sebuah artikel atau opini tamu harus mengungkapkan apakah dan bagaimana AI telah digunakan," ujar Katzenberger.

"Pada saat yang sama, editor tidak dapat hanya mengandalkan apa yang dikatakan para penulis," tambah Katzenberger. AI kini secara mendasar mengubah proses kerja jurnalisme, sehingga tim redaksi harus menyesuaikan metode pemeriksaan mereka dan menetapkan aturan yang jelas, katanya: "Bentuk dukungan AI seperti apa yang diperbolehkan? Kapan ada kewajiban untuk memberi label pada konten yang dihasilkan AI? Sejauh mana kontribusi pribadi penulis yang diharapkan?"

Namun demikian, Mathias Döpfner, CEO perusahaan media berpengaruh Axel Springer, mengkritik keputusan FAZ yang menghapus artikel opini yang dihasilkan AI oleh Perdana Menteri Thüringen tersebut.

Döpfner mengatakan bahwa ia memberikan perintah (prompt) kepada AI untuk menyerang FAZ secara polemis. Teks yang dihasilkan kemudian diterbitkan sebagai artikel opini dengan mencantumkan nama Döpfner sebagai penulis dan menuduh FAZ menolak teknologi modern, dengan menyebutnya sebagai "upaya putus asa dari lobi kereta kuda untuk melarang mobil."

Pedoman Dewan Pers Jerman soal AI

Dewan Pers Jerman, badan swaregulasi yang mengawasi media cetak dan media daring di Jerman, menyatakan bahwa tanggung jawab atas seluruh laporan editorial, tanpa memandang bagaimana laporan tersebut dibuat, sepenuhnya berada di tangan ruang redaksi: "Tanggung jawab ini juga berlaku untuk konten yang dihasilkan secara artifisial."

Meski demikian, Dewan Pers menganggap bahwa kewajiban pelabelan untuk teks yang dihasilkan oleh AI tidak diperlukan. Alasannya, dalam penilaian etis terhadap suatu pengaduan, tidak menjadi persoalan siapa yang membuat artikel tersebut atau alat apa yang digunakan. Namun, ada sejumlah kasus yang menurut Dewan Pers dapat dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip kehati-hatian dan kebenaran.

Pada Maret, situs Business Insider, yang dimiliki oleh Axel Springer, mendapat kecaman publik karena menerbitkan laporan yang dihasilkan AI tentang seorang ibu yang bekerja dari rumah sambil mengasuh balita dan mencantumkan nama seorang penulis. Laporan itu kemudian dihapus.

Vera Katzenberger menilai bahwa diperlukan tindakan mendesak untuk menghadapi pelanggaran pedoman editorial yang begitu jelas. Bagi banyak jurnalis, penggunaan AI kini sudah menjadi sesuatu yang senatural menggunakan mesin pencari atau pemeriksa ejaan. "Batas antara dukungan AI yang sah dan kepengarangan AI yang wajib diungkapkan semakin kabur," katanya kepada DW.

Katzenberger juga berharap situasi ini akan membaik melalui pelatihan rutin dan diskusi terbuka mengenai kasus-kasus yang berada di wilayah abu-abu dalam penggunaan AI. Ia menyarankan para mahasiswanya untuk memahami AI sebagai alat, bukan sebagai pengganti kemampuan jurnalistik mereka sendiri: "Selalu ada risiko bahwa perkembangan profesional mereka akan terabaikan jika AI berpikir untuk mereka."

Ia juga menilai bahwa sangat penting bagi media untuk menangani kesalahan secara transparan: "Kepercayaan tidak dibangun atau hilang hanya karena satu insiden," katanya. Ruang redaksi tidak dapat memulihkan kepercayaan tersebut sepenuhnya dengan menolak penggunaan AI. Hal itu, menurutnya, hanyalah ilusi. "AI akan tetap ada," kata Katzenberger.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Momen Bos-bos AI Bertemu Pemimpin Negara di G7 Prancis

(ita/ita)


Berita Terkait