Iran-Israel Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata Terancam

Iran-Israel Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata Terancam

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 09 Jun 2026 09:57 WIB
Iran-Israel Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata Terancam
Jakarta -

Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (8/6) mengatakan bahwa mereka menganggap Amerika Serikat (AS) "bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap eskalasi" di Timur Tengah.

"Tindakan Israel tidak bisa dipisahkan dari kebijakan AS," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seraya menambahkan: "AS memikul tanggung jawab langsung atas pelanggaran gencatan senjata baru-baru ini."

Juru bicara tersebut juga menyerang Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menuduh badan pengawas nuklir PBB itu "mengabaikan realitas konflik" dan bersikap bias secara politik dalam krisis yang sedang berlangsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan baru Israel terhadap Iran terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menahan diri dari serangan lebih lanjut.

"Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya. Dia [Netanyahu] bukan yang menentukan," klaim Trump kepada Financial Times, sambil menegaskan bahwa permusuhan yang kembali pecah itu "tidak akan berdampak apa pun" terhadap kesepakatan damai.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada The Associated Press (AP) pada Minggu (7/6) bahwa Trump telah mendesak Netanyahu untuk tidak segera membalas serangan rudal Iran, yang sendiri dilakukan sebagai respons atas serangan Israel terhadap ibu kota Lebanon, Beirut.

AP juga melaporkan bahwa pejabat dari Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar yang terlibat dalam upaya mediasi antara Iran dan AS merasa "marah" atas serangan Israel di Beirut, yang terjadi saat menteri dalam negeri Pakistan berada di Teheran dalam upaya mendorong negosiasi.

Para mediator dilaporkan mengatakan kepada pemerintahan AS bahwa serangan di Beirut dirancang "untuk mengganggu upaya kami mencapai kesepakatan" dan bahwa "Trump harus menghentikan manuver sembrono Netanyahu."

Iran ancam respons lebih keras jika Israel kembali menyerang

Seorang pejabat militer Israel mengklaim bahwa Iran telah menembakkan hampir 30 rudal ke arah Israel sejak permusuhan antara kedua negara kembali memanas pada Minggu.

"Tadi malam rezim Iran mulai menembakkan rudal balistik ke arah Israel … mereka menembakkan hampir 30 rudal balistik ke arah Israel," kata pejabat tersebut kepada para jurnalis pada Senin (8/6). Ia juga menambahkan bahwa pemberontak Houthi dari Yaman telah menembakkan dua rudal ke negara tersebut dalam dua serangan terpisah.

Iran menyatakan bahwa mereka meluncurkan dua gelombang rudal ke target-target di Israel sebagai respons atas serangan udara Israel terhadap ibu kota Lebanon, Beirut, pada akhir pekan.

Militer Iran pada Senin mengumumkan bahwa mereka menghentikan operasi ofensif terhadap Israel setelah sehari penuh saling serang rudal.

Komando gabungan rezim Teheran mengatakan bahwa "langkah-langkah yang jauh lebih berat dan menghancurkan dibandingkan sebelumnya akan menyusul" jika Israel atau sekutunya melakukan "agresi dan tindakan permusuhan" lebih lanjut, termasuk di Lebanon Selatan.

Saling serang rudal tersebut menjadi konfrontasi paling serius sejak gencatan senjata mulai berlaku pada April.

Lebanon: Israel telah melanggar gencatan senjata 3.500 kali

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengklaim bahwa Israel telah melakukan hampir 3.500 serangan udara di Lebanon serta ratusan ledakan terkontrol sejak gencatan senjata rapuh yang dimediasi AS mulai berlaku pada pertengahan April.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan kantornya setelah rapat kabinet, Salam mengatakan bahwa pasukan Israel sejak saat itu telah melakukan 3.491 serangan udara, 407 pembongkaran terkontrol, dan 6 operasi "perataan" yang dilaporkan membuat beberapa desa di Lebanon Selatan rata dengan tanah.

Militer Israel belum menanggapi angka-angka yang disampaikan Salam, tetapi secara rutin menyatakan bahwa mereka hanya menargetkan lokasi dan infrastruktur milik kelompok Islamis yang didukung Iran, Hezbollah.

Trump menuntut penghentian serangan Israel-Iran

Presiden AS Donald Trump menuntut penghentian segera permusuhan yang kembali pecah antara Israel dan Iran setelah kedua negara saling meluncurkan rudal.

"Israel dan Iran harus segera berhenti 'menembak'," tulis Trump di media sosial.

Ia mengatakan Iran dan Israel menginginkan gencatan senjata dan bahwa negosiasi perdamaian sedang berlangsung, "asal tidak digagalkan oleh kebodohan atau ketidaktahuan."

Pernyataan itu muncul setelah wawancara telepon dengan Financial Times, di mana Trump mengklaim bahwa dirinya yang "mengendalikan situasi" dalam konflik Timur Tengah, bukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Selain itu, seorang pejabat Israel mengatakan pada Senin bahwa Letnan Jenderal Eyal Zamir, kepala Pasukan Pertahanan Israel (IDF), telah berkomunikasi dengan kepala CENTCOM AS sebanyak dua kali dalam 24 jam terakhir.

"Dalam sehari terakhir, kepala staf umum IDF telah berbicara dua kali dengan komandan CENTCOM dan mereka sedang membahas situasi ini," kata pejabat tersebut tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Israel tampaknya mengabaikan permintaan dari Washington dalam percakapan telepon semalam untuk tidak melancarkan serangan balasan terhadap Iran, menurut laporan media.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Simak Video 'Iran: Tujuan Kami Akhiri Perang, Bukan Normalisasi Hubungan dengan AS':

(ita/ita)


Berita Terkait