Perang Iran, Obat Pun Langka dan Harga Melonjak

Perang Iran, Obat Pun Langka dan Harga Melonjak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 28 Mei 2026 14:21 WIB
Perang Iran, Obat Pun Langka dan Harga Melonjak
Jakarta -

Sanksi, nilai tukar mata uang, dan tekanan berkepanjangan terhadap perusahaan asuransi telah membuat akses terhadap layanan kesehatan di Iran sulit selama bertahun-tahun.

Kini, perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel tampaknya semakin memperburuk situasi dengan mengganggu jalur distribusi regional, merusak sebagian infrastruktur kesehatan Iran, dan menambah tekanan baru pada pasar farmasi yang sudah rapuh.

Dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari banyak warga Iran: mulai dari pasien yang harus mencari obat ke banyak apotek hingga dokter yang melihat pasien berhenti menebus resep karena sudah tidak mampu membayar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rantai pasok dan sanksi

Bagi negara seperti Iran, yang masih bergantung pada bahan baku impor dan obat-obatan produksi luar negeri untuk sebagian sistem farmasinya, keterlambatan distribusi dan kenaikan biaya transportasi dengan cepat memicu kelangkaan serta kenaikan harga di dalam negeri.

Namun, transportasi hanyalah sebagian dari masalahnya. Meski obat-obatan secara teknis dikecualikan dari sanksi, pembatasan perbankan dan pembayaran tetap membuat proses pengadaan menjadi lambat, rumit, dan mahal.

Tekanan finansial telah mempengaruhi sektor farmasi Iran selama bertahun-tahun. Dalam situasi perang, dampaknya menjadi jauh lebih berat. Kenaikan harga, gangguan rantai pasok, kerusakan infrastruktur, dan menurunnya daya beli masyarakat kini saling memperparah satu sama lain.

Pejabat Iran berusaha menunjukkan bahwa situasi masih terkendali dengan menyatakan bahwa cadangan strategis dan produksi dalam negeri telah mencegah keruntuhan total. Namun, gambaran yang disampaikan pasien, dokter, dan pelaku industri menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan.

Hadi Ahmadi, juru bicara Asosiasi Apoteker Iran, memperingatkan bahwa perang dapat memicu kelangkaan baru terhadap bahan-bahan yang dibutuhkan untuk produksi farmasi, termasuk aluminium dan bahan petrokimia.

Bahkan jika stok obat masih tersedia saat ini, produksi di masa depan bisa menjadi semakin sulit jika bahan baku industri dan material kemasan mulai langka.

Sejumlah pasien mulai menyerah

Dampaknya sudah terlihat di klinik dan apotek. Seorang dokter umum di Iran mengatakan kepada DW bahwa beberapa jenis obat praktis menghilang sejak perang dimulai, sementara obat lain hanya tersedia sesekali atau dijual dengan harga yang melonjak tajam.

Seorang ahli jantung di Iran mengatakan harga obat kini naik begitu tinggi hingga sebagian pasien memilih berhenti membeli obat yang mereka butuhkan.

Salah satu pasiennya mengatakan bahwa sebuah apotek menyimpan obat antiplatelet Osvix di dalam brankas. Obat-obatan yang sebelumnya langka kini sebenarnya tersedia, katanya, tetapi harganya begitu mahal sehingga banyak orang tidak mampu membelinya.

Meski ini merupakan pengalaman individual, keseluruhannya mencerminkan pola yang lebih luas. Krisis kini tidak lagi terbatas pada obat-obatan yang langka atau sangat khusus. Pengobatan rutin sehari-hari juga mulai terdampak.

Warga kesulitan mencari pengobatan

Kerabat seorang pasien lansia penderita diabetes di kota Rasht, Iran utara, mengatakan insulin kini dijatah dan dijual dengan harga 6 kali lebih mahal dibandingkan pekan sebelumnya.

Pasien lain yang membutuhkan obat harian untuk penyakit kronis mengatakan kepada DW bahwa ia hanya memiliki persediaan obat untuk 18 hari lagi.

"Selama enam minggu, saya terus mencari dari satu apotek ke apotek lain dengan harapan bisa menemukannya, dan setiap kali saya mendapat jawaban yang sama: 'Kami tidak punya,' katanya.

"Saya hanya membutuhkan satu jenis obat, tetapi itu saja sudah membuat hidup saya stres. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan orang-orang yang membutuhkan beberapa jenis obat sekaligus, atau mereka yang hidup dengan penyakit berat maupun penyakit yang tidak bisa disembuhkan."

Kini sebagian pasien menggunakan media sosial dan grup pesan pribadi untuk saling memberi tahu jika ada apotek yang masih memiliki stok obat tertentu.

Sebelum perang, sebagian keluarga mengandalkan kerabat di luar negeri untuk mengirim obat dari negara tetangga atau Eropa melalui jalur informal. Namun sekarang, dengan pembatasan yang semakin ketat dan saluran komunikasi yang melemah, bahkan opsi cadangan itu tampaknya mulai tertutup.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Tonton juga video "Trump Belum Puas atas Pembicaraan Kesepakatan dengan Iran"

(ita/ita)


Berita Terkait