Namun situasinya berubah cepat sejak Perang Iran. Sejumlah komentar pedas Merz—yang menyebut Amerika Serikat tidak memiliki strategi jelas dan bahkan dipermalukan oleh Iran—memicu kegeraman Trump. Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump membalas dengan tajam: Merz disebut "tidak tahu apa yang dia bicarakan." Dia juga menambahkan, "tidak heran jika kondisi Jerman begitu buruk."
Konsekuensi militer dan ekonomi
Tak lama setelah itu, Trump mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara Amerika dari Jerman dalam waktu satu tahun. Belakangan, dia bahkan menyatakan jumlah pasukan AS di Jerman bisa dikurangi "secara jauh lebih besar".
Selain itu, penempatan rudal jelajah Tomahawk yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk memperkuat pertahanan Jerman terhadap kemungkinan serangan Rusia juga ditunda. Sejumlah pakar menilai langkah ini jauh lebih serius dibanding penarikan pasukan.
"Penundaan ini menciptakan celah keamanan yang besar dalam upaya menangkal Rusia, yang baru bisa ditutup di masa depan dengan persenjataan Eropa," papar Carlo Masala, pakar dari Universitas Pertahanan Bundeswehr München, kepada harian Welt am Sonntag.
Pada saat yang bersamaan, Trump juga mengumumkan rencana menaikkan tarif impor mobil dari Uni Eropa dari 15 menjadi 25 persen. Ekonom Clemens Fuest bahkan memperingatkan kemungkinan resesi baru. "Kenaikan tarif ini menghantam industri otomotif Jerman yang memang sudah berada dalam situasi sulit," ujarnya kepada surat kabar Bild.
Merz sendiri mencoba meredam kekhawatiran. Dalam sebuah acara di televisi, dia menyebut rencana pengurangan pasukan Amerika bukanlah hal baru dan membantah adanya kaitan dengan perselisihannya dengan Trump. "Tidak ada hubungannya," tegas Merz.
Henning Hoff, pakar hubungan luar negeri Jerman, mengingatkan bahwa Trump pernah mengancam pengurangan pasukan yang lebih besar pada masa jabatan pertamanya. Pada musim panas 2020, Trump bahkan menyebut kemungkinan menarik 12.000 tentara dari Jerman—yang juga dipandang sebagai bentuk "hukuman". Rencana itu akhirnya batal setelah Joe Biden memenangkan pemilihan presiden.
Menurut Hoff, belum tentu Trump benar-benar melaksanakan ancamannya kali ini. "Karena itu, perselisihan ini sebenarnya tidak sedramatis yang terlihat," ujarnya.
Hubungan yang naik turun
Sejak awal masa jabatan kedua Trump, hubungan transatlantik acap merenggang. Ketika Trump pada Februari 2025 mempermalukan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di depan publik internasional, Merz—yang saat itu belum menjadi kanselir—langsung bereaksi keras. Dia menyatakan bahwa sebagian kalangan di Amerika tampaknya tidak lagi peduli terhadap nasib Eropa. Prioritas utamanya, kata Merz, adalah membantu Eropa mencapai "kemandirian bertahap dari Amerika Serikat".
Hubungan itu terus memburuk sepanjang tahun, terutama setelah Amerika menerapkan tarif impor baru terhadap barang-barang Eropa—memukul ekonomi Jerman yang bergantung pada ekspor.
Meski demikian, Merz tetap melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Washington pada bulan Juni 2025. Pertemuan itu berjalan lebih baik dari perkiraan, antara lain karena Merz menuruti kemauan Trump untuk meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan.
Konflik baru bermunculan
Memasuki pergantian tahun 2025–2026, ketegangan semakin meningkat. Dalam strategi keamanan nasional baru pada akhir tahun 2025, pemerintah Amerika memperingatkan Eropa tentang ancaman "kehancuran peradaban" akibat migrasi. Dokumen itu juga menyebut belahan bumi Barat sebagai wilayah pengaruh Amerika Serikat.
Tak lama kemudian, pasukan khusus Amerika menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolás Maduro. Merz menanggapi secara hati-hati, menyebut status hukumnya "rumit", meski operasi tersebut secara jelas melanggar hukum internasional.
Kontroversi lain muncul ketika Trump mengancam akan merebut Pulau Greenland—wilayah milik Denmark—bahkan dengan kekuatan militer jika perlu. Namun sikap tegas negara-negara Eropa yang menyatakan langkah itu tidak dapat diterima tampaknya membuat Trump mundur dari isu tersebut.
Kunjungan Merz berikutnya ke Washington pada bulan Maret 2026, tak lama setelah pecah perang Iran, kembali berlangsung positif. Sebelum berangkat, Merz bahkan mengatakan dia tidak berniat "menguliahi" Trump soal hukum internasional. Pernyataannya itu disambut Trump, yang kemudian menyebut Merz sebagai "teman" dan "pemimpin yang luar biasa".
Namun di Eropa muncul kritik bahwa Merz terlalu berusaha menyenangkan Trump. Dalam satu kesempatan, Merz secara terbuka mendukung kritik Trump bahwa Spanyol mengeluarkan terlalu sedikit anggaran untuk pertahanan.
Upaya Meredakan Ketegangan
Selama ini, strategi Merz terhadap Trump diyakini berparas ganda, yakni menjaga hubungan baik sambil sesekali menyampaikan kritik secara hati-hati. Kebergantungan militer Eropa pada Amerika Serikat—terutama dalam Perang Ukraina—masih terlalu besar untuk diabaikan.
Setelah perselisihan terbaru, Merz menegaskan bahwa dirinya tidak akan menyerah dalam menjaga hubungan transatlantik. "Saya juga tidak akan menghentikan kerja sama dengan Donald Trump," ujarnya dalam acara Caren Miosga.
Dia mengatakan masih akan ada beberapa kesempatan untuk bertemu langsung dengan Trump tahun ini, termasuk pada pertemuan G7 di Prancis pada Juni dan KTT NATO di Turki pada bulan Juli. Pertanyaannya: Apakah Trump masih ingin melanjutkan kerja sama dengan Merz?
Henning Hoff tetap optimistis. Menurut dia, Merz memang telah merusak upayanya sendiri membangun hubungan baik dengan Trump melalui pernyataan-pernyataan kritisnya. Namun kanselir Jerman itu masih memiliki peluang memperbaiki keadaan melalui dialog langsung dengan presiden Amerika Serikat.
Dia juga bisa menawarkan kontribusi konkret Jerman, misalnya membantu menstabilkan kawasan Teluk setelah perang Iran dan menjamin kebebasan pelayaran internasional.
Pengiriman kapal penyapu ranjau Jerman Fulda ke arah Laut Mediterania dinilai sebagai salah satu sinyal tersebut. Selain itu, menurut Hoff, banyak anggota Partai Republik di Kongres Amerika masih memahami pentingnya kehadiran militer Amerika di Jerman dan Eropa.
Tanpa kehadiran tersebut, kata Hoff, dalam jangka panjang Amerika Serikat sendiri berisiko kehilangan statusnya sebagai kekuatan dunia.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih
Tonton juga video "Jerman Ungkap Tarif Trump Akan Akibatkan Kerusakan Ekonomi"
(ita/ita)











































