Keluarnya UAE dari OPEC Jadi 'Pukulan' bagi Arab Saudi?

Keluarnya UAE dari OPEC Jadi 'Pukulan' bagi Arab Saudi?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 30 Apr 2026 17:02 WIB
Keluarnya UAE dari OPEC Jadi Pukulan bagi Arab Saudi?
Jakarta -

Mengapa UEA memutuskan untuk keluar dari OPEC?

OPEC, organisasi global negara-negara penghasil minyak, menerapkan sistem kuota yang membatasi jumlah minyak yang dapat diproduksi oleh setiap anggotanya.

Selama bertahun-tahun, Uni Emirat Arab (UAE) telah berselisih dengan Arab Saudi, anggota OPEC yang paling berpengaruh, terkait sistem kuota tersebut. UEA telah berinvestasi besar-besaran untuk memperluas industri minyaknya dan meningkatkan pangsa pasarnya, namun batasan-batasan OPEC kerap kali menghambatnya.

Menteri Energi UAE, Suhail Al Mazrouei, mengatakan kepada The New York Times pada hari Selasa(28/4),"Dunia membutuhkan lebih banyak energi. Dunia membutuhkan lebih banyak sumber daya, dan UEA ingin bebas dari batasan kelompok mana pun."

UEA bertaruh bahwa mereka dapat menjual lebih banyak minyak begitu perang AS-Israel melawan Iran dan krisis Selat Hormuz berakhir, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang. Sementara itu, para analis melihat langkah ini telah diperhitungkan oleh produsen minyak yang siap bertindak secara independen.

"Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, benar-benar menghilangkan instrumen penting dari OPEC," kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di konsultan Rystad Energy,"Dengan permintaan yang mendekati titik puncak, perhitungan bagi produsen dengan biaya produksi rendah berubah dengan cepat, dan menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti membiarkan uang terbuang percuma."

UEA, yang bergabung dengan OPEC pada 1967 akan keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ (yang mencakup Rusia) pada 1 Mei mendatang.

UAE saat ini memproduksi sekitar 3,2 hingga 3,6 juta barel per hari (bpd) di bawah kuota tetapi memiliki kapasitas cadangan hampir 4,8 juta bpd, demikian dilaporkan kantor berita Reuters. Rencananya, produksi akan ditingkatkan menjadi 5 juta bpd di tahun depan.

Keluarnya UEA melemahkan OPEC dan kepemimpinan Arab Saudi?

Keluarnya UEA menghilangkan salah satu dari sedikit anggota OPEC dengan kapasitas cadangan minyak yang signifikan, sehingga Arab Saudi tidak dapat dengan mudah berbagi beban penyesuaian produksi.

Kerajaan Teluk ini selama ini telah berperan mengelola harga minyak dengan memangkas produksinya sendiri dan menerapkan disiplin di seluruh kelompok. Dengan hilangnya UEA, Arab Saudi harus bergantung pada pemangkasan produksi minyaknya untuk menstabilkan harga.

Hal ini membuat upaya Riyadh untuk menjaga stabilitas harga minyak tetap di kisaran harga yang tinggi jadi kurang efektif. Selain itu, kemampuan kerajaan untuk mengatur dan mendisiplinkan kelompok OPEC yang lebih luas kian melemah.

David Oxley, kepala ekonom iklim dan komoditas di lembaga riset Capital Economics yang berbasis di London, menyebut langkah ini sebagai "awal dari perpecahan," memperingatkan bahwa "ikatan yang menyatukan anggota OPEC telah melemah."

Arab Saudi membutuhkan harga minyak yang tinggi yakni €77 (Rp1.5 juta) per barel untuk membiayai pengeluaran pemerintah dengan Visi 2030 yang begitu ambisius yakni serangkaian proyek infrastruktur besar untuk mengurangi ketergantungan Kerajaan pada bahan bakar fosil. Termasuk di dalamnya, kota futuristik senilai $500 miliar (Rp8.500 triliun) bernama NEOM.

Setiap barel tambahan yang ditahan negara ini berarti hilangnya pendapatan, merugikan negara tersebut dalam pertumbuhan ekonominya.

Keluarnya UAE ini juga mengungkap ketegangan yang telah lama ada di dalam OPEC, terutama persepsi bahwa Arab Saudi mendominasi pengambilan keputusan.

Langkah ini juga terjadi saat pengaruh OPEC secara keseluruhan telah menyusut. Organisasi minyak ini pernah mengendalikan lebih dari setengah pasokan global. Saat ini, OPEC mengendalikan kurang dari sepertiga pasokan global.

Apa dampak keluarnya UAE terhadap harga minyak global?

Keluarnya Uni Emirat Arab (UAE) kemungkinan tidak akan menyebabkan perubahan besar secara langsung pada harga minyak global, terutama karena gangguan di Selat Hormuz tengah mendominasi pasar.

Sebagian besar ekspor minyak di kawasan tersebut masih terhambat dan UAE saat ini mengalihkan sekitar 1,8 juta barel per hari (bpd) ke pelabuhan Fujairah di pesisir Teluk Oman melalui pipa yang sudah beroperasi pada kapasitas maksimum. Produksi tambahan apa pun yang ingin ditingkatkan negara tersebut juga tidak dapat langsung memasuki pasar.

Akibatnya, pengumuman tersebut hampir tidak berdampak pada harga dalam jangka pendek, dengan harga minyak mentah Brent tercatat relatif tidak berubah pada hari Selasa.

"Dalam jangka pendek, saya kira keluarnya UAE tidak akan berdampak besar karena apa yang saat ini terjadi di Selat Hormuz mendominasi gambaran minyak global. Berita dari OPEC ini menjadi hal yang relatif kecil," kata Jeff Colgan, pakar OPEC dari Brown University, kepada DW.

Setelah situasi di Hormuz kembali normal, UAE berpotensi menambah beberapa ratus ribu barel per hari ke pasar. Dalam jangka panjang, keluarnya UAE mengarah pada harga minyak yang sedikit lebih rendah dan lebih fluktuatif.

Bisakah Uni Emirat Arab (UAE) membuat negara produsen minyak lainnya kembali mempertimbangkan keanggotaannya di OPEC?

Beberapa analis industri minyak mengatakan bahwa keluarnya UAE menambah keraguan yang sudah berlangsung lama atas kekompakan OPEC.

"Mungkin kita bisa melihat seluruh organisasi ini runtuh," kata Colgan kepada DW, sambil menambahkan bahwa ia percaya Arab Saudi kemungkinan besar akan berusaha menjaga kelompok ini tetap bersatu sebagai "penopang utama organisasi."

Namun, keluarnya UAE menyoroti ketidakpuasan akan sistem kuota OPEC menunjukkan perpecahan terutama dengan Arab Saudi.

OPEC sendiri sudah berada dalam tekanan akibat pelanggaran kuota berulang oleh anggota seperti Irak dan Nigeria, serta Rusia yang tidak konsisten mematuhi OPEC+. Keputusan UAE untuk keluar menambah fragmentasi tersebut.

Dalam analisisnya untuk Capital Economics, Oxley memperingatkan bahwa dalam jangka menengah, jika produsen lain dengan kapasitas minyak cadangan "melihat UAE berhasil memperoleh fleksibilitas dan pangsa pasar" di luar OPEC, "yang lain mungkin akan mengikuti."

Namun untuk saat ini, sebagian besar anggota tidak memiliki kapasitas produksi atau diversifikasi ekonomi seperti UAE, sehingga eksodus massal dari OPEC kemungkinan kecil terjadi.

UAE bukanlah negara pertama yang keluar dari OPEC. Qatar keluar pada 2019, sementara Angola, Ekuador, Gabon, dan Indonesia juga telah menangguhkan keanggotaannya dalam beberapa tahun terakhir, karena sulit untuk mengikuti kebijakan kuota OPEC, mengingat produksi minyak dalam negeri dan posisinya sebagai net importir.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

(ita/ita)


Berita Terkait