Keputusan yang mulai berlaku 1 Mei ini membuat OPEC kehilangan produsen minyak terbesar ketiganya. Hal ini melemahkan pengaruh OPEC atas pasokan dan harga minyak global.
Keluarnya salah satu anggota lama OPEC ini dinilai berpotensi melemahkan solidaritas internal organisasi. Mereka selama ini kerap menutupi perbedaan pandangan antaranggota terkait geopolitik dan kebijakan kuota produksi.
Mengapa UEA keluar dari OPEC?
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Energi dan Infrastruktur UEA menyebut keputusan ini adalah bagian dari strategi prioritas dan ekonomi jangka panjang UEA.
"Keputusan ini diambil setelah peninjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitas saat ini dan ke depan. Juga didasarkan pada kepentingan nasional dan komitmen kami untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak," demikian pernyataan tersebut.
UEA mengeklaim akan tetap "bertanggung jawab" dengan menambah produksi minyak secara bertahap dan terukur sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar.
"Selama berada dalam organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi besar. Adapun pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama. Namun, kini saatnya kami fokus pada kepentingan nasional kami," lanjut pernyataan itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, diketahui bahwa UEA menganggap kuota produksi OPEC terlalu rendah. Hal tersebut membatasi kemampuan UEA untuk menjual lebih banyak minyak ke pasar global.
"Setelah berinvestasi besar untuk menambah kapasitas produksi energi beberapa tahun terakhir, terlihat bahwa UEA ingin menjual lebih banyak minyak," tulis Capital Economics dalam analisisnya. Langkah ini juga mengikuti tren melemahnya ikatan internal OPEC. Terutama setelah Qatar lebih dulu keluar pada 2019.
Apa dampaknya bagi OPEC?
"Penarikan diri UEA menandai perubahan signifikan bagi OPEC," kata Jorge Leon dari Rystad Energy. "Bersama Arab Saudi, UEA adalah salah satu dari sedikit anggota yang punya kapasitas cadangan minyak yang besar. Itu membuat OPEC punya pengaruh pasar."
Dengan UEA keluar, OPEC diperkirakan akan semakin sulit mengatur pasokan dan menstabilkan harga minyak global.
Di sisi lain, langkah ini mencerminkan renggangnya hubungan UEA dengan Arab Saudi, dua kunci utama OPEC.
"UEA sudah cukup lama tidak sejalan dengan kebijakan umum OPEC. Jadi ini bukan hal yang mengejutkan, tetapi jelas akan berdampak signifikan dalam jangka panjang," ujar Ajay Parmar dari ICIS.
Pasar global tidak banyak terdampak
Meski demikian, dampak langsung terhadap pasar minyak global diperkirakan tidak begitu signifikan dalam waktu dekat.
Sebab, pasokan global saat ini sudah tertekan akibat penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak global, termasuk dari UEA.
Di tengah kondisi tersebut, harga minyak Brent telah melonjak hingga di atas 111 dolar AS (Rp1,9 juta) per barel. Ini lebih dari 50% dibanding sebelum perang.
Secara keseluruhan, pengaruh OPEC terhadap pasar global memang telah melemah dalam beberapa tahun terakhir. Terutama karena peningkatan produksi minyak oleh Amerika Serikat yang kini melampaui banyak negara anggota.
Faktor geopolitik dan hubungan regional
Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik juga diduga berperan dalam keputusan ini.
Hubungan antara produsen terbesar OPEC, yakni UEA dan Arab Saudi disebut semakin kompetitif dalam beberapa tahun terakhir, baik dalam isu ekonomi maupun politik kawasan, termasuk di wilayah Laut Merah dan konflik di Yaman. Koalisi militer mereka pun sempat retak ketika Arab Saudi mengebom pengiriman senjata yang ditujukan bagi kelompok separatis Yaman yang didukung UEA.
Meski demikian, Menteri Energi UEA menyebutkan, keputusan keluar dari OPEC tidak didasari oleh konflik dengan Arab Saudi. Menurutnya, hubungan kedua negara tetap berjalan baik.
"Keputusan keluar dari OPEC ini sesuai dengan kebutuhan UEA untuk lebih fleksibel dalam menjalin hubungan dengan konsumen energi utama seperti Cina, juga hubungan yang semakin kompetitif dengan Arab Saudi," ujar Karen Young, peneliti senior di Center on Global Energy Policy, Universitas Columbia.
UEA "bermain di dua kaki"
Di tengah dorongan global menuju energi bersih, UEA justru "bermain di dua kaki".
Meski menjadi tuan rumah konferensi iklim COP28 pada 2023, negara ini tetap berencana meningkatkan kapasitas produksi minyaknya dalam beberapa tahun ke depan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa UEA masih melihat minyak sebagai pilar utama ekonomi dan pengaruh globalnya, bahkan saat mereka juga mengembangkan energi terbarukan di dalam negeri.
Dengan keluarnya UEA, OPEC kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga relevansi dan kekuatannya di tengah lanskap energi global.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Adelia Dinda Sani
Simak juga Video '67 Berkarya, Akselerasi Swasembada Energi':
(ita/ita)











































