Mantan Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi Cari Dukungan Eropa

Mantan Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi Cari Dukungan Eropa

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 24 Apr 2026 10:11 WIB
Mantan Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi Cari Dukungan Eropa
Jakarta - Reza Pahlavi, mantan putra mahkota syah terakhir Iran, oposisi rezim Khamenei yang berkuasa di Iran, mengunjungi Berlin pada Kamis (23/4). Dalam kunjungannnya ia menyerukan kepada pemerintah-pemerintah Eropa untuk tidak ikut campur dalam perang AS-Israel melawan Iran dan mengambil langkah-langkah lain yang lebih tegas, seperti mengusir duta besar Iran hingga membantu warga Iran mengakses internet yang diblokir.

Menurutnya segala bentuk negosiasi dengan para pemimpin di Teheran sama halnya dengan 'melunak' pada rezim Iran, ia berharap gelombang baru protes di jalanan akan menggulingkan pemerintah yang berkuasa.

"Seluruh narasi gencatan senjata dan negosiasi masih didasarkan pada pemikiran bahwa ... mereka akan berkompromi," kata Pahlavi, yang sedang mengunjungi Jerman setelah singgah di Swedia dan Italia, berusaha mencari dukungan politik dari Eropa dan diaspora Iran.

"Saya tidak melihat kompromi itu akan terjadi," katanya, seraya mengutuk orang baru di pucuk kepemimpinan Iran -dan menggantikan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas- sebagai "wajah baru dengan sistem lama."

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa Iran telah "membantai ribuan warga sipil tak bersalah" dan Iran turut mengancam Eropa dengan rudal jarak jauh. "Tidak ada negosiasi yang akan menyelesaikan itu. Itu sudah ada dalam DNA mereka."

Ayah Pahlavi, Mohammad Reza, digulingkan lewat Revolusi Islam 1979. Reza Pahlavi telah berulang kali mengatakan bahwa ia siap memimpin transisi jika Republik Islam runtuh dalam perang yang meletus di akhir Februari tersebut.

Namun, Pahlavi hanya mewakili salah satu dari beberapa kelompok diaspora Iran, yang kerap berselisih dengan sengit. Dalam kunjungannya ke Berlin, ia disambut oleh beberapa pendukungnya tetapi juga lawan-lawannya yang keras. Seorang aktivis bahkan menyiramkan cairan merah kepadanya.

Pahlavi pun gagal mendapatkan pengakuan dari Presiden AS Donald Trump, yang hingga saat ini belum bertemu secara resmi. Trump berulang kali menyatakan keraguan atas kemampuan Pahlavi memimpin Iran.

Kanselir Jerman Friedrich Merz tidak direncanakan untuk bertemu dengan Pahlavi, meski beberapa anggota parlemen Jerman akan mengadakan pembicaraan dengannya.

Putra syah Iran yang digulingkan ini mendapat dukungan dari para demonstran yang meneriakkan nama dinasti keluarganya selama demonstrasi Januari melawan sistem keagamaan, serta demonstrasi promonarki besar-besaran pada Februari di Mmchen dan beberapa kota di Amerika Utara.

"Di dalam Iran, puluhan juta orang Iran meneriakkan nama saya, dan mereka masih melakukannya," kata Pahlavi dalam konferensi pers di Berlin, sambil menambahkan bahwa "Generasi Z di Iran saat ini adalah pendukung terbesar saya".

Iran tetap menutup Selat Hormuz meski gencatan senjata diperpanjang

Harga minyak melonjak pada Kamis (23/04), meskipun Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata dalam konflik dengan Iran.

Teheran menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal selama blokade angkatan laut AS masih berlaku.

Harga minyak mentah melonjak hingga 4% pada awal perdagangan Asia, dengan patokan minyak internasional Brent melonjak 3,5% Rabu malam(22/4) hingga menembus $100 (Rp1,72 juta) per barel. Harga minyak telah naik secara signifikan sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Minyak Brent sebelumnya diperdagangkan sekitar $70 (Rp1.2 juta) sebelum dimulainya konflik.

Iran terima pendapatan pertama dari sistem bea masuk Selat Hormuz

Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengumumkan bahwa bank sentral Iran telah menerima pendapatan pertama dari pungutan bea masuk (tol) yang dikenakan pada kapal yang melintasi Selat Hormuz, demikian menurut laporan yang dimuat oleh kantor berita semiresmi Tasnim.

"Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran," kata laporan tersebut.

Jalur penting ini pada dasarnya tetap ditutup untuk pelayaran komersial sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Penguasaan Iran atas jalur air tersebut menyebabkan AS memberlakukan blokade baru di Selat Hormuz sejak 13 April lalu.

Penutupan rute pelayaran vital ini, yang menyumbang seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair global, telah menyebabkan harga minyak, gas, dan bahan bakar global melonjak.

Para ahli mengkritik sistem pembayaran bea masuk (tol) Iran kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

Kebebasan navigasi "merupakan landasan perdagangan maritim internasional … kemampuan untuk melintasi wilayah-wilayah ini tanpa hambatan apa pun," kata Robert Huebert, pakar hubungan internasional dari Universitas Calgary di Kanada. "Jika Iran memungut biaya, Iran akan pertentangan langsung dari hampir semua negara."

Teheran pertama kali mengumumkan pungutan bea tersebut setelah dimulainya Perang AS-Israel terhadap Iran.

Kondisi rapuh di Selat Hormuz membayangi pembicaraan damai AS-Iran

Kondisi perdamaian Timur Tengah rapuh setelah setelah Iran menembaki tiga kapal dan menyita dua kapal internasional di Selat Hormuz pada Rabu(23/4). Hal ini lantas memberi 'jalan buntu' atas prospek pembicaraan perdamaian lanjutan AS-Iran yang rencananya akan digelar di Pakistan minggu ini.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa(22/4) bahwa AS akan memperpanjang gencatan senjata untuk memberi lebih banyak waktu bagi negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan. Gedung Putih mengatakan batasan waktu gencatan senjata tersebut belum ditentukan.

Namun, pejabat Iran tidak menyepakati pertemuan tersebut, mengatakan belum ada keputusan yang diambil mengenai kehadiran Iran dalam putaran pembicaraan damai yang baru. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan gencatan senjata penuh hanya dapat bertahan jika Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran menganggap blokade tersebut sebagai tindakan perang. "Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan dengan pelanggaran gencatan senjata yang begitu terang-terangan," tulis Qalibaf di X.

Iran belum memutuskan apakah akan bergabung dalam putaran pembicaraan baru. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei kepada media pemerintah. Tehran menuduh Amerika Serikat bertindak dengan niat buruk.

Sebelumnya, Mojtaba Ferdousi Pour, Kepala Misi Iran di Mesir, mengatakan kepada kantor berita AP bahwa tidak akan ada delegasi yang pergi ke Pakistan hingga Washington mencabut blokadenya.

Editor: Ayu Purwaningsih

Lihat juga Video: TV Pemerintah Iran Diretas, Muncul 'Putra Mahkota' yang Digulingkan

(ita/ita)



Berita Terkait