Kedua negara saling menyalahkan atas gagalnya perundingan damai di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/04), setelah negosiasi panjang yang tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dimulai enam minggu lalu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Pejabat AS mengatakan negosiasi gagal karena Iran tidak bersedia berkomitmen untuk meninggalkan program nuklirnya. Namun, Teheran menyalahkan Washington atas kegagalan tersebut.
"Kami perlu melihat komitmen yang tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat untuk memilikinya," ujar Wakil Presiden AS JD Vance setelah pembicaraan dengan Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala delegasi, mengatakan tanggung jawab kini berada di tangan Washington. "Sudah saatnya Amerika Serikat memutuskan apakah mereka bisa mendapatkan kepercayaan kami," ujarnya.
Tak ada kesepakatan soal Hormuz atau program nuklir Iran
Pertemuan di Islamabad menjadi perundingan tatap muka pertama antara Amerika Serikat dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus keterlibatan tingkat tinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Pembicaraan ini berlangsung setelah gencatan senjata yang disepakati pada awal pekan.
Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan bahwa tuntutan AS yang dianggap "berlebihan" menghambat kemajuan. Media Iran lainnya menyebut ada kesepakatan pada beberapa isu, tapi perbedaan mendalam tetap ada terkait program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Setelah negosiasi gagal, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade selat tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut suasana perundingan dipenuhi ketidakpercayaan, dan menilai kesepakatan dalam satu pertemuan memang tidak realistis.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak kedua pihak mempertahankan gencatan senjata yang disepakati pada Selasa (07/04), dan menyebutnya "sangat penting" bagi upaya perdamaian.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami. Kita lihat apakah Iran akan menerimanya," kata Wakil Presiden AS JD Vance sebelum meninggalkan Pakistan.
Sejumlah isu masih buntu
Perundingan AS–Iran masih terhenti pada berbagai isu, dan analis menilai perbedaannya sulit dijembatani. Fatemeh Aman dari Atlantic Council mengatakan konflik ini bersifat struktural, bukan sekadar taktis.
"AS ingin pembatasan program nuklir Iran, deeskalasi regional, dan keamanan jalur pelayaran sebagai kebutuhan keamanan. Sementara Iran menuntut pencabutan sanksi, pengakuan, dan perlindungan. Lebih pada status daripada sekadar pembatasan," ujarnya.
Farwa Aamer dari Asia Society Policy Institute di New York menambahkan bahwa kedua pihak memiliki pendekatan berbeda soal langkah ke depan, baik terkait nuklir maupun Selat Hormuz.
Menurut Aman, Washington menginginkan konsesi lebih dulu, sementara Teheran menuntut keringanan lebih dulu. Dengan minimnya kepercayaan dan kepentingan yang saling bertolak belakang, negosiasi pun gagal.
"Perundingan ini gagal karena tujuan akhir kedua pihak memang tidak sejalan," tegasnya.
Bisakah gencatan senjata bertahan?
Para analis cukup berhati-hati, tapi optimistis bahwa gencatan senjata akan bertahan dan serangan tidak segera berlanjut, dengan diplomasi jalur belakang (backchannel) berpotensi menjaga kesepakatan tersebut.
"Gencatan senjata ini bertahan, tetapi rapuh," kata Fatemeh Aman. "Ini tidak didasarkan pada kesepakatan politik, melainkan jeda sementara yang dibentuk oleh kehati-hatian dan perhitungan jangka pendek. Kedua pihak hanya mengelola situasi, bukan menyelesaikannya."
Perundingan di Islamabad dimulai pada Sabtu (11/04), beberapa hari setelah gencatan senjata diumumkan, saat perang enam minggu yang menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar global masih berlangsung.
Farwa Aamer juga cukup optimistis: "Penting agar gencatan senjata tetap bertahan, jalur mediasi tetap terbuka, dan kedua pihak melanjutkan proses diplomatik," ujarnya.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance tidak menjelaskan apa yang akan terjadi setelah gencatan senjata dua minggu berakhir, atau apakah kesepakatan itu akan diperpanjang.
"Risikonya adalah erosi bertahap," ujar Aman. "Insiden lokal, salah perhitungan, atau aksi kelompok sekutu bisa menguji batas penahanan diri. Tanpa tindak lanjut diplomatik, gencatan senjata ini tetap rentan. Mungkin bertahan dalam jangka pendek, tetapi tidak memiliki stabilitas jangka panjang."
"Pembicaraan lanjutan kemungkinan besar akan terjadi, tapi tidak dalam waktu dekat"
Para analis menilai perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat menjadi kecil kemungkinannya, mengingat ketegangan yang meningkat dan kegagalan terbaru. Namun, diplomasi belum berakhir, karena kedua pihak masih memiliki kepentingan kuat untuk melanjutkan negosiasi.
"Pembicaraan lanjutan kemungkinan besar akan terjadi, tapi tidak dalam waktu dekat," kata Fatemeh Aman. "Tidak ada pihak yang ingin terlihat mengalah setelah putaran negosiasi yang gagal. Kemungkinan akan ada jeda sementara kedua pihak untuk mengevaluasi kembali posisi dan daya tawarnya. Jika perundingan dilanjutkan, kemungkinan tidak akan langsung menyentuh isu paling sulit, melainkan dimulai dari langkah teknis yang lebih sempit untuk mengurangi risiko tanpa membutuhkan konsesi besar."
Sementara itu, Farwa Aamer menilai diplomasi senyap dan mediasi masih akan berperan dalam membuka jalan bagi putaran berikutnya. "Namun, hal itu akan bergantung pada bagaimana Amerika Serikat dan Iran menentukan langkah selanjutnya," ujarnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Melisa Lolindu
Saksikan Live DetikSore:
Simak Video 'Negosiasi AS-Iran Buntu, JD Vance Pulang Tanpa Kesepakatan':
(ita/ita)










































