Israel Gempur Lebanon, Iran Ancam Kembali Berperang

Israel Gempur Lebanon, Iran Ancam Kembali Berperang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 09 Apr 2026 18:30 WIB
Israel Gempur Lebanon, Iran Ancam Kembali Berperang
Jakarta -

Setelah serangan Israel di Lebanon pada Rabu (08/04) yang menewaskan dan melukai ratusan orang, Iran mengancam akan melanjutkan pertempuran. Menurut otoritas kesehatan Lebanon, setidaknya 182 orang meninggal dunia dan 900 lainnya terluka akibat serangan itu.

Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran berselisih mengenai perpanjangan kesepakatan gencatan senjata ke Lebanon.

Seorang pejabat senior AS mengatakan proposal gencatan senjata yang berisi 10 poin dari Iran bukanlah serangkaian syarat yang sama dan telah disetujui AS untuk menghentikan perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka, dan yang tidak pernah sekali pun disebut AS sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka," tambah Wakil Presiden AS JD Vance.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang diduga dilakukan AS. Dalam unggahannya di X, ia mengatakan "dasar yang bisa dijadikan pijakan untuk bernegosiasi sudah dilanggar, sehingga pembicaraan lanjutan menjadi tidak masuk akal."

ADVERTISEMENT

Ghalibaf menuding ada tiga pelanggaran oleh AS yakni pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone, serta pelanggaran terhadap hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.

Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan, mereka akan "memenuhi kewajiban dan memberikan tanggapan" jika Israel tidak menghentikan serangannya. Kelompok militan Hizbullah menegaskan mereka memiliki "hak" untuk menanggapi serangan Israel.

PBB: Serangan Israel ke Lebanon bisa jadi 'risiko serius' gencatan senjata

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, lewat juru bicaranya memperingatkan bahwa serangan Israel di Lebanon bisa menimbulkan "risiko serius" terhadap gencatan senjata AS-Iran.

"Aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata dan upaya menuju perdamaian yang komprehensif di kawasan ini. Sekretaris Jenderal mengulangi seruannya kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan," kata juru bicara Sekjen PBB dalam sebuah pernyataan, Rabu (08/04).

"Sekretaris Jenderal mengutuk keras hilangnya nyawa warga sipil dan sangat prihatin dengan meningkatnya jumlah korban sipil, serta menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan jalur diplomatik dan menekankan tidak menggunakan militer untuk konflik ini," kata juru bicara tersebut.

Hizbullah serang balik Israel

Hizbullah mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke Israel sebagai tanggapan atas serangan yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata AS-Iran, Kamis (09/04).

Kelompok militan yang didukung Iran itu mengatakan mereka meluncurkan serangan roket ke kibbutz Manara di Israel utara "sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh."

Iran mengatakan gencatan senjata harus berlaku untuk Lebanon, mengutip pernyataan dari Pakistan, yang menjadi mediator gencatan senjata tersebut. Namun, AS dan Israel mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak berlaku untuk Lebanon.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Arti Ekawati

Lihat juga Video: Kesepakatan Gencatan Senjata Iran-AS di Ujung Tanduk gegara Israel?

(ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads