Akankah Perang Iran Sebabkan Kelangkaan Energi di Eropa?

Akankah Perang Iran Sebabkan Kelangkaan Energi di Eropa?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 02 Apr 2026 08:23 WIB
Fasilitas penyimpanan minyak di Wilhelmshaven.(Lars Penning/dpa/picture alliance)
Fasilitas penyimpanan minyak di Wilhelmshaven.(Lars Penning/dpa/picture alliance)
Brussels -

Komisaris Energi Uni Eropa Dan Jrgensen mengatakan, rencana Eropa tersebut mencakup pembatasan tarif jaringan dan pajak listrik. Karena durasi dan skala krisis masih belum jelas, pihak berwenang merencanakan langkah-langkah yang serupa dengan tindakan yang diambil saat agresi Rusia terhadap Ukraina dimulai pada tahun 2022.

Antisipasi pasokan terganggu bahkan setelah adanya perjanjian damai

Saat itu, setelah invasi Rusia, Uni Eropa terus memberlakukan ambang batas harga untuk gas alam dan pajak keuntungan berlebih bagi perusahaan energi.

Jrgensen menekankan bahwa ia memperkirakan gangguan pasokan energi akan terus berlanjut. Bahkan jika perdamaian tercapai akan ada konsekuensi yang ditimbulkan, karena sebagian infrastruktur energi di wilayah tersebut telah hancur akibat perang Iran, jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktanya harga gas alam di Eropa telah naik lebih dari 70 persen sejak dimulainya perang antara AS dan Israel dengan Iran akhir Februari lalu. Meskipun pasokan minyak mentah dan gas alam untuk UE tidak terpengaruh secara langsung dengan penutupan Selat Hormuz, karena Eropa memperoleh sebagian besar sumber energinya dari wilayah lain.

Namun, dalam jangka pendek, Brussels khawatir tentang pasokan produk minyak olahan seperti kerosin dan solar. Uni Eropa memperoleh sekitar 15 persen kerosinnya dari Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menekankan bahwa tanggung jawab untuk membuka kembali Selat Hormuz tidak ada pada AS, melainkan pada negara-negara lain. Di Gedung Putih, Trump menyebut Amerika Serikat "tidak ada hubungannya" dengan masalah ini. Meskipun hal tersebut merupakan konsekuensi dari perang Amerika-Israel melawan Iran.

Serangan terus berlanjut

Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk yang berbatasan dengannya. Di Kuwait, tangki bahan bakar di bandara internasional terkena serangan pesawat nir awak. Di lepas pantai Qatar, sebuah kapal tanker menjadi target serangan. Teluk Persia menjadi lokasi pelabuhan dan terminal pengiriman penting perdagangan minyak dan gas global.

Dari sana, kapal-kapal mengangkut muatannya ke pasar dunia melalui Selat Hormuz yang strategis. Dengan serangan dan ancaman tersebut, Iran hampir menghentikan lalu lintas pelayaran di selat tersebut.

Membuka Hormuz dengan paksa?

Seperti dilaporkan surat kabar "Wall Street Journal", Uni Emirat Arab berusaha membentuk koalisi dengan AS dan sekutu lainnya untuk membuka Selat Hormuz secara paksa. Seorang perwakilan negara tersebut mengatakan kepada WSJ bahwa diplomat-diplomat Emirat telah mendesak pemerintah Washington dan kekuatan militer di Eropa serta Asia untuk melakukannya.

Uni Emirat Arab ingin Dewan Keamanan PBB menyetujui hal ini dengan mengeluarkan resolusi. Namun, operasi militer dianggap sangat rumit dan berbahaya. Iran dapat dengan mudah menyerang sasaran di selat tersebut lewat jalur darat. Kapal perang hanya memiliki waktu yang sangat singkat di perairan selat yang sempit itu untuk menangkis serangan.

Trump inginkan Iran kembali ke 'zaman batu'

Trump memperkirakan serangan AS di Iran akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu. "Tidak relevan" menurut Trump untuk mencapai kesepakatan dengan pimpinan Teheran, karena AS-Israel akan memastikan bahwa penguasa Iran tidak dapat membangun senjata nuklir, kata Trump.

"Jika kami merasa bahwa mereka telah dikembalikan ke 'zaman batu' untuk waktu yang lama dan tidak mampu lagi mengembangkan senjata nuklir, maka kami akan pergi," kata Presiden AS tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperkirakan bahwa pemerintah Iran akan runtuh cepat atau lambat. "Rezim Ayatollah di Iran lebih lemah dari sebelumnya," katanya. Namun, perjuangan melawan kepemimpinan Iran belum berakhir.

Seruan Paus untuk kembali berunding

Menurut Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Iran belum mengambil keputusan mengenai negosiasi dengan AS. Ia mengatakan kepada stasiun televisi Arab Al-Jazeera bahwa negaranya memiliki keraguan.

"Kami sama sekali tidak percaya bahwa negosiasi dengan AS akan menuai hasil. Tingkat kepercayaan kami (pada mereka) nol," kata Menteri Luar Negeri Iran tersebut.

Paus Leo XIV mendesak Presiden AS Trump dan "semua kepala negara dan pemerintahan di dunia" untuk melakukan perundingan damai.

"Kembalilah ke meja perundingan untuk berdialog," serunya kepada para pemimpin politik. Hal ini sangat penting, terutama menjelang perayaan Paskah yang akan datang. "Akhiri perang ini," kata pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih

Simak Video 'Trump Bicara Rezim Baru Iran: Mereka Jauh Kurang Radikal':

(nvc/nvc)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads