Situs Nuklir Diserang AS, Iran Balas Serang Tanker Minyak

Situs Nuklir Diserang AS, Iran Balas Serang Tanker Minyak

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 31 Mar 2026 16:54 WIB
Situs Nuklir Diserang AS, Iran Balas Serang Tanker Minyak
Jakarta -

Serangan udara yang diduga dilakukan Amerika Serikat (AS) dilaporkan menghantam Kota Isfahan di Iran tengah pada Selasa (31/03) dini hari. Rekaman yang dibagikan Presiden AS Donald Trump memperlihatkan ledakan besar yang menerangi langit malam di kota tersebut.

Isfahan merupakan salah satu lokasi fasilitas nuklir penting Iran dan diyakini menyimpan uranium yang diperkaya tinggi. Menurut laporan kantor berita AP, sebagian uranium Iran kemungkinan disimpan atau dikubur di fasilitas nuklir Isfahan.

Trump membagikan video ledakan tersebut di media sosial, yang menunjukkan bola api besar muncul di langit malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, fasilitas nuklir di Isfahan juga pernah menjadi target serangan militer Amerika Serikat pada Juni 2025.

Trump menegaskan bahwa Washington siap memperluas operasi militer jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz dan tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

"Kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk pelayaran, kami akan mengakhiri 'kehadiran' kami di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya pembangkit listrik mereka, sumur minyak mereka, dan Pulau Kharg."

Pulau Kharg merupakan pusat utama ekspor minyak Iran dan menjadi salah satu target strategis dalam konflik ini.

Trump juga menyebut kemungkinan serangan terhadap fasilitas desalinasi air Iran jika perang terus berlanjut.

Sementara itu, Iran menuduh Washington menggunakan jalur diplomasi untuk menunda waktu sambil memperkuat pengerahan pasukan di kawasan.

Tanker minyak Kuwait diserang di perairan Dubai

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Iran juga melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia.

Sebuah kapal tanker berbendera Kuwait bernama Al-Salmi diserang pesawat nirawak atau drone di perairan Dubai dan terbakar. Kapal tersebut membawa sekitar dua juta barel minyak mentah, yang nilainya diperkirakan lebih dari 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,3 triliun pada harga saat ini.

Kuwait Petroleum Corporation, pemilik kapal tersebut, mengatakan serangan terjadi pada dini hari Selasa (31/03) dan menyebabkan kebakaran serta kerusakan pada lambung kapal. Tidak ada laporan korban luka. Otoritas Dubai kemudian mengatakan kebakaran tersebut berhasil dipadamkan.

Serangan terhadap Al-Salmi merupakan salah satu dari serangkaian serangan terhadap kapal dagang di Teluk Persia dan Selat Hormuz sejak konflik dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Selain serangan terhadap kapal tanker, beberapa negara Teluk juga melaporkan insiden keamanan. Sirene serangan udara terdengar di Bahrain, sementara Arab Saudi mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat tiga rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh.

Di Dubai sendiri, empat orang dilaporkan terluka setelah puing-puing drone yang berhasil dicegat jatuh ke kawasan permukiman.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan serangan Iran sebenarnya menargetkan pasukan Amerika Serikat. "Operasi kami ditujukan kepada agresor musuh yang tidak menghormati bangsa Arab maupun Iran dan tidak mampu memberikan keamanan. Sudah saatnya mengusir pasukan Amerika Serikat."

Namun serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi memicu kekhawatiran bahwa jalur perdagangan energi global kini berada dalam risiko serius.

Krisis energi global dan mobilisasi militer

Konflik yang semakin meluas ini juga berdampak besar pada pasar energi dunia.

Iran terus mempertahankan tekanan terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang biasanya dilalui kapal yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Gangguan pada jalur tersebut membuat harga minyak melonjak tajam sejak perang dimulai pada 28 Februari. Harga minyak Brent berada di sekitar 107 dolar per barel dalam perdagangan awal, naik lebih dari 45 persen sejak perang dimulai.

Serangan terhadap kapal tanker serta ancaman terhadap jalur pelayaran energi memperburuk kekhawatiran pasar. Lonjakan harga energi juga mulai dirasakan oleh konsumen di Amerika Serikat.

"Harga rata-rata bensin nasional di Amerika Serikat telah melampaui 4 dolar per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun," menurut data dari layanan pemantauan harga GasBuddy.

Kenaikan harga bahan bakar ini juga menjadi tekanan politik bagi Presiden Trump menjelang pemilihan sela Kongres pada November mendatang.

Gedung Putih mengatakan Trump ingin mencapai kesepakatan diplomatik dengan Iran sebelum tenggat waktu baru yang ditetapkan bagi Teheran. "Presiden ingin mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Iran sebelum tenggat waktu kedua pada 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

Namun Iran menolak proposal perdamaian yang disampaikan melalui perantara negara-negara regional. "Proposal tersebut tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.

Ia menegaskan bahwa Iran saat ini fokus mempertahankan diri dari serangan militer. "Posisi kami jelas. Kami berada di bawah agresi militer. Oleh karena itu seluruh upaya dan kekuatan kami difokuskan untuk mempertahankan diri."

Editor: Arti Ekawati

(ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads