Pada 28 Februari, Amerika Serikat meluncurkan "Operation Epic Fury" di Iran. Dalam sepekan setelahnya, AS melakukan ribuan serangan di seluruh wilayah Iran dengan mengerahkan lebih dari 20 sistem persenjataan dari udara, darat, dan laut.
Dalam gelombang pertama serangan gabungan ASβIsrael, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas. Presiden AS Donald Trump mengatakan konflik tersebut bisa berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi AS memiliki "kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu."
Seberapa percaya diri pemerintahan Trump?
Pemerintahan Trump menunjukkan keyakinan tinggi terhadap kapasitas militer AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak kekurangan amunisi," kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat mengunjungi Komando Pusat AS (CENTCOM) di Florida. "Persediaan senjata defensif dan ofensif kami memungkinkan kampanye ini berlanjut selama yang kami perlukan."
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga memberikan jaminan serupa. "Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas ini, baik untuk serangan maupun pertahanan."
Namun, Trump secara tidak langsung mengakui adanya potensi masalah. Dalam unggahan di platform media sosialnya Truth Social, ia menulis bahwa persediaan amunisi AS pada tingkat menengah dan menengah-atas "tidak pernah lebih tinggi atau lebih baik." Namun untuk senjata dengan spesifikasi tertinggi, ia mengatakan persediaannya "cukup baik tetapi belum berada pada tingkat yang diinginkan."
Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga pemikir Stimson Center, menilai perbedaan tingkat kualitas senjata tersebut memang penting. Menurutnya, kekhawatiran terbesar ada pada senjata kelas tertinggi seperti misil jarak jauh dan sistem pencegat.
"Ada keterbatasan nyata pada stok senjata di kategori itu," katanya.
Perhitungan matematis perang
Sejak awal konflik, AS, Israel, dan Iran saling meluncurkan serangan besar di kawasan tersebut. Menurut CENTCOM, AS menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam tujuh hari pertama.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ribuan drone Shahed-136 dan ratusan misil ke target AS di kawasan.
Di sinilah perhitungan biaya menjadi tidak nyaman.
Drone Shahed Iran diperkirakan berbiaya produksi antara $20.000 hingga $50.000 (sekitar Rp337 juta β Rp843 juta). Namun metode pencegatan oleh AS jauh lebih mahal.
Pesawat tempur yang menembakkan misil AIM-9 membutuhkan sekitar $450.000 per tembakan (sekitar Rp7,6 miliar), belum termasuk biaya operasional pesawat sekitar $40.000 (sekitar Rp675 juta) per jam.
"Biaya mengoperasikan pesawat tempur selama satu jam setara dengan harga satu drone Shahed," kata Grieco. "Itu tidak efisien. Ini perbandingan biaya yang tidak menguntungkan."
Ia berpendapat AS seharusnya belajar dari pengalaman Ukraina, yang menggunakan metode lebih murah seperti drone pencegat yang bahkan lebih murah dari Shahed.
"Amerika Serikat sudah menguji teknologi itu, hanya saja belum membelinya dalam jumlah yang cukup," kata Grieco.
Sementara itu, misil pertahanan Patriot yang jauh lebih mahal, sekitar $3 juta (sekitar Rp50,6 miliar) per misil, digunakan untuk mencegat misil balistik Iran. Di sinilah muncul kekhawatiran terkait persediaan.
Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan stoknya mulai terkuras cepat.
"Di awal konflik, mungkin ada sekitar 1.000 misil Patriot, dan saya kira kita sudah menggunakan cukup banyak dari inventaris itu," katanya.
Ia memperkirakan 200β300 misil Patriot telah digunakan.
Masalahnya, senjata kelas tinggi seperti ini membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Lockheed Martin hanya mengirim sekitar 620 interceptor PAC-3 sepanjang tahun 2025.
"Jika hari ini Anda memesan satu Patriot lagi, kemungkinan butuh setidaknya dua tahun sebelum sistem itu tersedia," kata Cancian.
Untuk senjata jarak pendek seperti bom, kit JDAM, dan misil Hellfire, situasinya berbeda.
"Secara militer, saya kira kita bisa mempertahankan operasi ini untuk waktu yang sangat lama. Kita memiliki amunisi darat untuk itu," kata Cancian.
Gedung Putih bertemu perusahaan pertahanan
Pada 6 Maret, Trump bertemu dengan sejumlah perusahaan pertahanan. Setelah pertemuan tersebut, ia menulis di Truth Social bahwa para produsen sepakat melipatgandakan produksi senjata kelas tertinggi hingga empat kali lipat.
Gedung Putih menekankan bahwa pertemuan itu sebenarnya sudah dijadwalkan sejak beberapa minggu sebelumnya.
Namun Grieco meragukan kebaruan pengumuman tersebut.
"Bagi saya itu seperti bukan pengumuman baru, karena sebagian besar rencana itu sudah diumumkan beberapa bulan lalu," katanya.
Kesepakatan Lockheed Martin untuk meningkatkan produksi interceptor Patriot PAC-3 dari 600 menjadi 2.000 per tahun sebenarnya sudah dipublikasikan sejak Januari. Setelah pertemuan di Gedung Putih, tidak ada jadwal baru yang diumumkan. Targetnya masih tahun 2030.
Bahkan dengan percepatan produksi, prosesnya tetap rumit.
"Ada banyak titik kemacetan dalam rantai produksi. Bahkan jika Anda menggelontorkan banyak uang, tidak semudah menyalakan sakelar untuk langsung memproduksi. Tetap membutuhkan waktu," kata Grieco.
Konsekuensi global
Para analis sepakat bahwa AS kemungkinan tidak akan kehabisan senjata selama perang di Iran, tetapi ada kekhawatiran untuk masa depan.
"Saya tidak akan mengatakan kita akan kehabisan," kata Grieco. "Namun masalahnya adalah kita bisa berakhir dengan persediaan yang sangat menipis, dan itu akan membatasi pilihan strategis AS dalam beberapa tahun ke depan di Indo-Pasifik, Eropa, bahkan Timur Tengah."
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sudah menyuarakan kekhawatiran tersebut.
"Ada kekhawatiran bahwa jika perang berlangsung lama, Amerika mungkin mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan misil pertahanan udara ke Ukraina," katanya kepada penyiar nasional Italia RAI.
Dalam wawancara dengan Bloomberg, mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken juga memberikan peringatan serupa. Operasi berkepanjangan di Iran bisa membuat AS lebih rentan terhadap ancaman dari Rusia dan Cina, katanya.
Apakah Iran diremehkan?
Jenderal Dan Caine melaporkan bahwa peluncuran misil balistik Iran turun 86% dibanding hari pertama pertempuran. Washington menganggap ini sebagai tanda kemajuan.
Grieco mengatakan sulit mengetahui penyebab pasti penurunan tersebut, tetapi kemungkinan besar AS telah melemahkan kemampuan misil balistik Iran secara signifikan.
Namun untuk drone Shahed, estimasi jumlahnya sangat sulit karena produksinya tersebar.
"Bahkan sebelum perang, kita tidak benar-benar punya estimasi yang baik tentang jumlahnya," kata Grieco. "Jika mau, seseorang bahkan bisa merakitnya di garasi."
Lebih mendasar lagi, ia menilai AS mungkin telah meremehkan Iran.
"Jika tujuannya adalah perubahan rezim, kekuatan udara saja tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim," katanya.
Menurutnya, sikap Iran yang sebelumnya relatif menahan diri terhadap serangan AS dan Israel mungkin disalahartikan sebagai kelemahan, sehingga menyebabkan kegagalan dalam strategi pencegahan.
"Mereka bertarung demi kelangsungan rezim. Mereka punya insentif untuk bertarung keras dan menanggung biaya besar," katanya.
Cancian juga sepakat.
"Kita telah memukul mereka cukup keras dan mereka belum meminta perdamaian," katanya. "Mungkin itu tidak diantisipasi."
Keberhasilan cepat AS dalam menangkap mantan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro sebelumnya meningkatkan kepercayaan diri Washington terhadap hasil Operation Epic Fury. Namun sejarah menunjukkan AS pernah salah memperkirakan durasi dan biaya perang sebelumnya.
Persediaan senjata AS mungkin tidak akan habis dalam perang di Iran. Tetapi pertanyaan yang tersisa adalah berapa banyak yang akan tersisa setelah perang itu berakhir.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
Simak juga Video Donald Trump Klaim Telah Menang Atas Iran











































