Sepertiga Pria Gen Z Ingin Perempuan yang Patuh

Sepertiga Pria Gen Z Ingin Perempuan yang Patuh

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 09 Mar 2026 18:08 WIB
Sepertiga Pria Gen Z Ingin Perempuan yang Patuh
Jakarta -

Sebuah studi global terbaru menemukan bahwa nilai-nilai gender tradisional kembali menguat. Salah satu temuan yang cukup mencolok: hampir sepertiga pria dari Generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, percaya bahwa seorang istri seharusnya "selalu patuh" kepada suaminya.

Survei ini dipublikasikan menjelang Hari Perempuan Internasional. Penelitian dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women's Leadership di King's College London, dengan menganalisis pandangan 23.000 responden dari 29 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Brasil, Australia, dan India.

Temuan tersebut muncul di tengah maraknya konten media sosial yang kembali mempromosikan peran gender tradisional. Fenomena ini terlihat antara lain dari kreator TikTok yang mempopulerkan gaya hidup "tradwife" atau istri yang menjalani peran domestik tradisional, serta influencer sayap kanan seperti Andrew Tate. Tate sendiri saat ini sedang diselidiki atas dugaan kekerasan dan pemerkosaan terhadap sejumlah perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil studi menunjukkan bahwa pria Gen Z memiliki pandangan gender paling tradisional dibanding kelompok usia lainnya. Sebanyak 31% pria Gen Z mengatakan perempuan seharusnya bersikap patuh, sementara hanya 13% pria generasi Baby Boomer yaitu mereka yang lahir antara 1946 hingga 1964 yang memiliki pandangan serupa.

Perbedaan itu juga terlihat dalam soal siapa yang memegang keputusan dalam hubungan. Sepertiga pria muda percaya bahwa laki-laki seharusnya memiliki keputusan akhir. Pandangan ini jauh lebih jarang ditemukan pada generasi yang lebih tua.

ADVERTISEMENT

"Ekosistem digital memperkuat polarisasi karena algoritma media sosial memberi keuntungan pada pesan-pesan ekstrem," jelas Robert Grimm, kepala riset politik Ipsos Jerman.

Menurut Grimm, pandangan radikal dari para influencer maskulinitas maupun gerakan tandingan feminis lebih mudah menyebar dan mendapat perhatian di media sosial. Ia menambahkan bahwa pria muda lebih sering merasa tidak nyaman jika perempuan sangat mandiri atau memiliki penghasilan lebih tinggi daripada mereka.

Konflik antar-generasi

Sementara, sebanyak 18% perempuan Gen Z juga setuju dengan gagasan bahwa seorang istri harus patuh kepada suaminya, tetapi hanya 6% perempuan dari generasi Baby Boomer yang memiliki pandangan tersebut. Survei ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup besar antar kelompok usia tentang peran laki-laki dan perempuan. Namun, di dalam Gen Z sendiri juga terlihat perbedaan yang jelas antara pandangan laki-laki dan perempuan.

"Khususnya pada Gen Z, data kami menunjukkan dualitas yang menarik. Mereka adalah kelompok yang paling mungkin setuju bahwa perempuan dengan karier sukses lebih menarik bagi pria. Namun pada saat yang sama, mereka juga paling mungkin setuju bahwa seorang istri harus selalu patuh kepada suaminya, dan bahwa perempuan tidak boleh terlihat terlalu mandiri atau terlalu berdiri sendiri," kata Kelly Beaver, CEO Ipsos untuk Inggris dan Irlandia.

Perbedaan pandangan yang serupa juga terlihat dalam isu seksualitas. Sebanyak 21% pria Gen Z berpendapat bahwa "perempuan sejati" seharusnya tidak pernah mengambil langkah pertama dalam hubungan dan hanya 7% pria Baby Boomer yang memiliki pandangan tersebut. Di kalangan perempuan Gen Z sendiri, sekitar 12% memiliki pandangan yang sama.

Tekanan sosial terkait maskulinitas juga cukup terasa. Tiga dari sepuluh pria muda percaya bahwa seseorang tidak seharusnya mengatakan "I love you" kepada teman. Sementara itu, 43% berpendapat bahwa laki-laki harus terlihat kuat secara fisik. Bahkan, 21% menganggap pria yang terlibat dalam pengasuhan anak sebagai "kurang maskulin". Sebagai perbandingan, hanya 8% pria Baby Boomer yang memiliki pandangan tersebut.

Pendapat pribadi vs persepsi sosial

"Sangat mengkhawatirkan melihat norma gender tradisional masih bertahan hingga sekarang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, banyak orang tampaknya merasa tertekan oleh ekspektasi sosial yang sebenarnya tidak selalu mencerminkan pandangan pribadi mereka sendiri," kata Heejung Chung, direktur Global Institute for Women's Leadership di King's Business School London.

Ia menambahkan bahwa banyak pria muda saat ini cenderung menganggap masyarakat di sekitar mereka lebih tradisional daripada kenyataannya.

Survei ini juga menunjukkan adanya kesenjangan persepsi. Hanya 17% pria yang percaya bahwa perempuan seharusnya bertanggung jawab atas pekerjaan perawatan seperti mengasuh anak atau merawat keluarga. Namun, 35% dari mereka merasa masyarakat mengharapkan perempuan menjalankan peran tersebut. Pola yang sama juga terlihat dalam soal keuangan. Banyak responden menganggap pandangan tradisional itu dipegang oleh orang lain, meskipun mereka sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya setuju.

"Banyak pria Gen Z tidak hanya menempatkan ekspektasi yang membatasi terhadap perempuan, tetapi juga secara tidak sadar menempatkan diri mereka sendiri dalam standar maskulinitas yang kaku," kata Julia Gillard, ketua Global Institute for Women's Leadership.

Tidak terlalu mengejutkan, 61% pria muda merasa upaya untuk mencapai kesetaraan gender sudah cukup dilakukan. Bahkan, 57% mengatakan mereka merasa laki-laki kini justru mengalami diskriminasi.

"Kita perlu terus berupaya menghapus anggapan bahwa kesetaraan gender adalah permainan menang-kalah, di mana hanya perempuan yang mendapatkan manfaat," kata Gillard. "Semua pihak perlu diajak dalam perjalanan menuju kesetaraan gender, dengan pemahaman yang jelas bahwa kesetaraan ini juga berdampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan."

Studi ini menunjukkan bahwa Generasi Z sedang berada dalam proses memikirkan ulang dan menilai kembali berbagai peran gender. Di satu sisi, banyak anak muda menyatakan keinginan akan kebebasan, keberagaman, dan kesetaraan. Namun pada saat yang sama, sebagian dari mereka masih mempertahankan pandangan tradisional yang cukup kuat tentang peran laki-laki dan perempuan.

"Sebagai masyarakat kita perlu menolak tekanan untuk kembali ke belakang dan justru mempercepat perubahan," tegas Gillard. "Riset yang baik sangat penting agar perdebatan publik bisa berjalan secara rasional dan berbasis data."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Tezar Aditya Rahman

Simak juga Video 'Ramadan dan Persatuan Umat di Era Disrupsi':

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads