Dalam langkah yang mempertegas ketegangan bilateral yang telah berbulan-bulan mengeras, Cina pada Selasa (24/2) menjatuhkan pembatasan terhadap 40 perusahaan dan entitas Jepang. Tuduhannya: membantu memperkuat kapabilitas militer Negeri Matahari Terbit.
Langkah ini bukan datang dari ruang hampa. Akar persoalan merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November lalu. Dia menyatakan Tokyo bisa menggunakan kekuatan militernya untuk membela Taiwan bila pulau itu diserang. Bagi Beijing, pernyataan tersebut menyentuh urat sensitif.
Taiwan sendiri adalah pulau yang secara de facto berdaulat penuh, yang ikut dijamin oleh dukungan militer Amerika Serikat. Sejarah pendiriannya berkaitan dengan eksodus Partai Kuomintang dari daratan Tiongkok setelah kalah perang melawan kaum Komunis. Bagi Beijing, wilayah itu tetap bagian tak terpisahkan dari teritorialnya, sesuai prinsip "Satu Cina".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keran ekspor dipersempit
Kementerian Perdagangan Cina membatasi ekspor kepada 20 entitas Jepang, termasuk perusahaan-perusahaan dalam konglomerasi Mitsubishi Group serta Japan Aerospace Exploration Agency.
Mulai Selasa ini, eksportir Tiongkok dilarang menjual barang-barang "dual-use" alias kegunaan ganda kepada entitas tersebutβistilah ini merujuk kepada produk sipil yang berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau persenjataan.
Padahal, pada Januari lalu Beijing telah mengumumkan larangan luas atas ekspor barang dual-use ke Jepang. Namun kebijakan terbaru ini lebih tajam: puluhan perusahaan papan atas kini disebut secara spesifik.
Dampaknya segera terasa di pasar. Sejumlah saham perusahaan terkait melemah di Tokyo Stock Exchange. Nilai tukar yen pun tergelincir 0,4 persen ke level 155,27 per dolar AS.
Tak berhenti di situ, 20 perusahaan lainβtermasuk produsen otomotif Subaruβmasuk daftar pengawasan. Artinya, setiap ekspor ke mereka akan melalui pemeriksaan lebih ketat.
Beijing menyebut kebijakan ini sebagai langkah "sah, masuk akal, dan legal" untuk membendung apa yang disebutnya sebagai "remiliterisasi" dan ambisi nuklir Jepang. Namun pemerintah Cina juga berupaya meredakan kekhawatiran pelaku usaha, dengan menegaskan bahwa entitas yang beroperasi "dengan itikad baik" tidak perlu cemas dan bahwa perdagangan normal tak akan terganggu.
Respons Tokyo: Mengkaji dampak
Dari Tokyo, nada respons masih terukur. Seorang pejabat perdagangan Jepang mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah akan "mengambil langkah yang tepat" setelah menganalisis dampak kebijakan baru tersebut.
Sinyal ketegangan sebenarnya telah muncul sejak akhir tahun lalu. Media Jepang pada November melaporkan Cina menghentikan ekspor makanan laut ke Jepang. Pada Januari, Beijing bahkan menarik dua panda dari kebun binatang di Tokyoβlangkah simbolik yang menyentuh ranah diplomasi lunak.
Jika sebelumnya diplomasi panda menjadi jembatan, kini perdagangan menjadi alat tekanan. Hubungan BeijingβTokyo memasuki babak baru: dingin, berhitung, dan sarat pesan politik.
Editor: Yuniman Farid
Tonton juga video "Cosplay Conan Dilarang di China, Kenapa?"
(ita/ita)










































