Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Warga Jerman Dukung Demokrasi

Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Warga Jerman Dukung Demokrasi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 23 Feb 2026 14:57 WIB
98% responden survei Germany Monitor 2025 mengatakan mereka mendukung demokrasi (Foto: Hauke-christian Dittrich/dpa/picture alliance)
98% responden survei 'Germany Monitor 2025' mengatakan mereka mendukung demokrasi (Foto: Hauke-christian Dittrich/dpa/picture alliance)
Jakarta -

Di seluruh dunia, rezim otoriter semakin meningkat, kelompok populis memperoleh momentum, dan masyarakat demokratis menghadapi tekanan. Perang, inflasi, serta kekhawatiran terhadap kemerosotan ekonomi memicu ketidakpastian yang besar.

Survei Germany Monitor 2025 menunjukkan bahwa mayoritas warga Jerman tetap percaya pada demokrasi, bahkan dukungan terhadap demokrasi sebagai bentuk pemerintahan meningkat, terutama di wilayah Jerman timur. Hal ini disampaikan Komisaris Pemerintah Federal untuk Jerman Timur, Elisabeth Kaiser, di Berlin pada Kamis (19/02).

"Hal yang baik bahwa demokrasi sebagai bentuk pemerintahan mendapat dukungan penuh dari warga. Bahkan di bagian timur," ujar Kaiser, yang juga merupakan anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat (SPD) itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perubahan dalam demokrasi menjadi fokus utama studi tersebut. Sebanyak 4.000 responden berusia di atas 16 tahun di seluruh Jerman disurvei secara representatif sejak musim semi 2025 hingga September. Penelitian ini dilakukan bersama oleh Pusat Studi Sosial di Halle, Universitas Jena, dan Leibniz Institute for the Social Sciences (GESIS), serta didanai oleh Komisaris Pemerintah Federal untuk Jerman Timur.

Kaiser mencatat bahwa meskipun 98% responden menyatakan percaya pada gagasan demokrasi, hanya 60% yang menilai sistem tersebut saat ini berjalan dengan baik. Ia juga menyoroti kurangnya pemahaman mengenai prinsip dasar demokrasi: Hanya 68% responden yang mengetahui bahwa demokrasi berarti pemerintah harus mematuhi keputusan parlemen serta prinsip pemisahan kekuasaan.

ADVERTISEMENT

Sebanyak 21% responden menunjukkan keterbukaan terhadap pemerintahan otoriter. Para peneliti menyimpulkan bahwa tingginya dukungan terhadap demokrasi bukan berarti "tidak ada yang mendukung transformasi otokratis atau otoriter dalam masyarakat."

Sebanyak 31% responden di seluruh Jerman setuju dengan pernyataan bahwa "Jerman saat ini membutuhkan partai tunggal yang kuat dan mewakili kehendak seluruh rakyat." Di wilayah bekas Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur sebelum 1990), angkanya bahkan mencapai 35%. Meski demikian, hanya 4% responden yang setuju dengan pernyataan "dalam keadaan tertentu, diktator adalah bentuk pemerintahan yang lebih baik."

Warga Jerman menerima perubahan

Para peserta survei merasakan perubahan sikap paling besar pada isu pertahanan. Sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina hampir empat tahun lalu, Jerman mulai membahas peningkatan investasi pertahanan, penguatan kembali Bundeswehr (angkatan bersenjata Jerman), serta memperkenalkan kembali wajib militer.

Belakangan, sebagian warga Jerman juga merasa tidak lagi dapat sepenuhnya bergantung pada dukungan militer Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Sosiolog Reinhard Pollak dari Mannheim, yang memimpin penelitian bersama tujuh rekannya, merangkum temuan mereka dalam sebuah konferensi pers di Berlin: "Seperempat populasi menginginkan perubahan. Seperempat lainnya mengatakan: Kami skeptis, ini terlalu cepat dan terlalu luas bagi kami. Dan mayoritas yang netral bersikap ambivalen dan mengatakan, 'Tergantung.' Yang mengejutkan kami adalah bahwa ada gambaran yang begitu jelas, dan masyarakat pada umumnya tidak lelah dengan perubahan."

Pandangan beragam tentang isu imigrasi

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa warga Jerman memiliki pandangan yang beragam terhadap isu imigrasi yang kontroversial, yang ingin dibatasi oleh pemerintah koalisi konservatif Uni Kristen Demokrat dan Uni Kristen Sosial (CDU/CSU).

Sebanyak 68% responden menilai Jerman perlu merekrut tenaga kerja terampil dari luar negeri, dan 59% percaya negara harus lebih aktif mendorong integrasi imigran. Namun, 28% responden berpendapat peningkatan imigrasi sejak 2015 membawa banyak perubahan negatif.

Angka ini sejalan dengan tingkat dukungan nasional terhadap partai populis sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), yang menjadikan penolakan terhadap imigrasi sebagai agenda utama kampanyenya.

Perbedaan Timur dan Barat

Penelitian juga menemukan perbedaan antara Jerman Timur dan Barat. Tim peneliti menemukan bahwa di wilayah Barat, optimisme dan kemauan menerima perubahan tidak bergantung pada apakah responden tinggal di daerah kaya atau miskin. Sebaliknya, di wilayah Timur, faktor ekonomi berperan besar: Warga yang tinggal di daerah yang kurang sejahtera cenderung lebih skeptis terhadap negara dan institusinya.

Hal ini juga terlihat dalam penilaian terhadap proses reunifikasi Jerman sejak 1990. Di Jerman Barat, sekitar 55% responden menilai reunifikasi secara positif. Sementara di Jerman Timur, responden yang mendukung bervariasi. Jumlahnya mencapai 72% di wilayah yang ekonominya lebih baik, terutama kota-kota besar, tetapi hanya 49% di daerah yang secara ekonomi kurang berkembang.

Artikel ini diadaptasi dari artikel berbahasa Inggris

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Prihardani Purba

Lihat juga Video 'Pencuri Gali Lubang dan Bobol Brankas Bank di Jerman, Rp 195 M Raib':

(ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads