Serangan Masjid di Pakistan Ungkap Ancaman Teror Meningkat

Serangan Masjid di Pakistan Ungkap Ancaman Teror Meningkat

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 11 Feb 2026 15:19 WIB
Serangan Masjid di Pakistan Ungkap Ancaman Teror Meningkat
Jakarta -

Serangan bom bunuh diri yang menargetkan sebuah masjid Syiah di ibu kota Pakistan pada Jumat (06/02) lalu kembali menyoroti rapuhnya situasi keamanan di negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut.

Menurut otoritas setempat, ledakan itu menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 orang lainnya.

Hussain Ali, 34 tahun, sedang berada di masjid bersama saudaranya saat serangan terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang-orang mulai berlari dan berteriak, berhamburan ke segala arah. Asap dan darah ada di mana-mana, di lantai dan di sajadah. Saya kehilangan saudara saya, Abbas, dalam kejadian itu," katanya kepada DW.

Kelompok afiliasi ISIS di kawasan tersebut, yang dikenal sebagai ISIS di Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan. Insiden ini menjadi serangan paling mematikan di Islamabad sejak bom bunuh diri pada 2008 di Hotel Marriott yang menewaskan 63 orang dan melukai lebih dari 250 orang.

ADVERTISEMENT

Memburuknya situasi keamanan Pakistan

Komunitas Syiah merupakan minoritas di negara berpenduduk 241 juta jiwa yang mayoritas Sunni. Mereka kerap menjadi target kekerasan sektarian, termasuk oleh ISIS dan kelompok Sunni, Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).

Serangan terbaru ini terjadi ketika pemerintahan Shehbaz Sharif tengah berjuang mengendalikan lonjakan serangan militan.

"Pakistan saat ini menghadapi tantangan keamanan dalam negeri yang sangat serius dari berbagai faksi Taliban Pakistan dan Islamic State Khorasan Province (ISKP)," kata analis keamanan yang berbasis Islamabad, Ihsanullah Tipu Mehsud.

Menurut Mehsud, TTP memiliki kapasitas yang lebih besar dibanding ISKP.

"TTP memiliki jumlah pejuang lebih banyak, wilayah operasi lebih luas, persenjataan lebih canggih, dan kemampuan propaganda yang lebih kompleks," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa TTP juga memanfaatkan jaringan pendanaan berlapis dan tempat perlindungan aman yang berkelanjutan di Afganistan.

Di sisi lain, katanya, ISKP meski lebih kecil justru menghadirkan ancaman yang sulit diprediksi karena taktik operasinya yang cepat berubah dan sulit dilacak.

"ISKP sangat tangguh dan meski mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir di Afganistan maupun Pakistan, kelompok ini tetap mampu menjalankan operasinya," kata Mehsud.

Ancaman tegas dari pemerintah Pakistan

Pihak berwenang membantah anggapan bahwa negara kehilangan kendali, dengan menyebut banyak rencana serangan yang berhasil digagalkan dan operasi intelijen yang terus berjalan.

Mereka juga telah menangkap beberapa tersangka yang diduga terlibat dalam serangan terbaru.

"Kami telah menangkap para fasilitator ledakan dalam hitungan jam. Kami akan terus memerangi mereka hingga terorisme berakhir di negara ini. Kami tidak akan membiarkan mereka lolos," kata Menteri Dalam Negeri Pakistan Talal Chaudhary kepada DW.

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menyalahkan Taliban yang berkuasa di Afganistan atas memburuknya keamanan di kawasan. Ia menilai kelompok tersebut telah menciptakan situasi yang "mirip atau bahkan lebih buruk" dibanding sebelum serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, mengatakan pelaku bom bunuh diri yang menyerang masjid Syiah itu memiliki riwayat perjalanan ke Afganistan. Ia menilai kejadian ini menunjukkan bahwa militan anti-Pakistan yang beroperasi dari Afganistan bisa menyerang bahkan hingga ke ibu kota.

Asif juga menuduh India terlibat dalam serangan tersebut, meski tanpa memberikan bukti.

Menanggapi tudingan itu, Kementerian Luar Negeri India mengecam serangan masjid tersebut dan membantah keterlibatannya, seraya menyebut tuduhan Pakistan sebagai "tak berdasar." Kementerian Luar Negeri Afganistan turut membantah klaim bahwa Kabul memberikan perlindungan bagi kelompok militan yang melakukan serangan di Pakistan.

Situasi keamanan Pakistan akan membaik?

Imtiaz Gul, direktur eksekutif Center for Research and Security Studies, mengatakan situasi ini tidak akan membaik kecuali pemerintah Pakistan melibatkan "semua partai politik dan para pemangku kepentingan."

"Situasi tidak akan membaik jika pemerintah tidak merangkul semua pihak. Yang dibutuhkan adalah pemerataan kepercayaan, bukan sekadar memperluas aparat keamanan," katanya kepada DW.

Pandangan serupa disampaikan analis keamanan Ihsanullah Tipu Mehsud. Menurutnya,stabilisasi keamanan membutuhkan pendekatan yang lebih seimbang.

"Untuk benar-benar mengatasi situasi keamanan dan ketertiban yang saat ini bergejolak, Pakistan harus menyeimbangkan kekuatan militer dengan kekuatan non-militer, mulai dari tata kelola yang lebih baik, peningkatan layanan di wilayah terpinggirkan, dan mengatasi jarak antara negara dan masyarakat," kata Mehsud.

Ia menambahkan bahwa Pakistan juga perlu memadukan pendekatan diplomatik dan tekanan strategis untuk mendorong perubahan sikap Taliban Afganistan terhadap kelompok-kelompok militan anti-Pakistan.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Levie Wardana

Editor: Hani Anggraini

Lihat juga Video 'Pakistan Bunuh 145 Militan Usai Serangan Separatis':

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads