Indonesia dan Australia menandatangani traktat keamanan yang mewajibkan kedua negara untuk saling berkonsultasi apabila salah satu pihak menghadapi ancaman. Kesepakatan tersebut diteken usai pertemuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese di Istana Merdeka, Jakarta pada Jumat (06/02).
Rincian lengkap traktat tersebut belum diungkapkan ke publik. Namun, kesepakatan ini sebelumnya telah diumumkan pada November 2025, saat Prabowo melakukan kunjungan ke Australia.
Perdana Menteri Anthony Albanese menilai perjanjian ini mencerminkan eratnya hubungan bilateral kedua negara. "Kesepakatan ini menandakan bahwa hubungan Australia dan Indonesia berada pada titik terkuat sepanjang sejarah," ujar Albanese di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Traktat tersebut, sambung Albanese, merupakan perluasan penting dari kerja sama keamanan dan pertahanan yang telah ada. "Perjanjian ini menunjukkan kekuatan kemitraan kami serta kedalaman rasa saling percaya dan kerja sama antara kedua negara," ujarnya.
Prinsip bertetangga dan politik bebas aktif
Presiden Prabowo mengatakan traktat keamanan ini mencerminkan hubungan Indonesia dan Australia yang dibangun atas dasar kepercayaan dan niat baik. Bagi Indonesia, kata Prabowo, perjanjian tersebut sejalan dengan prinsip bertetangga baik dan kebijakan luar negeri bebas aktif.
Prabowo juga menyatakan posisi Indonesia yang ingin menjalin hubungan persahabatan dengan semua negara. "Indonesia dan Australia ditakdirkan untuk hidup berdampingan dan kami memilih membangun hubungan itu di atas fondasi kepercayaan dan niat baik," paparnya.
Dalam pernyataan pers bersama, Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak ingin memiliki musuh dengan negara mana pun. Dia menilai traktat keamanan ini akan menjadi salah satu pilar penting bagi stabilitas kawasan dan kerja sama di Indo-Pasifik.
Indonesia sendiri menganut kebijakan luar negeri nonblok, dengan menjalin hubungan dengan berbagai negara tanpa bergabung dalam aliansi militer formal.
Kerja sama pangan, mineral, dan pendidikan
Selain isu keamanan, pertemuan kedua pemimpin juga membahas perluasan kerja sama di sektor-sektor strategis lainnya. Prabowo mengundang Australia untuk mengembangkan kerja sama usaha patungan di sektor pertanian guna mendukung ketahanan pangan Indonesia.
Di bidang industri, Prabowo mendorong investasi Australia dalam hilirisasi mineral kritis Indonesia, termasuk pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas. Pada saat yang sama, Indonesia juga mendorong perusahaan nasional untuk berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis Australia.
"Danantara siap bekerja sama dengan para mitranya di Australia untuk menjajaki peluang co-investment dan dalam berbagai bentuk kemitraan lainnya," sebut Prabowo.
Kerja sama juga diarahkan pada sektor pendidikan dan pengembangan tenaga kerja terampil. Prabowo mengundang Australia untuk mendukung penguatan sistem pendidikan Indonesia, termasuk melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas guru. Prabowo turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Australia melalui program Australia Awards Garuda Scholarship.
Sejarah dan latar belakang traktat
Sebagaimana dilansir Reuters, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan traktat keamanan yang diteken pada Jumat (06/02) ini dimodelkan dari perjanjian keamanan IndonesiaβAustralia tahun 1995.
Namun, perjanjian 1995 tersebut ditarik pada 1999 setelah Australia memimpin pasukan penjaga perdamaian PBB di Timor Timur (kini Timor Leste), yang kala itu dilanda kekerasan dalam proses menuju kemerdekaan dari Indonesia.
Dalam sambutannya, Prabowo juga menyinggung panjangnya sejarah hubungan kedua negara, termasuk dukungan Australia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak awal proklamasi pada 1945.
Sebagai penutup, Prabowo mengundang Albanese untuk menghadiri Ocean Impact Summit di Bali pada Juni 2026, "saya yakin komitmen Perdana Menteri Albanese akan membantu memastikan KTT tersebut menghasilkan capaian nyata sekaligus mendorong kerja sama kita di bidang kelautan," pungkas Prabowo.
Reporter DW Indonesia Ausirio Sangga Ndolu berkontribusi dalam liputan ini.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Adaptasi dan informasi dari Indonesia ditambahkan oleh Fika Ramadhani
Editor: Muhammad Hanafi
Lihat juga Video 'PM Albanese Tawarkan Perwira RI Bisa Dinas di Militer Australia':











































