Imbangi Pengaruh AS-China, Vietnam Perkuat Poros Eropa

Imbangi Pengaruh AS-China, Vietnam Perkuat Poros Eropa

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 05 Feb 2026 17:28 WIB
Imbangi Pengaruh AS-China, Vietnam Perkuat Poros Eropa
Presiden Vietnam memuji kemitraan Vietnam dan UE sebagai tonggak sejarah pencapaian besar kedua pihak (Bui Lam Khanh/VNA/dpa/picture alliance)
Brussels -

Di tengah guncangan perdagangan dan keamanan global, Vietnam dan Uni Eropa mencari pijakan aman dengan mempererat hubungan diplomatik.

Pekan lalu, Brussel dan Hanoi mengumumkan pembentukan Kemitraan Strategis Komprehensif, level hubungan tertinggi dalam diplomasi Vietnam.

Dengan kesepakatan ini, Uni Eropa sejajar dengan China, Amerika Serikat, dan Rusia sebagai mitra strategis utama Hanoi. Presiden Vietnam Luong Cuong menyebutnya sebagai "tonggak bersejarah, sebuah pencapaian besar bagi kedua pihak," saat menerima Presiden Dewan Eropa Antonio Costa di Hanoi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Costa menilai kemitraan tersebut menegaskan arti penting kawasan Asia Tenggara serta peran Vietnam yang terus menguat. "Ketika tatanan internasional berbasis aturan terancam dari berbagai arah, kita perlu berdiri berdampingan sebagai mitra yang dapat diandalkan dan dapat diprediksi," ujarnya.

Dewan Eropa yang dipimpin Costa merupakan forum para pemimpin tertinggi negara anggota Uni Eropa, termasuk Presiden Komisi Eropa.

ADVERTISEMENT

Didahului China bahkan Singapura

Costa menjadi salah satu pemimpin asing pertama yang bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis, To Lam, sejak kembali tepilih pada awal Januari lalu.

"Uni Eropa berkomitmen untuk memperkuat dan memperdalam hubungannya dengan Vietnam," kata Costa dalam pernyataan pers, seraya menyinggung "nilai-nilai bersama dan tujuan bersama."

"Selama 35 tahun, kemitraan kita telah berkembang dalam lebih dalam dan ambisius," tambahnya.

Hubungan UE yang kian erat dengan Vietnam yang dipimpin Partai Komunis sangat bergantung pada perdagangan. Vietnam kini menjadi mitra dagang terbesar UE di Asia Tenggara.

Perdagangan bilateral tercatat melonjak sekitar 50% antara 2019 dan 2024 hingga mencapai €67 miliar (Rp 1330 triliun). Data untuk 10 bulan pertama di tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan lanjutan tahunan sebesar 8,4%.

Namun, UE baru menjalin "Kemitraan Strategis Komprehensif" ini setelah para pesaing geopolitiknya - China dan Rusia - serta sekutu yang sulit diprediksinya, Amerika Serikat, lebih dulu meneken kemitraan serupa, bahkan setelah Jepang dan Singapura.

Kemitraan ini merupakan bagian dari strategi Vietnam untuk mendiversifikasi dan menyeimbangkan hubungan diplomatiknya agar tidak terlalu bergantung pada satu pusat kekuatan.

AS adalah pasar ekspor terbesar Vietnam, China merupakan mitra dekat karena ikatan budaya dan politik antara kedua partai komunis meski tidak dapat mengesampingkan sengketa Laut China Selatan, sedang Rusia adalah pemasok senjata utama.

"Bagi UE, hubungan ini secara formal mencapai level yang sama China, Amerika Serikat, atau Jepang. Status ini juga membuka lebih banyak peluang dialog dan pertukaran rutin untuk semakin memperkuat hubungan," ujar Alfred Gerstl, pakar hubungan internasional Indo-Pasifik dari Universitas Wina, kepada DW.

Trump 'dekatkan' UE dan Vietnam

Para analis mengatakan bahwa dampak disruptif pemerintahan Donald Trump terhadap tatanan internasional dan perdagangan global memberikan insentif tambahan untuk meningkatkan kerja sama.

"Kedua pihak memiliki kepentingan yang sama untuk memperkuat sistem perdagangan berbasis aturan, saat Washington mengacaukannya, sehingga pengumuman ini sangat bermakna," kata Khac Giang Nguyen, peneliti tamu di ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, kepada DW.

Bagi Hanoi, lanjutnya Khac, langkah ini juga merupakan bagian dari dorongan diversifikasi yang lebih luas dengan mengumpulkan label ""strategis komprehensif" guna memperluas ruang manuvernya, seiring Vietnam menggandakan apa yang disebutnya sebagai "diplomasi bambu," simbol fleksibilitas dan kemandirian.

Politik Vietnam masih di titik kritis

Pernyataan bersama UE dan Vietnam Kamis (29/01) lalu memaparkan agenda yang jauh melampaui volume perdagangan. Kedua pihak berjanji menjajaki kerja sama di bidang bahan baku kritis, semikonduktor, kecerdasan buatan, transportasi, serta "infrastruktur komunikasi yang aman dan tepercaya," sekaligus meningkatkan kerja sama dalam ketahanan rantai pasok, keamanan, dan pertahanan.

"Arah perkembangannya adalah perbaikan yang stabil dalam perdagangan dan investasi, karena logika ekonomi yang kuat dan hubungan keduanya memiliki fondasi kelembagaan. Titik gesekan yang berulang adalah politik," ujar Giang.

Sebagian besar gesekan ini bersumber dari penindasan pemerintah Vietnam terhadap para pengkritik di dalam negeri. Dalam perjanjian perdagangan bebas UE–Vietnam yang mulai berlaku pada 2020, pemerintah Vietnam diharapkan melegalkan serikat pekerja independen.

Namun, kelompok hak asasi dan pakar ketenagakerjaan menyatakan serikat independen sejati masih belum dapat beroperasi secara bebas, dan Partai Komunis justru meningkatkan penindasan terhadap para pengkritik sejak To Lam berkuasa pada 2024.

Directive 24, yang ditulis Politbiro Partai Komunis Vietnam pada 2023, sempat bocor dan menyebutkan bahwa "kekuatan reaksioner memanfaatkan integrasi internasional untuk sabotase politik internal … dan membentuk aliansi 'masyarakat sipil' … menciptakan landasan bagi pembentukan kelompok oposisi politik domestik" Bill Hayton dari Chatham House menilai, Vietnam mungkin melihat peningkatan hubungan ini sebagai cara menetralkan tekanan UE untuk mengubah sistem politik dalam negerinya.

Dapatkah UE menggunakan Vietnam untuk menekan Rusia?

Perbedaan utama lain antara Brussel dan Hanoi adalah sikap Vietnam terhadap Rusia dan invasi Ukraina. Costa mengakui UE dan Vietnam tidak sepaham soal perang, tetapi sepakat pada "kemerdekaan, keutuhan wilayah, dan kedaulatan."

Rekam jejak Vietnam menunjukkan pemimpinnya bersedia mengambil risiko yang mungkin mengganggu UE demi menjaga hubungannya dengan Rusia.

"Apakah UE akan menekan Vietnam agar menekan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina? Saya yakin permintaan itu akan disampaikan, tetapi Vietnam tampaknya akan menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir baru," kata Hayton kepada DW.

Vietnam pertama kali merumuskan "diplomasi bambu" pada 2016. Dalam satu dekade terakhir, negara ini berhasil menghindari negerinya terseret ke dalam perebutan kekuatan antara AS dan China di Asia, maupun rivalitas lainnya seperti UE - Rusia di Eropa sembari secara agresif mengembangkan ekonomi dan memperluas jangkauan diplomatiknya.

Kemitraan terbaru dengan UE merupakan langkah besar bagi kedua pihak, tetapi tampaknya masih kecil kemungkinan Vietnam akan keluar dari jalur non-bloknya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Indonesia ke Semifinal Piala Asia Futsal Usai Bungkam Vietnam 3-2"

(nvc/nvc)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads