Putra Gaddafi Tewas Ditembak, Siapa Saif al-Islam?

Putra Gaddafi Tewas Ditembak, Siapa Saif al-Islam?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 04 Feb 2026 17:24 WIB
Putra Gaddafi Tewas Ditembak, Siapa Saif al-Islam?
Jakarta -

Hidup Saif al-Islam Gaddafi bergerak dari satu ekstrem ke ekstrem lain. Putra kedua Muammar Gaddafi itu pernah dipoles sebagai penerus rezim Libya, sebelum jatuh ke dalam penahanan panjang, keterasingan, dan akhirnya kembali ke panggung politikβ€”hanya untuk menjadi salah satu batu sandungan utama pemilu Libya.

Pada Selasa (3/2), kantor Saif al-Islam menyatakan bahwa bekas putera mahkota itu tewas dalam sebuah "konfrontasi langsung" dengan empat pria bersenjata tak dikenal yang menerobos masuk ke rumahnya. Jaksa Agung Libya menegaskan bahwa hasil pemeriksaan forensik menunjukkan Saif al-Islam meninggal akibat luka tembak, dan penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi para pelaku.

Meski tidak memegang jabatan resmi, Saif al-Islam, 53 tahun, pernah dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh di Libya setelah ayahnya, yang berkuasa lebih dari empat dekade. Dia terlibat dalam pembentukan kebijakan dan menjalankan misi diplomatik penting.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saif al-Islam memimpin perundingan agar Libya meninggalkan senjata pemusnah massal serta menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban pengeboman Pan Am Penerbangan 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988. Dia berupaya mengakhiri status Libya sebagai negara paria dengan menjalin hubungan dengan Barat dan mengusung agenda reformasi, termasuk seruan konstitusi dan penghormatan hak asasi manusia.

Dididik di London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, dia lama dipandang sebagai wajah Libya yang dapat diterima Barat. Namun, ketika pemberontakan terhadap rezim Gaddafi pecah pada 2011, Saif al-Islam memilih berpihak pada keluarga dan klannya, serta menjadi salah satu tokoh di balik penindasan keras terhadap para pemberontak.

ADVERTISEMENT

Berbicara kepada Reuters saat itu, dia mengatakan, "Kami bertempur di sini di Libya, kami mati di sini di Libya." Dia juga memperingatkan bahwa konflik akan berujung pada kehancuran negara. "Seluruh Libya akan hancur. Kami akan membutuhkan 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang bagaimana menjalankan negara ini," ujarnya dalam sebuah siaran televisi.

"Saya tetap di sini"

Setelah pemberontak merebut ibu kota Tripoli, Saif al-Islam mencoba melarikan diri ke Niger dengan menyamar sebagai pria Badui. Dia ditangkap oleh milisi Brigade Abu Bakr Sadik di sebuah jalan gurun dan diterbangkan ke kota Zintan di Libya barat, sekitar sebulan setelah ayahnya diburu dan ditembak mati oleh pemberontak.

"Saya tetap di sini. Mereka akan mengosongkan senapan mereka ke arah saya begitu saya keluar ke sana," katanya dalam rekaman audio saat ratusan pria mengerumuni sebuah pesawat angkut tua Angkatan Udara Libya.

Saif al-Islam diserahkan kepada para penangkapnya setelah dikhianati oleh seorang pengembara Libya. Dia kemudian ditahan selama enam tahun di Zintan, jauh dari kehidupan mewah yang pernah dijalaninya saat ayahnya berkuasa, termasuk memiliki harimau peliharaan, berburu dengan elang, dan bergaul dengan kalangan elit Inggris dalam kunjungan ke London.

Human Rights Watch sempat menemuinya di Zintan. Direktur Libya organisasi tersebut, Hanan Salah, mengatakan kepada Reuters bahwa Saif al-Islam tidak mengaku mengalami penyiksaan. "Kami memang menyampaikan kekhawatiran bahwa Gaddafi ditahan dalam isolasi hampir sepanjang waktu selama masa penahanannya," ujarnya.

Saif al-Islam kehilangan satu gigi dan mengatakan dirinya terisolasi dari dunia luar serta tidak menerima pengunjung. Namun, dia diizinkan menonton televisi satelit dan memiliki beberapa buku.

Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati dengan regu tembak atas kejahatan perang terhadap Saif al-Islam. Dia juga menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, yang mengeluarkan surat perintah penangkapan atas tuduhan "pembunuhan dan penganiayaan".

Kembali ke panggung politik Libya

Setelah dibebaskan oleh milisi pada 2017 berdasarkan undang-undang amnesti, Saif al-Islam Gaddafi menghabiskan bertahun-tahun hidup bersembunyi di Zintan untuk menghindari upaya pembunuhan. Sejak 2016, dia sudah diizinkan berkomunikasi dengan orang-orang di dalam dan luar Libya, kata analis Libya Mustafa Fetouri, yang memiliki kontak dengan lingkaran dalam Saif al-Islam.

Dia menerima tamu hampir setiap minggu dan kerap berdiskusi mengenai politik serta kondisi negara, sambil sesekali menerima hadiah dan buku.

Pada 2021, mengenakan jubah tradisional Libya dan sorban, Saif al-Islam muncul di kota Sabha, Libya selatan, untuk mendaftarkan diri sebagai kandidat presiden. Dia diperkirakan akan memanfaatkan nostalgia atas stabilitas relatif Libya sebelum pemberontakan 2011 yang didukung NATO dan menggulingkan ayahnya, yang kemudian diikuti bertahun-tahun kekacauan dan kekerasan.

Namun pencalonannya memicu kontroversi dan ditentang keras oleh banyak pihak yang pernah menderita di bawah kekuasaan Muammar Gaddafi. Kelompok-kelompok bersenjata kuat yang muncul dari faksi pemberontak 2011 menolaknya secara terbuka.

Ketika proses pemilu tersendat pada akhir 2021 karena tidak adanya kesepakatan mengenai aturan, pencalonan Saif al-Islam menjadi salah satu sumber konflik utama. Dia kemudian didiskualifikasi karena vonis 2015. Saat mencoba mengajukan banding, para pejuang memblokade gedung pengadilan, memicu perselisihan yang ikut menyebabkan runtuhnya proses pemilu dan kembalinya Libya ke kebuntuan politik.

Dalam wawancara dengan The New York Times Magazine pada 2021, Saif al-Islam menjelaskan strateginya, "Saya telah jauh dari rakyat Libya selama 10 tahun," katanya. Dia juga menyebut, "Kamu harus kembali perlahan, perlahan. Seperti striptease. Kamu perlu memainkan pikiran mereka sedikit."

Menurut Jalel Harchaoui, kontributor lembaga think tank Inggris Royal United Services Institute, "Setelah Saif al-Islam dibebaskan beberapa tahun lalu, dia terbukti tidak mampu menyampaikan pidato atau menghasilkan pernyataan publik melalui pers atau media sosial."

"Namun makna simbolisnya tetap besar. Status simbolik inilah yang menjadi salah satu faktor utama yang mencegah pemilu 2021 berlangsung."

"Kini setelah dia terbunuh, sebagian besar faksi pro-Gaddafi akan mengalami penurunan moral sekaligus kemarahan. Pada saat yang sama, satu penghalang bagi pelaksanaan pemilu di Libya telah disingkirkan," ujarnya.

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Anak Muammar Gaddafi Tewas Dibunuh di Rumahnya"

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads