Perbatasan Rafah Dibuka Sebagian Usai Ditutup Setahun

Perbatasan Rafah Dibuka Sebagian Usai Ditutup Setahun

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 03 Feb 2026 10:34 WIB
Perbatasan Rafah Dibuka Sebagian Usai Ditutup Setahun
Jakarta -

Perbatasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dan Mesir kembali dibuka sebagian bagi pejalan kaki di kedua wilayah pada Senin(2/2), setelah lebih satu tahun ditutup.

Media Mesir, Al Kahira News, dan pihak keamanan Israel telah mengonfirmasi pembukaan perbatasan ini. Warga Palestina yang sakit atau terluka dimungkinkan meninggalkan Gaza, yang telah hancur setelah dua tahun perang Israel-Hamas berlangsung sejak Oktober 2023.

Warga Palestina yang sebelumnya mengungsi keluar Gaza kini dapat kembali pulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mulai saat ini, setelah kedatangan tim EUBAM (Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa), perbatasan Rafah telah dibuka untuk pergerakan penduduk, baik masuk maupun keluar," kata seorang pejabat Israel kepada AFP, merujuk pada Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM).

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas, menambahkan: "Pembukaan perbatasan Rafah adalah langkah nyata dan positif dalam rencana perdamaian. Misi sipil UE berada di lokasi untuk memantau operasi perbatasan dan mendukung penjaga perbatasan Palestina."

ADVERTISEMENT

Menurut laporan lembaga penyiaran publik Israel (KAN), sekitar 50 orang diperkirakan memasuki Gaza pada hari Senin(2/2), sementara sekitar 150 orang, termasuk 50 pasien, telah diizinkan keluar menuju Mesir. Media Mesir melaporkan jumlah yang lebih kecil, yakni 50 orang yang masuk dan 50 orang yang keluar pada hari awal pembukaan. AP melaporkan bahwa tidak ada orang yang terlihat melintasi perbatasan satu jam pertama setelah pembukaan.

Pembukaan Rafah merupakan bagian dari rencana perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat, Qatar, dan negara regional lain sejak Oktober 2025, meski Israel dan Hamas sering saling tuding pelanggaran rencana damai tersebut.

Pada Sabtu(31/1), rumah sakit di Gaza melaporkan sedikitnya 30 orang tewas, termasuk anak-anak, akibat serangan Israel di kamp pengungsi dan gedung tempat tinggal.

Mengapa Rafah begitu penting?

Sebelum meletusnya perang Israel-Hamas, Rafah adalah "gerbang dunia Palestina" yang tidak dikontrol Israel. Menjadi pintu masuk utama bagi perpindahan orang dan barang, termasuk produk seperti minyak zaitun Palestina yang banyak dijual di Mesir dan negara Arab lain.

Namun, ketika pasukan Israel merebut akses tersebut pada Mei 2024, jalur ini ditutup - krisis kemanusiaan dan ekonomi di Gaza pun terpuruk.

Pada Minggu(1/2), ambulans terlihat mengantri di sisi Mesir untuk menerima pasien medis, kelompok pertama yang diizinkan keluar.

"Rafah adalah titik kehidupan," kata Mohammed Nassir, seorang warga Palestina yang kehilangan kaki akibat cedera di awal perang. "Saya perlu menjalani operasi yang tidak tersedia di Gaza tapi bisa dilakukan di luar negeri."

Nassir termasuk satu diantara puluhan ribu orang sakit dan terluka di Gaza. Hanya sebagian kecil dari mereka yang diizinkan meninggalkan wilayah setiap hari. Pejabat kementerian kesehatan Gaza di bawah Hamas mengatakan sekitar 200 pasien menunggu izin keluar.

Bagaimana perbatasan Rafah beroperasi?

Meski secara teknis perlintasan Rafah dibuka, penggunaan perbatasan Rafah tetap proses bertahap dan birokratis.

Menurut media Israel, otoritas Mesir harus mengirim daftar harian orang yang diizinkan melewati perbatasan. Pergerakan diawasi oleh EUBAM, tapi hanya bagi mereka yang mendapat persetujuan intelijen Israel.

Personel militer Israel tetap berada di sisi Palestina, dan mereka melakukan pemeriksaan keamanan. Namun, cap paspor diberikan Otoritas Palestina.

Saat ini perbatasan hanya dibuka untuk pejalan kaki, bantuan langsung dari Mesir ke Gaza belum dapat masuk.

Dinilai bersifat simbolis

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional sejak lama mendesak agar perbatasan Rafah dibuka kembali secara lebih luas daripada yang diumumkan Israel saat ini.

Kondisi layanan kesehatan di Gaza masih sangat memprihatinkan. Menurut otoritas Palestina, sekitar 20.000 orang sakit dan terluka menunggu kesempatan untuk mendapatkan perawatan di luar negeri. Karena itu, sejumlah pengamat menilai pembukaan Rafah yang hanya memungkinkan puluhan orang keluar setiap hari bersifat simbolis dan tidak cukup untuk menjawab krisis kemanusiaan, bahkan disebut sebagai "setetes air di lautan".

Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan dalam bahasa Inggris dan Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Simak Video Perbatasan Rafah Sudah Dibuka, Tapi Dibatasi oleh Israel

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads