Cina muncul sebagai pemain kunci dalam konfrontasi yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS), di tengah protes besar-besaran dan runtuhnya kondisi ekonomi yang memperlemah pemerintahan Iran dari dalam.
Pada awal Januari 2026, demonstrasi massal yang didorong oleh kesulitan ekonomi, ketidakpuasan politik, dan tekanan dari luar menjadi salah satu tantangan domestik paling serius yang dihadapi pimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan dalam negeri ini berubah menjadi konfrontasi regional setelah Presiden AS Donald Trump mengerahkan sejumlah besar pasukan militer ke Timur Tengah dan mengeluarkan peringatan yang menuntut Iran membatasi program nuklir serta pengembangan misil balistiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama protes berlangsung, Cina dilaporkan membantu otoritas Iran menerapkan pemutusan komunikasi secara nasional.
Pada 15 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi juga mengecam ancaman AS sebagai bentuk kembalinya "hukum rimba," sambil membandingkan apa yang dia sebut agresi Amerika dengan tawaran Cina untuk memainkan "peran konstruktif" dengan membantu pemerintah dan rakyat Iran "tetap bersatu."
Pada Sabtu (31/01), di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington, media Iran melaporkan bahwa Teheran berencana mengadakan latihan angkatan laut bersama dengan Beijing dan Moskow di Samudra Hindia bagian utara pada pertengahan Februari 2026.
Pengumuman ini memicu banyak klaim tidak terverifikasi di internet bahwa Cina sedang memberikan bantuan militer kepada Iran, serta spekulasi tentang apakah pemerintah Cina akan turun tangan jika terjadi konfrontasi militer dengan AS.
Iran makin dekat ke Cina
Selama bertahun-tahun, Cina telah menjadi salah satu mitra ekonomi dan diplomatik paling penting bagi Iran, memberikan jalur yang sangat dibutuhkan ketika Teheran menghadapi sanksi Washington yang luas dan tetap berada di daftar hitam Financial Action Task Force (FATF). Pembatasan ini sangat menghambat akses Iran ke sistem keuangan global dan membuatnya bergantung pada Cina untuk perdagangan dan dukungan politik.
Hubungan ini memiliki dimensi keamanan yang lebih tajam sejak perang 12 hari Iran dengan Israel pada Juni 2025. Dalam beberapa bulan setelahnya, Iran dan Cina dilaporkan memperluas perjanjian kerja sama keamanan yang dirancang untuk meningkatkan pertukaran intelijen dan koordinasi menghadapi ancaman eksternal yang dipersepsikan.
Namun, Hamidreza Azizi, seorang analis keamanan Timur Tengah di Institut Internasional untuk Studi Strategis (SWP) di Berlin, memperingatkan agar tidak terlalu melebihlebihkan komitmen Beijing dalam membela pemerintah Iran. Menurutnya, keterlibatan Cina di Iran dan kawasan yang lebih luas sebagian besar tetap pragmatis.
"Cina tidak muncul sebagai pembela Iran yang kuat setelah perang 12 hari dengan Israel dan kecil kemungkinan akan melakukannya jika terjadi intervensi militer AS," kata Azizi kepada DW.
Sebaliknya, Cina telah memberikan dukungan yang lebih kuat kepada mitra regional lain. Misalnya, selama bentrokan India-Pakistan 2025 di Kashmir, Beijing menawarkan bantuan militer nyata kepada Islamabad, menurut beberapa sumber termasuk pejabat militer India. Azizi menilai dukungan semacam itu belum diberikan kepada Iran.
Pengaruh Cina di Iran
Hubungan Iran dan Cina terutama ditentukan oleh konfrontasi dengan AS. Sanksi AS telah mendorong Iran lebih dekat ke Cina, tetapi juga membatasi investasi dan kemampuan Beijing untuk memperluas jejak ekonominya di Teheran.
"Untuk saat ini, Beijing tampak lebih fokus menentang tindakan sepihak AS daripada memastikan kelangsungan rezim Iran sendiri," kata Azizi. "Bertahun-tahun kerusuhan berulang dan korupsi yang meluas di Iran juga memperkuat persepsi di Cina bahwa negara itu, di bawah kepemimpinan saat ini merupakan lingkungan berisiko tinggi bagi investasi."
Ini terlihat dari jurang besar antara perdagangan Cina dengan Iran dan perdagangan Tiongkok dengan negara-negara Teluk lainnya. Pada 2024, total perdagangan Cina dengan enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (termaksud Arab Saudi dan Uni Emirat Arab) mencapai sekitar US$257 miliar (sekitar Rp4,32 kuadriliun). Sementara, menurut data Beijing, perdagangan bilateral Cina dan Iran hanya sebagian kecil dari angka itu dengan total kurang dari US$14 miliar (Rp325,3 triliun) pada tahun yang sama.
"Jadi, meskipun Cina memang ingin kawasan tetap stabil untuk melindungi kepentingan ekonomi dan energinya yang luas, kecil kemungkinan Beijing secara khusus berupaya mempertahankan pemerintahan Iran sendiri," sambung Azizi.
Cina, Iran, dan "Axis of Upheaval"
Dari sisi AS, kemitraan antara Iran dan Cina sering disebut sebagai bagian dari apa yang digambarkan sebagai Axis of Upheaval atau poros pergolakan, sebuah istilah yang merujuk pada semakin eratnya kedekatan strategis, militer, dan ekonomi antara Cina, Rusia, Iran, dan Korea Utara yang bertujuan menantang tatanan global yang dipimpin AS. Poros aliansi itu kerap disingkat menjadi CRINK.
Pejabat Eropa dan NATO juga menyoroti aliansi tersebut. Dalam pernyataannya di Parlemen Eropa pada 26 Januari 2026, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan, "tidak dapat disangkal bahwa Rusia, Cina, Korea Utara, dan Iran semakin selaras." Sambil menambahkan bahwa meskipun kemitraan itu "belum terstruktur dengan baik," keempat negara tersebut semakin siap untuk menantang pengaruh Barat.
Di kalangan pembuat kebijakan AS, pandangan ini kerap memunculkan anggapan bahwa melemahkan Iran dapat sekaligus menekan kekuatan Cina.
Menurut Azizi, pemikiran semacam itu justru mendorong pendekatan konfrontatif Washington terhadap Teheran dan menjadi faktor utama yang membuat Iran semakin mendekat ke Cina dan Rusia.
"Namun kenyataannya, Iran lebih membutuhkan Cina dibanding Cina membutuhkan Iran," ungkap Azizi.
"Karena itu, beranggapan bahwa menekan Teheran akan merugikan Beijing adalah hal yang keliru. Melebih-lebihkan pentingnya aliansi ini hanya akan menjadi kesalahan perhitungan, baik bagi pemerintah Iran maupun AS."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Muhammad Hanafi











































