Israel Akan Buka Kembali Pintu Perbatasan Rafah Menuju Mesir

Israel Akan Buka Kembali Pintu Perbatasan Rafah Menuju Mesir

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 29 Jan 2026 13:56 WIB
Israel Akan Buka Kembali Pintu Perbatasan Rafah Menuju Mesir
Jakarta -

Warga Palestina di Jalur Gaza yang porak-poranda kembali menggantungkan harapan pada perlintasan Rafah di perbatasan Mesir. Di ujung selatan Gaza itu, Rafah selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya pintu keluar menuju dunia luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Israel.

Harapan itu sempat terputus pada Mei 2024, ketika militer Israel mengambil alih perlintasan tersebut dan menutup Gaza hampir sepenuhnya. Sejak itu, Rafah hanya sesekali dibuka untuk evakuasi medisβ€”itu pun jarang terjadi.

Perlintasan ini diperkirakan akan dibuka kembali setelah Israel mengumumkan pada Senin (26/01) bahwa jenazah sandera terakhir di Gaza, Ran Gvili, telah ditemukan. Berita ini penting untuk menunjukkan kepada warga Palestina bahwa ada kemajuan yang terjadi, kata Mustafa Ibrahim, analis politik di Kota Gaza.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perlintasan ini perlu dibuka agar orang-orang merasakan adanya perubahan dan transisi," ujar Ibrahim kepada DW. "Sejauh ini Israel hanya mengizinkan truk bantuan dalam jumlah terbatas, orang-orang yang terjebak di luar Gaza ingin kembali, dan ribuan korban luka serta orang sakit sangat membutuhkan perjalanan ke luar negeri untuk mendapat pengobatan."

Pembukaan kembali perlintasan tersebut merupakan bagian dari langkah lanjutan perjanjian gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Hamas, kelompok Islam militan yang sebelumnya memerintah Gaza.

ADVERTISEMENT

Wilayah terkunci

Rafah sebenarnya sudah beberapa kali diumumkan akan dibuka. Meski tak pernah benar-benar terealisasi, kabar itu selalu cepat menyebar di Gazaβ€”dan selalu disambut dengan harapan.

Setelah lebih dari dua tahun perang yang menghancurkan dan menewaskan lebih dari 70.000 orang di wilayah Palestina menurut otoritas kesehatan setempat- berita teranyar juga dipandang positif. Wilayah kecil di perbatasan ini berada di bawah penutupan ketat dan penduduknya tidak dapat dengan bebas menentukan kapan mereka pergi atau kembali.

Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza setelah Hamas melakukan penyerangan pada Israel pada 7 Oktober 2023 - menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang.

Bagi warga Gaza, Rafah kini menjadi simbol kebebasan yang lama dirampas.

"Kami menginginkan kebebasan untuk bergerak, baik untuk keluar maupun masuk (wilayah ini). Kami ingin warga Palestina yang ingin kembali dapat melakukannya," kata Shaiman Rashwan, yang mengungsi selama perang, dalam wawancara telepon dengan DW dari Kota Gaza. "Kami menginginkan kehidupan yang normal. Ini adalah hak paling dasar dari setiap rakyat dan setiap bangsa."

Hamed Hamdi, seorang insinyur sipil yang kehilangan rumahnya dan kini tinggal di tenda di Kota Gaza, mengatakan bahwa kabar tersebut menimbulkan dilema baginya.

"Haruskah saya meninggalkan Gaza dan pergi ke tempat lain demi menyelamatkan anak-anak saya dari hidup di tenda, menerima pendidikan yang terputus-putus, serta mengakses layanan kesehatan yang bahkan tidak memenuhi kebutuhan paling dasar?" tanya ayah Palestina berusia 41 tahun itu dalam panggilan telepon dengan DW. "Atau haruskah saya tetap tinggal di negara saya untuk membantu membangunnya kembali bersama para ahli lainnya dan mencoba menciptakan harapan baru dari puing-puing yang ada?"

Dibuka namun tetap sulit dilalui

Perjalanan melintasi Rafah bukanlah hal yang mudah baik dulu dan sekarang.

Hingga artikel ini diterbitkan, belum jelas kapan perlintasan akan dibuka atau bagaimana prosedur melewatinya. Pada Minggu malam, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya mengumumkan bahwa Israel telah setuju untuk membuka kembali perlintasan tersebut "hanya untuk pejalan kaki, dengan tunduk pada mekanisme pemeriksaan penuh oleh Israel."

Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin(26/01) bahwa Israel harus membuka dua arah perlintasan Rafah "tanpa pembatasan."

Ketua komite Palestina yang menangani administari harian Gaza, Ali Shaath - yang juga bagian dari pemerintahan teknokrat baru bentukan oleh AS - mengatakan pekan lalu bahwa perlintasan akan dibuka minggu ini untuk memfasilitasi pergerakan keluar dan masuk wilayah tersebut.

Anggota komite, yang saat ini berada di Mesir, menunggu untuk memasuki wilayah Gaza dan diperkirakan dapat melintas pada hari Kamis(29/01).

Pembukaan perlintasan Rafah tidaklah cepat dan mudah

Meskipun detailnya masih belum jelas, beberapa sumber di Gaza menyebutkan bahwa pada tahap awal, pembukaan kembali perlintasan Rafah memungkinkan pasien dipindahkan untuk mendapat perawatan medis. Selain itu pembukaan tahap awal ini akan turut mengizinkan pelajar atau individu berkewarganegaraan ganda untuk meninggalkan Gaza.

Puluhan ribu warga Palestina yang melarikan diri dari perang sebelum militer Israel mengambil alih perlintasan tersebut pada Mei 2024 telah menjadikan Mesir sebagai tempat tinggal sementara. Namun, Mesir menentang pemukiman permanen para pengungsi Palestina di negaranya.

Pembukaan perlintasan Rafah tidaklah mudah. Pertama, perlintasan tersebut perlu dibangun kembali. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang akan bertanggungjawab.

Menurut sumber diplomatik, perlintasan tersebut akan beroperasi di bawah mekanisme sementara yang melibatkan otoritas Mesir dan Israel. Pengamat Uni Eropa, EUBAM Rafah, yang dibentuk pada 2005, juga diperkirakan akan hadir. Peran Hamas, yang masih menguasai sebagian wilayah Gaza, dalam hal ini masih belum jelas.

Para pelintas perbatasan harus menyerahkan data mereka untuk dimasukkan ke dalam daftar yang dikoordinasikan oleh Komite Penghubung Sipil Palestina–Israel, dan memerlukan persetujuan dari Mesir dan Israel untuk melintas. Mereka yang kembali ke Gaza dilaporkan harus menjalani prosedur penyaringan ketat oleh Israel dan memerlukan izin Israel untuk kembali.

PBB masih "mencoba mendapatkan kejelasan pembukaan Rafah"

Menurut sumber diplomatik, pembukaan tersebut juga akan memfasilitasi masuknya lebih banyak bantuan kemanusiaan dan barang komersial melalui perlintasan Rafah, yang saat ini sebagian besar dialirkan melalui perlintasan Kerem Shalom yang dikendalikan Israel.

Pada hari Senin, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa mereka masih "berusaha mendapatkan kejelasan tentang pembukaan Rafah dan bagaimana hal tersebut akan diterapkan."

"Apa yang ingin kami lihat adalah masuknya barang-barang kemanusiaan, kargo baik dari komunitas kemanusiaan maupun swasta," tambah Dujarric.

Rafah: Perlintasan perbatasan dengan sejarah yang pelik

Bahkan sebelum meletusnya perang Israel-Hamas, perlintasan perbatasan Rafah tidaklah seperti perlintasan perbatasan internasional lainnya.

Pada 2007, Israel menutup sebagian besar perbatasan Gaza dan memberlakukan pembatasan akses udara, darat, dan laut setelah Hamas merebut kekuasaan dari Otoritas Palestina di Gaza dengan kekerasan.

Karena perjalanan melalui perlintasan Erez di Gaza utara ditutup dan sangat dibatasi oleh Israel, sebagian besar warga Palestina mencoba meninggalkan Gaza melalui perlintasan Rafah ke Mesir. Namun, proses ini rumit karena memerlukan koordinasi sebelumnya dengan otoritas Mesir dan Hamas dan memakan waktu berjam-jam.

Di masa lalu, Mesir sering kali menutup perlintasan sepenuhnya - bergantung pada perkembangan politik.

Pada bulan-bulan pertama perang terjadi, sebagian warga Palestina yang kebanyakan berkewarganegaraan ganda dapat meninggalkan Gaza berbekal daftar diplomatik. Sisanya harus membayar hingga €4.172 (Rp 83,6 juta) per orang untuk meninggalkan Gaza dan masuk ke Mesir. Banyak yang meminta penggalangan dana sukarela untuk membayar biaya tersebut.

Praktik ini terhenti ketika Israel menutup sepenuhnya Gaza dari perlintasan tersebut pada Mei 2024.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh : Sorta Caroline

Editor : Rizki Nugraha

Tonton juga video "Netanyahu Pastikan Tak Ada Lagi Warga Israel yang Disandera di Gaza"

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads