UE Hindari Konfrontasi Usai Trump Batalkan Tarif soal Greenland

UE Hindari Konfrontasi Usai Trump Batalkan Tarif soal Greenland

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 24 Jan 2026 08:59 WIB
UE Hindari Konfrontasi Usai Trump Batalkan Tarif soal Greenland
Jakarta -

Dua puluh tujuh pemimpin Uni Eropa (UE) berkumpul di Brussels, Kamis, 22 Januari, dengan satu tujuan utama: menurunkan suhu ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pertemuan itu digelar setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif 10 persen terhadap sejumlah negara Eropaβ€”mulai dari Jerman, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Swedia, Inggris, dan Norwegia. Mereka adalah negara-negara yang mendukung Denmark dalam isu Greenland , yang belakangan jadi sasaran ambisi geopolitik Washington.

Tekanan terhadap pertemuan itu mereda setelah Trump mencabut ancamannya setelah mencapai "kerangka kesepakatan masa depan" mengenai Greenland bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami berinteraksi secara aktif dengan Amerika Serikat di berbagai level," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kepada jurnalis setelah pertemuan itu. "Kami melakukannya dengan tegas, tetapi tidak menimbulkan eskalasi. Kami tahu bahwa kami harus semakin bekerja demi Eropa yang mandiri."

Dalam sepekan terakhir, relasi Eropa–Amerika nyaris tergelincir ke dalam krisis terbuka. Presiden Dewan Eropa Antonio Costa secara terbuka menggarisbawahi perbedaan nilai. "Cara hidup Eropa tidak sama dengan cara hidup Amerika," katanya. "Di antara sekutu, hubungan seharusnya dikelola dengan rasa hormat."

ADVERTISEMENT

Meski begitu, pintu rekonsiliasi belum ditutup. "Saya punya kesan bahwa banyak orang Amerika merasakan hal yang sama dengan kami," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz di Brussels.

"Kami tidak bisa membiarkan retaknya aliansi trans-Atlantik. Kami telah membangunnya selama 75 tahun. Ini adalah aliansi politik paling sukses yang pernah ada antara Eropa dan Amerika."

Respons kuat tetap menjadi opsi

Di balik bahasa diplomasi, Brussels menyiapkan skenario terburuk. Uni Eropa sebelumnya sempat mempertimbangkan "opsi nuklir," berupa paket tarif balasan senilai €93 miliar ( sekitar Rp1.85 kuadriliun) dan penggunaan Anti-Coercion Instrument (ACI), yang juga dikenal sebagai "trade bazooka" atau senjata perdagangan, yang bahkan bisa memberlakukan pembatasan akses pasar bagi perusahaan AS yang beroperasi di UE.

"Kami telah mengembangkan langkah-langkah balasan yang mungkin diperlukan. Itu ada di meja. Itu tetap ada di meja," kata von der Leyen.

Prancis mendukung penggunaan ACI, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, "Kami lebih memilih rasa hormat daripada menghadapi perundungan." Jerman lebih hati-hati, dengan Merz mengatakan Eropa ingin "menghindari eskalasi." Namun, mereka semua tidak perlu mengambil keputusan itu pada akhirnya.

Siapa yang membuat Trump berubah pikiran?

Tidak ada pertemuan langsung antara Trump dan para pemimpin utama UE di Davos, lantaran keterlambatan presiden AS karena masalah pesawat. Hal ini memunculkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang membuat Trump berubah pikiran?

Tekanan domestik di AS diduga ikut berperan. Pemilu paruh waktu semakin dekat. Pasar saham sempat bergejolak setelah ancaman tarif diumumkan.

"Semua elemen itu … mungkin juga berperan," akui von der Leyen. "Tapi tanpa ketegasan, respons yang tidak menimbulkan eskalasi, dan kesatuan UE, hal itu tidak akan berhasil."

Para pengamat percaya telah terjadi pergeseran di Brussels.

"Pemimpin UE masih terpecah tentang cara terbaik menghadapi Donald Trump, tapi mereka juga sepakat bahwa kini mereka harus siap menghadapi segala kemungkinan," kata Georgina Wright, peneliti senior di German Marshall Fund. "UE memiliki banyak cara untuk menunjukkan kekuatan."

Greenland di mata Trump: Serius atau sekadar formalitas?

Detail "kerangka" kesepakatan yang dicapai Trump dengan Rutte belum diumumkan, tetapi garis besarnya tampaknya merupakan renegosiasi perjanjian 1951 antara AS dan Denmark yang memungkinkan penempatan pasukan AS ke Greenland lebih cepat. The New York Times melaporkan bahwa perjanjian itu bahkan bisa mencakup sebagian wilayah yang dialihkan ketika pangkalan dibangun.

Perjanjian asli sudah mencakup ketentuan bagi AS untuk menempatkan pasukan sebanyak yang mereka mau di pulau Arktik itu.

"Trump mungkin hanya membuat perjanjian itu agar tidak terlihat buruk ketika dia membatalkan ancamannya," kata seorang diplomat UE kepada DW di sela-sela pertemuan UE.

Apapun yang membuat perbedaan akhirnya, Trump tampak puas ketika meninggalkan Eropa.

"Kita semua akan bekerja sama," kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan kembali ke AS. "Kita akan melakukannya … sebagian dalam kerja sama dengan NATO, yang memang seharusnya begitu."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Simak juga Video Trump Pastikan Tak Gunakan Kekerasan untuk Kuasai Greenland

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads