Duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa (UE) menggelar pertemuan darurat di Brussels, Belgia, pada Minggu (18/1). Pertemuan ini untuk membahas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana mengenakan tarif terhadap sejumlah negara Eropa karena menolak rencana AS terkait Grinlandia. Pertemuan ini digelar oleh Siprus selaku pemegang kepemimpinan bergilir Uni Eropa.
Koresponden DW Jack Parrock melaporkan bahwa para pejabat membahas berbagai opsi tanggapan perdagangan, termasuk kemungkinan penggunaan instrumen anti-pemaksaan, mekanisme yang belum pernah diterapkan sebelumnya. Namun, langkah itu dinilai belum akan segera diambil. "Instrumen 'bazooka' perdagangan itu tidak akan dikeluarkan dari meja," ujar Parrock.
Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan kepuasannya atas dukungan negara-negara Eropa lainnya. "Eropa tidak akan diperas," tulis Frederiksen melalui unggahan di X.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menekankan bahwa Eropa harus merespons ancaman Trump. "Kita tidak boleh membiarkan diri kita diperas. Eropa secara politik dan ekonomi jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan saya pikir kita harus memanfaatkannya sekarang," kata Wadephul, seraya menambahkan bahwa tarif akan menjadi "racun bagi hubungan transatlantik."
UE tegaskan solidaritas kedaulatan Denmark dan Grinlandia
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa Uni Eropa berkomitmen penuh untuk melindungi kedaulatan Denmark dan Grinlandia. "Kami akan selalu melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan strategis kami," tulis von der Leyen melalui unggahan di X. Pernyataan ini menegaskan posisi UE di tengah ketegangan yang muncul akibat ancaman tarif Presiden AS Donald Trump.
Von der Leyen juga menekankan bahwa Uni Eropa akan terus menjaga kepentingan strategisnya, termasuk keamanan di wilayah Arktik, sembari menegakkan prinsip hukum internasional dan keutuhan wilayah negara anggota. Ia menyatakan bahwa UE tetap terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat dalam isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengumumkan bahwa UE akan menggelar pertemuan luar biasa para kepala pemerintahan negara anggota dalam beberapa hari ke depan. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan menyatukan sikap UE terkait ancaman eksternal, sekaligus menunjukkan solidaritas penuh terhadap Denmark dan Grinlandia.
Costa menegaskan bahwa Uni Eropa siap menghadapi segala bentuk pemaksaan, termasuk ancaman tarif dari AS, sambil tetap menjaga jalur diplomasi. "Solidaritas dan persatuan UE menjadi prinsip utama dalam menghadapi tantangan ini, dan kami akan memastikan kepentingan kolektif Eropa terlindungi," ujarnya.
NATO fokus keamanan Arktik di tengah ancaman AS
Situasi keamanan di Grinlandia dan kawasan Arktik menjadi sorotan NATO setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menempatkan pasukan di wilayah tersebut. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa aliansi akan terus bekerja sama untuk menjaga keamanan di kawasan Arktik dan menekankan pentingnya koordinasi antaranggota.
Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, yang akan dihadiri lebih dari 60 kepala negara termasuk Trump, diperkirakan menjadi ajang penting untuk membahas isu ini lebih lanjut.
Denmark menekankan penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi meski menghadapi tekanan AS. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menegaskan, "Amerika Serikat bukan hanya presidennya, melainkan sebuah sistem dengan checks and balances yang lebih luas."
Rasmussen melakukan pertemuan dengan pejabat AS, termasuk Sekretaris Negara Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance, untuk menegaskan komitmen Denmark dalam mencari solusi damai. Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menambahkan, "Semua anggota NATO siap bekerja sama untuk memperkuat keamanan di Arktik, termasuk negara-negara yang terancam tarif."
Presiden Trump kembali menegaskan ancamannya terhadap Denmark melalui platform media sosial Truth, menuding negara itu belum cukup menangani potensi ancaman Rusia di Grinlandia, dan mengancam menerapkan tarif terhadap delapan negara sekutu hingga AS berhasil membeli Grinlandia.
Meski menghadapi tekanan ini, Rasmussen menegaskan, "Meskipun kini dihadapkan pada ancaman, kami akan tetap menempuh jalur diplomasi untuk menjaga tatanan dunia dan stabilitas aliansi NATO."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
Simak juga Video: AS Umbar Ancaman Tarif 25% untuk Mitra Iran, Rusia Tak Peduli











































