Penangkapan Maduro, Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran

Penangkapan Maduro, Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 07 Jan 2026 18:30 WIB
Penangkapan Maduro, Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran
Jakarta -

Sirene bahaya berdering di Teheran setelah Amerika Serikat secara mengejutkan melancarkan operasi militer di Venezuela. Nicols Maduro — penguasa yang tetap bercokol lewat pemilu sarat manipulasi pada 2024 — ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan ke AS. Senin (5/1) kemarin, pengadilan atas tuduhan narkoterorisme resmi dimulai di New York.

Bagi Iran, penangkapan paksa Maduro bukan sekadar kabar dari Amerika Latin. Maduro adalah sekutu dekat, sekaligus seteru bagi Barat yang tidak mengakui legitimasinya sebagai presiden. Kini, sekutu itu jatuh — dengan cara yang jarang disaksikan dalam sejarah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, lewat operasi ini, memperagakan tekad betapa Washington siap menggulingkan rezim yang dimusuhinya, meski harus menginjak Piagam PBB dan hukum internasional. Sebuah peringatan keras bagi negara-negara otoriter lain — termasuk Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sudut pandang Teheran, Trump telah melampaui batas. "Presiden sebuah negara dan istrinya diculik," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Senin, 5 Januari 2026. "Ini tindakan ilegal. Tak ada yang bisa dibanggakan."

Disatukan oleh musuh yang sama

Iran dan Venezuela terpaut terlalu jauh bila dibaca dengan kacamata geopolitik konvensional. Venezuela berada di Karibia, dengan mayoritas Katolik. Sementara Iran di Teluk Persia, berlandaskan Islam Syiah. Perdagangan antara kedua negara juga minim. Bahkan penerbangan langsung pun tak ada.

ADVERTISEMENT

Yang menyatukan keduanya adalah sikap permusuhan terhadap Amerika Serikat.

Analis menilai, embargo Barat dan seni bertahan hidup dalam tatanan dunia yang didominasi Washington mempererat kedua negara. Dalam tiga dekade terakhir, simpati politik dan retorika anti-Amerika menjelma menjadi jejaring kerja sama minyak, keuangan, industri, hingga keamanan.

"Hubungan ini tak berubah," ujar juru bicara pemerintah Iran. Teheran, kata dia, terus berkomunikasi dengan otoritas di Venezuela.

Ketakutan di tengah tekanan

Kejatuhan Maduro datang di saat paling sensitif bagi Iran. Protes besar meletus dalam dua pekan terakhir akibat lonjakan harga dan kepanikan terhadap hiperinflasi yang bisa meluapkan tabungan warga. Tuntutan ekonomi akhirnya menjelma politik. Tekanan pada elite Teheran mengeras, seiring bertambahnya korban yang berjatuhan di jalanan.

Usai Venezuela, Trump tak bermanis kata. Dari Air Force One, dia memperingatkan Iran agar tak tidak melakukan tidak kekerasan terhadap demonstran. "Kami mengawasi dengan sangat ketat," katanya. Apa langkah berikutnya, tetap samar.

Padahal, presedennya sudah ada. Pada bulan Juni 2025, di tengah perang Israel–Iran, jet tempur AS ikut membombardir fasilitas nuklir Iran. Serangan AS-Israel bukan cuma diniatkan merusak infrastruktur nuklir, tapi juga menjadi pesan politik.

Omid Nouripour, Wakil Ketua Bundestag kelahiran Teheran, menyebut reaksi di Iran terbelah. "Banyak yang menginginkan pergantian rezim," katanya. "Tapi intervensi di Venezuela menunjukkan Trump tak punya rencana untuk hari setelahnya. Itu berbahaya."

Pesan yang tak terbantahkan

Menurut Damon Golriz, analis geopolitik di Den Haag, pesan Washington telah diterima jelas di Teheran, bahwa elite Iran juga bisa menjadi target militer. Dia melihat perubahan pada sikap Trump—yang pada pertengahan 2025 masih mencegah Israel melaksanakan rencana membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Retorika balasan pun mengeras. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan AS kini harus fokus "menjaga tentaranya". Hingga 45 ribu serdadu Amerika tersebar di Timur Tengah. Juni lalu, Iran membalas serangan nuklir dengan menghantam pangkalan AS di Qatar—tanpa korban, setelah peringatan terlebih dahulu.

Efek psikologis

Penangkapan Maduro, kata Golriz, ikut mengguncang kalkulasi internal Iran — termasuk soal suksesi Khamenei. Berbeda dengan Venezuela, Iran tak punya oposisi kuat dalam struktur kekuasaan yang sangat terpusat.

Bagi Reza Talebi, jurnalis Iran di pengasingan Turki, dampak terbesar justru psikologis. "Jika AS bisa menggulingkan rezim di belahan barat, mengapa tidak di tempat lain?" katanya.

Ancaman eksternal ini, ironisnya, bisa menjadi alasan sempurna bagi pemerintah Iran untuk menekan protes lebih keras. Harapan pada "penyelamat dari luar" justru berisiko melemahkan gerakan sipil dari dalam. "Mengira tekanan Trump bertujuan membela rakyat Iran adalah hal naif," ujar Talebi.

Caracas telah jatuh. Di Teheran, jam berdetak lebih kencang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video Trump: Banyak Warga Kuba Tewas Saat Lindungi Nicolas Maduro

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads