Tahun 2025 Catat Rekor Panas Global, Dampak Krisis Iklim Kian Kentara

Tahun 2025 Catat Rekor Panas Global, Dampak Krisis Iklim Kian Kentara

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 03 Jan 2026 19:16 WIB
Tahun 2025 Catat Rekor Panas Global, Dampak Krisis Iklim Kian Kentara
Banjir bandang di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara disebabkan deforestasi serta krisis iklim (Aidil Ichlas/REUTERS)
Berlin -

Asia Tengah, wilayah Sahel, dan Eropa Utara mencatat tahun terpanas dalam sejarah pada 2025, menurut analisis AFP yang didasarkan pada data dari program Copernicus Eropa. Secara global, 12 bulan terakhir diperkirakan menjadi tahun terpanas ketiga setelah 2024 dan 2023, menurut data sementara yang akan dikonfirmasi Copernicus dalam laporan tahunan awal Januari.

Rata-rata global, yang mencakup daratan dan lautan, menyembunyikan catatan suhu ekstrem di beberapa wilayah. Banyak negara miskin tidak mempublikasikan data iklim secara rinci, sehingga AFP melengkapi gambaran global dengan menganalisis data Copernicus dari model iklim, sekitar 20 satelit, dan stasiun cuaca. Data ini mencakup seluruh dunia, jam demi jam, sejak 1970.

Analisis rinci mengungkapkan bahwa selama 2025, 120 rekor suhu bulanan pecah di lebih dari 70 negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Asia Tengah, semua negara memecahkan rekor suhu tahunan, dengan Tajikistan mencatat suhu abnormal tertinggi di dunia, lebih dari 3Β°C di atas rata-rata musiman 1981–2010. Rekor suhu bulanan pecah hampir setiap bulan sejak Mei, kecuali November. Negara tetangga seperti Kazakhstan, Iran, dan Uzbekistan juga mengalami suhu 2–3Β°C di atas rata-rata musiman.

Di Sahel, wilayah semi-kering di Afrika Barat yang rentan terhadap konflik dan kemiskinan, suhu juga memecahkan rekor. Mali, Niger, Nigeria, Burkina Faso, dan Chad mencatat suhu 0,7–1,5Β°C di atas rata-rata musiman.

ADVERTISEMENT

Nigeria mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat, sementara negara lain berada di peringkat keempat terpanas dalam sejarah. Menurut World Weather Attribution (WWA), "peristiwa panas ekstrem telah menjadi hampir 10 kali lebih mungkin sejak 2015."

Gelombang panas dan bencana ekstrem di Eropa

Di Eropa, sekitar 10 negara hampir atau memecahkan rekor suhu tahunan, terutama akibat musim panas yang ekstrem. Di Swiss dan beberapa negara Balkan, suhu musim panas mencapai 2–3Β°C di atas rata-rata. Spanyol, Portugal, dan Inggris mengalami musim panas terburuk yang pernah tercatat, dengan gelombang panas memicu kebakaran hutan besar dan kekeringan terburuk dalam lebih dari satu abad di Inggris.

Eropa Utara relatif lebih terlindungi dari gelombang panas musim panas, tetapi mengalami musim gugur yang tidak biasa hangat. Di Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Islandia, 2025 diperkirakan menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.

Menurut World Weather Attribution (WWA), sepanjang 2025 tercatat 157 peristiwa cuaca ekstrem: 49 banjir, 49 gelombang panas, 38 badai, 11 kebakaran hutan, tujuh kekeringan, dan tiga gelombang dingin. Dari 22 peristiwa yang dianalisis secara mendalam, 17 dipastikan lebih mungkin atau lebih parah akibat perubahan iklim. Misalnya, gelombang panas tujuh hari di Sudan Selatan dengan suhu mencapai 40Β°C seharusnya hanya 36Β°C tanpa pemanasan global.

Kebakaran hutan di Los Angeles pada Januari menewaskan sekitar 400 orang dan menyebabkan kerugian asuransi sebesar US$30 miliar (sekitar Rp501 triliun), sementara kerugian tanpa asuransi diperkirakan lebih tinggi. Studi menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan kemungkinan kebakaran ini sebesar 35%.

Intensitas badai tropis dan topan juga meningkat. Misalnya, Badai Melissa yang melanda Jamaika dan Kuba pada Oktober memiliki kecepatan angin hingga 288 km/jam, lebih tinggi dibandingkan 270 km/jam tanpa pemanasan global.

Pemanasan global melebihi 1,5Β°C dan tantangan energi fosil

Model iklim menunjukkan bahwa pada 2025, pemanasan global telah mencapai 1,5Β°C di atas era pra-industri untuk tahun ketiga berturut-turut, melebihi ambang batas yang dianggap aman dalam Perjanjian Paris 2015.

"Milestone ini bukan abstrak, ini mencerminkan percepatan perubahan iklim dan satu-satunya cara untuk menurunkan suhu di masa depan adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca secara cepat," kata Samantha Burgess, pimpinan strategi iklim di Copernicus.

Profesor Friederike Otto dari Imperial College London, salah satu pendiri WWA, menegaskan: "Setiap tahun, risiko perubahan iklim menjadi kenyataan yang brutal."

Ia menekankan bahwa ketergantungan berkelanjutan pada bahan bakar fosil menyebabkan kematian, kerugian ekonomi miliaran dolar, dan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan bagi komunitas di seluruh dunia.

Dampak global sangat nyata. Filipina dilanda topan berturut-turut yang menewaskan sekitar 260 orang, sementara Indonesia, Malaysia, dan Thailand terkena banjir besar. Musim gugur 2025 di belahan bumi utara tercatat sebagai yang ketiga terpanas setelah 2023 dan 2024.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa setiap seperseratus derajat pemanasan meningkatkan risiko gelombang panas, badai, banjir, dan bencana lainnya secara signifikan.

Meski ada kesepakatan di COP28 untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, langkah global sejauh ini masih tertahan. COP30 di Belem, Brasil, belum menghasilkan komitmen eksplisit untuk menghentikan minyak, gas, dan batu bara karena keberatan negara penghasil fosil.

Burgess menekankan: "Perubahan iklim bukan sekadar statistik, ini mempengaruhi kehidupan jutaan orang, memicu kerugian ekonomi, dan merusak komunitas di seluruh dunia."

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Ilmuwan Iklim Uni Eropa Ungkap 2025 Kembali Jadi Tahun Terpanas Kedua"

(nvc/nvc)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads