Dalam pidato Tahun Baru, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan bertekad untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan memperkuat pertahanan terhadap invasi asing. Pernyataan ini ia lontarkan hanya sehari setelah berakhirnya latihan militer berskala besar China di sekitar perairan Taiwan.
"Menghadapi ambisi ekspansionis China yang meningkat, komunitas internasional sedang mengamati apakah rakyat Taiwan memiliki tekad untuk membela diri," kata Lai dalam pidato Tahun Barunya.
"Sebagai presiden, pendirian saya selalu jelas: untuk dengan tegas melindungi kedaulatan nasional, memperkuat pertahanan nasional dan ketahanan seluruh masyarakat, dan secara komprehensif membangun mekanisme pencegahan dan pertahanan demokratis yang efektif."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman militer terhadap Taiwan
Eskalasi mencuat menyusul latihan militer China yang mensimulasikan blokade laut terhadap Taiwan. Selama dua hari, China mengerahkan armada laut dan udara agar berlatih menggunakan peluru hidup.
Latihan militer yang diberi nama Misi Keadilan 2025 ini termasuk latihan tembak langsung di beberapa zona di sekitar Taiwan.
Latihan tersebut dilakukan kurang dari dua minggu setelah Amerika Serikat mengumumkan paket senjata senilai β¬9,43 miliar (setara Rp185 miliar) untuk Taiwan. Ia juga dipandang sebagai jawaban atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal komitmen Tokyo membela Taiwan.
Taiwan dipimpin secara demokratis dan terpisah dari China. Namun China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak menutup penggunaan kekuatan untuk mengambil kendali atas negara pulau tersebut.
Lai ingin gandakan anggaran militer
Dalam pidato yang disiarkan televisi dari kantor kepresidenan, Presiden Lai mendesak persatuan politik dan memperingatkan bahwa penundaan rancangan undang-undang pengeluaran pertahanan senilai $40 miliar dapat merugikan.
Masyarakat internasional sedang mengamati apakah rakyat Taiwan memiliki tekad untuk membela diri, kata Lai.
"Hanya melalui persatuan, bukan perpecahan, kita dapat menghindari pengiriman sinyal yang salah kepada China bahwa mereka dapat menyerang Taiwan," tambah presiden.
Ia juga mengatakan Taiwan tetap terbuka untuk dialog dengan China, asalkan Beijing menghormati sistem demokrasi Taiwan.
Xi Jinping: Reunifikasi tidak terelakkan
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menolak kritik terhadap latihan militernya. Juru bicara Lin Jian menyebut kecaman terhadap Beijing sebagai "kritik yang tidak bertanggung jawab terhadap upaya yang adil dari China untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya." Ia menambahkan bahwa "pasukan separatis" di Taiwan berupaya mencapai kemerdekaan melalui cara militer.
Oleh media pemerintah, pidato Lai digambarkan "penuh dengan kebohongan dan omong kosong, permusuhan dan kebencian," serta memicu "konfrontasi lintas selat."
Presiden Xi Jinping mengatakan dalam pidato Tahun Baru yang disiarkan televisi pada hari Rabu (31/12) bahwa "penyatuan kembali" dengan Taiwan tidak dapat dihentikan.
"Kita orang China di kedua sisi Selat Taiwan berbagi ikatan darah dan kekerabatan," katanya. "Penyatuan kembali tanah air kita, sebuah tren zaman, tidak dapat dihentikan."
Dalam pidatoya, dia juga mengaku terkesan dengan kekuatan teknologi Cna. Xi mencatat bahwa beberapa model AI buatan China sedang bersaing ketat di level global, da melaporkan terobosan dalam kemampuan produksi semikonduktor oleh industri domestik. Ia juga menyebutkan lompatan industri dalam robot humanoid dan teknologi drone.
Editor: Rizki Nugraha
Simak juga Video: China Tebar Ancaman ke Jepang Buntut Pasang Rudal Dekat Taiwan
(haf/haf)










































