Pada hari pertama sekolah, Klara Ptak hampir saja lupa membawa ponselnya dari rumah. Dia baru saja pulang setelah menghabiskan liburan musim panas. Keteledoran itu bukti terbaik bahwa sang ketua OSIS sudah terbiasa tidak lagi membutuhkan ponsel di sekolah. Sejak akhir April, Sekolah Dalton Gymnasium di Alsdorf, Jerman, resmi memberlakukan larangan peranti komunikasi yang ketat untuk semua murid.
Siswi berusia 17 tahun itu mengatakan kepada DW: "Saya tidak bisa lagi sekadar melirik ponsel di sela-sela pelajaran atau mengirim pesan cepat saat istirahat. Awalnya banyak yang bertanya-tanya, untuk apa semua ini, tapi lama-kelamaan banyak yang sadar kalau sebenarnya tidak terlalu buruk - bahkan punya sisi positif."
Namun, pendapat tetap terbagi: "Para guru sebagian besar mendukung, murid-murid yang lebih muda bisa menerima, sementara yang lebih tua kurang puas."
Dalton Gymnasium adalah salah satu dari banyak sekolah di Jerman yang mulai membatasi konsumsi ponsel berlebihan oleh murid. Setelah libur Paskah, pihak sekolah meluncurkan konsep "Cerdas tanpa Ponsel" sebagai masa uji coba. Sejak itu, ponsel harus disimpan di tas dari awal hingga akhir pelajaran. Jika ketahuan, ponsel hanya bisa diambil orang tua pada keesokan harinya di kantor sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total ada 51 ponsel yang disita, cukup signifikan dengan jumlah 700 murid," kata Ptak. "Sekarang kita bisa lihat, terutama anak-anak yang dulu hanya berdiri berkelompok menatap layar, kini bermain sepak bola, bulu tangkis, atau board game bersama. Itu perubahan yang luar biasa."
Pro-kontra larangan ponsel
Debat sengit tentang ponsel di sekolah merebak di Jerman, terlebih karena belum ada aturan nasional yang seragam: apakah peranti komunikasi layak dilarang atau dibiarkan? Akademi Sains Leopoldina mengusulkan larangan ponsel hingga kelas sepuluh dan menyarankan anak di bawah 13 tahun dijauhkan dari internet serta media sosial. Hendrik Streeck, pejabat pemerintah untuk urusan kecanduan dan narkoba, mendukung pembatasan usia untuk media sosial, tetapi menolak larangan ponsel.
Konferensi OSIS Jerman juga menolak larangan menyeluruh. Mereka lebih menginginkan penguatan literasi digital di sekolah.
Lalu, bagaimana dengan orang tua? Mereka justru merasa paling tertekan. Menurut survei lembaga riset opini Forsa untuk KΓΆrber-Stiftung, faktor stres terbesar orang tua anak usia 12β18 tahun adalah konsumsi media anak-anak mereka.
Alsdorf: Larangan ponsel disambut positif
Martin WΓΌller, kepala sekolah Dalton Gymnasium di Alsdorf, adalah penggagas larangan ponsel sekaligus motor digitalisasi dengan penyediaan tablet sekolah mulai kelas tujuh. Dia bangga dengan hasil evaluasi proyek ini bersama murid, guru, dan orang tua.
Menurutnya, 90 persen guru mendukung larangan ponsel. Mereka melihat perbaikan signifikan dalam interaksi sosial serta konsentrasi murid, khususnya di kelas bawah. Mayoritas murid muda juga menilai larangan itu bermanfaat, meski murid kelas atas (16β19 tahun) masih skeptis. Sebanyak 85 persen orang tua mendukung, bahkan menilai anak-anak mereka lebih mandiri dan komunikasi meningkat - bahkan di rumah.
WΓΌller mengatakan kepada DW: "Orang tua anak-anak yang lebih kecil berterima kasih dan memuji inisiatif ini. Mereka bilang, syukurlah, di sekolah dasar kan juga begitu." Namun dia menegaskan perlunya konsistensi orang tua: "Kami tidak bisa menambal semua yang gagal di rumah. Kami selalu menekankan pentingnya menarik satu tali dengan orang tua -bahkan lebih baik jika ke arah yang sama."
Solingen: Stop media sosial untuk murid kelas 5
Sementara itu di kota Solingen, sebuah proyek unik diluncurkan: mulai tahun ajaran baru, semua murid kelas lima (usia 10β11 tahun) sepakat berhenti menggunakan media sosial, bahkan di rumah. Tidak ada Instagram, Snapchat, atau TikTok.
Gagasan ini datang dari Burkhard BrΓΆrken, mantan kepala sekolah yang kini menjabat di pemerintahan pendidikan DΓΌsseldorf. "Di Solingen, kami cepat sekali mendapat dukungan dari semua pimpinan 13 sekolah lanjutanβdari gymnasium hingga sekolah inklusif," jelasnya. "Kami memulai kemitraan pendidikan unik antara sekolah, orang tua, dan anak-anak."
Semua pihak menandatangani deklarasi niat untuk menjalankan proyek ini setahun penuh. BrΓΆrken menekankan bahwa kesepakatan itu tidak mengikat secara hukum, melainkan hanya rekomendasi dan dukunganβbukan intervensi pendidikan orang tua.
Banyak orang tua menyambut baik: "Kami sering mendengar keluhan tentang pola penggunaan berisiko, dan banyak yang bertanya kenapa baru sekarang dilakukan," kata BrΓΆrken. Menurutnya, tekanan sosial membuat larangan individu mustahil: "Kalau anak merasa jadi satu-satunya tanpa ponsel, orang tua sulit melawan. Hanya koordinasi bersama yang bisa jadi solusi."
Orang tua tuntut aturan yang lebih jelas
Alev Kanowski, orang tua murid, mengaku merasakan tekanan itu. Putrinya baru mendapat ponsel pada usia sembilan tahun, termasuk yang terakhir di kelasnya. "Trennya sudah mulai dari sekolah dasar. Kalau tidak, anak bisa terasingkan," ujarnya.
Kini sang putri duduk di kelas lima dan awalnya menolak keras larangan media sosial. "Baru setelah kami jelaskan betapa ponsel membuat anak-anak tak fokus dan sulit diajak bicara, dia mulai menerima." Kanowski berharap ada lebih banyak sosialisasi: "Sebagai orang tua, saya sering merasa kewalahan, terutama soal kapan tepatnya memberi ponsel dan akses ke media sosial. Proyek seperti ini sebaiknya ada di lebih banyak tempat agar anak bisa menikmati masa kecil tanpa distraksi."
Proyek di Solingen akan dievaluasi dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai pendukung, 50 "medienscouts" dilatih di sekolahβmurid usia 12β14 tahun yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak kelas lima dan bisa memberi arahan soal keamanan di internet.
BrΓΆrken berharap larangan media sosial ini berhasil. Dia memberi catatan serius: "Kami kini jauh lebih sering berhadapan dengan murid yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Fenomena ini sepuluh tahun lalu hampir tidak ada, tapi kini ada di semua sekolah. Pandemi memang jadi pemicu, tapi apinya sudah menyala jauh sebelumnya."
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha*
Editor: Yuniman Farid