Warga Moldova lelah mendengar bagaimana negara mereka dideskripsikan sebagai "negara kecil bekas Uni-Soviet", "negara termiskin di Eropa", atau "negara yang terjepit antara Rusia dan Barat".
Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Moldova mengerahkan 'seluruh upaya' untuk memperbarui citra tersebut.
Pemerintah mengatakan bahwa, Moldova β yang terletak di antara Ukraina dan Rumania (negara anggota Uni Eropa dan NATO)β adalah calon anggota Uni Eropa, mengorientasikan negaranya ke barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyeksi tersebut dikuatkan ketika pada Rabu (27/8) tiga pemimpin Uni Eropa (UE), Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, berjejak di ibu kota Chisinau, demi merayakan hari kemerdekaan bersama presiden Maia Sandu.
"Alternatif selain Eropa tidak ada. Tanpa UE, Moldova tetap terjebak di masa lalu," kata Sandu dalam pidatonya. "Kami merasakan hal ini setiap kali bom dijatuhkan di negara tetangga. Perang Rusia di Ukraina menunjukkan setiap hari bahwa Eropa berarti kebebasan dan perdamaian. Rusia-Putin berarti perang dan kematian."
Tantangan di luar prediksi, jelang pemilu
Kanselir Merz mengatakan kepada warga Moldova, fakta bahwa negara tersebut telah memilih jalur menuju UE tidak dapat diremehkan. Namun masih banyak ketidakpastian jelang pemilu.
Pemerintah pro-Barat Moldova menghadapi tantangan demokrasi fluktuatif - disebabkan frustrasi warga saat menghadapi dampak ekonomi perang di negara tetangga, Ukraina.
Meskipun partai Sandu yang pro-Eropa masih mendominasi jajak pendapat, beberapa wilayah di Moldova secara konsisten mendukung kandidat yang pro-Moskow. Kehadiran militer Rusia di wilayah separatis Transnistria sejak lama menjadi duri dalam daging bagi Moldova.
Namun, ada pula faktor lain di luar diprediksi yang berupaya mempengaruhi para pemilih Moldova. Seperti konglomerat buron pro-Rusia, Ilan Shor, yang menjanjikan hingga $3.000 (Rp 49 juta) per bulan kepada orang-orang yang menghadiri protes anti-pemerintah, menurut kantor berita Reuters.
Shor, yang melarikan diri dari Moldova saat mengajukan banding atas vonis kasus penipuan bank di tahun 2019, mempublikasikan tawarannya dalam sebuah video daring.
Presiden Maia Sandu menyebutkan upaya tersebut sebagai bagian dari ancaman yang lebih besar terhadap demokrasi Moldova. Ia merinci bentuk-bentuk gangguan lain, termasuk campur tangan pemilu, pendanaan ilegal, kampanye disinformasi, serangan siber, sabotase di tempat pemungutan suara luar negeri, serta upaya memecah belah masyarakat melalui penyebaran kebencian antar komunitas.
Minggu-minggu yang menegangkan
Moskow membantah terlibat dalam campur tangan pemilu di Moldova, tetapi para pemimpin Uni Eropa yang berkumpul di Chisinau tetap menaruh curiga.
"Rusia terus-menerus berusaha merusak kebebasan, kemakmuran, dan perdamaian di Moldova," ujar Merz seraya memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin ingin menarik Moldova ke dalam "lingkup pengaruh" Moskow.
Victoria Olari, yang memantau disinformasi dan tren daring untuk Lab Penelitian Atlantic Council Digital Forensic mengatakan kepada DW dalam sambungan telepon bahwa ia memperkirakan upaya campur tangan Rusia akan meningkat selama beberapa minggu ke depan.
Olari, yang tinggal di Chisinau, menggambarkan suasana jelang pemilu "menegangkan" namun juga ada rasa "optimis dan waspada."
"Ada tekad nyata rakyat Moldova untuk menjaga kedaulatan mereka," jelas Olari, menambahkan bahwa kunjungan para pemimpin tinggi Uni Eropa yang menegaskan dukungannya terhadap Moldova telah membangkitkan harapan.
Mimpi Eropa yang ditangkis Hungaria
Solidaritas Eropa pada Moldova terasa manis tapi juga pahitβ karena jalan 'berliku' Moldova untuk bergabung dengan UE.
Moldova dan Ukraina sama-sama mengajukan permohonan untuk bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2022, setelah invasi besar-besaran Rusia.
Permohonan aksesi kedua negara disinkronkan dengan reformasi dalam negeri negara tersebut untuk memperkuat undang-undang dan lembaga pemberantasan korupsi. Macron, Merz, dan Tusk memuji kemajuan Moldova dalam hal ini.
Namun Budapest memveto setiap kemajuan terkait permohonan masuk Ukraina ke UE. Kedekatan Moldova dengan Ukraina berimbas stagnannya posisi Moldova untuk masuk ke Uni Eropa.
"Pintu menuju Uni Eropa terbuka," ujar Merz dalam pesan yang meyakinkan pada hari Rabu. "Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa" untuk memajukan perundingan keanggotaan pada musim gugur, tegas Kanselir Jerman tersebut.
Namun hal ini turut menghadirkan dilema politik bagi para pemimpin UE.
Risiko 'menunggu' terlalu lama
"Uni Eropa enggan menyerah pada tekanan Hungaria dengan memisahkan hubungan antara Moldova dan Ukraina. Hal ini bisa membuat Ukraina merasa ditinggalkan, terutama di tengah invasi besar-besaran Rusia," jelas Amanda Paul, peneliti senior di European Policy Centre.
Namun, jika Moldova "menunggu" terlalu lama di luar pintu Uni Eropa, risiko Moldova jatuh ke dalam pengaruh Rusia semakin besar, hal ini tidak hanya membahayakan keamanan dan stabilitas Moldova, tapi juga akan melemahkan keamanan dan stabilitas Eropa secara keseluruhan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizki Nugraha.
Lihat juga Video 'Trump: Zelensky Tak Sepenuhnya Polos':