Komitmen Merkel soal Pengungsi Diganjar Hadiah Perdamaian oleh UNESCO

ADVERTISEMENT

Komitmen Merkel soal Pengungsi Diganjar Hadiah Perdamaian oleh UNESCO

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 08 Feb 2023 16:44 WIB
Jakarta -

Sebuah bangunan monumental menjulang setinggi 30 m ke langit Yamoussoukro, ibu kota Pantai Gading yang sepi. Di depannya, terhampar taman cantik yang ditata secara geometris, dan sebuah globe dengan hiasan seekor merpati putih yang melambangkan perdamaian berdiri tepat di depan pintu masuk utama.

Nama lembaga pemilik bangunan itu sama mengesankannya dengan arsitekturnya: Felix-Houphouet-Boigny Foundation for Peace Research.

Di sisi lain bangunan, sebuah kain sepanjang 20 m dengan potret mantan Kanselir Jerman Angela Merkel dibentangkan, sebuah dekorasi luar biasa untuk menyambut kembalinya Merkel ke Afrika, satu tahun setelah meninggalkan jabatannya sebagai kanselir.

Merkel dijadwalkan akan menerima Hadiah Perdamaian UNESCO Felix Houphouet-Boginy di kota yang mengklaim dirinya sebagai "ibu kota perdamaian dunia" itu pada Rabu (08/02).

'Perempuan hebat'

Tidak hanya di sisi bangunan, poster raksasa Angela Merkel juga tersebar di jalan-jalan Yamoussoukro. Merkel sukses menjadi perbincangan di kota itu.

"Saya membaca di koran bahwa dia akan menerima hadiah itu. Dia pantas mendapatkannya karena dia perempuan hebat. Dia telah banyak mengambil tindakan untuk perdamaian," kata seorang warga kepada DW.

"Dia perempuan yang sangat mengagumkan. Kami ingin menjadi seperti dia," kata warga lainnya.

Kekaguman warga tidak terbatas pada sosok Merkel semata tapi juga terkait kebijakan yang diambilnya semasa memimpin Jerman.

"Dia adalah seorang pemimpin sejati. Dia telah mencapai banyak hal. Dia juga membantu migran datang ke Eropa dan membuka pintu bagi ribuan orang," kata seorang warga.

Kebijakan ini pula lah yang membuat para juri Hadiah Perdamaian Felix Houphouet-Boigny, yang dinamai menurut nama mantan presiden Pantai Gading itu, terkesan. Bahwa Merkel di tahun 2015 dengan berani membuka negara bagi para pengungsi dan menyambut mereka.

Seruan Merkel

Kala itu, seruan tegas dari Merkel, "wir schaffen das!" ("Kita bisa melakukan ini!") menuai pujian dan kritik. Tapi itu adalah sinyal positif Merkel terhadap kebijakan pengungsi.

"Seluruh juri tersentuh oleh keputusannya yang berani pada tahun 2015 untuk menerima lebih dari 1,2 juta pengungsi, terutama dari Suriah, Irak, Afganistan, dan Eritrea," kata Denis Mukwege, presiden juri dari hadiah perdamaian tersebut.

Menurut Mukwege yang juga merupakan pemenang Nobel Perdamaian tahun 2018 itu, Merkel telah meninggalkan pelajaran sejarah yang berharga.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay juga memuji kebijakan Merkel tersebut.

"Membuka pintu bagi mereka yang menderita adalah bagian dari membangun perdamaian," katanya seaya menambahkan," keputusan juri adalah pengingat bahwa car akita menangani migran dan pengungsi menjadi perhatian utama."

Penghargaan untuk keberanian dan komitmen Merkel

Dalam kesempatan terpisah, Jean-Noel Loucou yang menjabat sebagai sekretaris jenderal Felix-Houphouet-Boigny Foundation for Peace Research mengaku melihat manfaat besar dalam komitmen Merkel.

Kepada DW, ia mengatakan bahwa telah terjadi "dengan masuknya pengungsi besar-besaran dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak dan Afganistan. Dan berkat tindakan dan keberanian Kanselir Angela Merkel, Jerman telah menerima lebih dari 1,2 juta pengungsi."

Tindakan ini lah yang menurutnya akan mendapat pengakuan oleh Hadiah Felix Houphouet Boigny 2022, sebuah hadiah yang terdiri dari uang sebesar $150.000, medali emas, dan sertifikat yang ditandatangani langsung oleh direktur jenderal UNESCO.

Sekilas tentang Hadiah Felix Houphouet-Boigny

Hadiah Felix Houphouet-Boigny adalah penghargaan tahunan UNESCO kepada institusi dan individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa terhadap hak asasi manusia dan perdamaian di seluruh dunia.

Hadiah tersebut dibentuk tahun 1989 dengan mengambil nama Presiden Pantai Gading Houphouet-Boigny. Pada tahun 1991, Nelson Mandela dan Frederik Willem de Klerk menjadi orang pertama yang mendapat hadiah tersebut atas upaya mereka mengakhiri apartheid di Afrika Selatan.

Sejaa itu, daftar penerima hadiah semakin panjang. Misalnya pada tahun 1994, hadiah diberikan kepada Raja Juan Carlos I dari Spanyol dan mantan Presiden AS Jimmy Carter.

Sementara pada 2005, hadiah diberikan kepada Abdoulaye Wade, presiden Senegal kala itu, dan kepada mantan presiden Prancis Francois Hollande di tahun 2013.

gtp/hp

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT