Gelombang COVID-19 Melewati Puncaknya di Banyak Wilayah China

ADVERTISEMENT

Gelombang COVID-19 Melewati Puncaknya di Banyak Wilayah China

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 10 Jan 2023 17:58 WIB
Jakarta -

Sebuah ringkasan oleh Health Times, sebuah publikasi yang dikelola oleh People's Daily, surat kabar resmi Partai Komunis, mengatakan infeksi COVID-19 telah menurun di ibu kota Beijing dan beberapa provinsi Cina.

Mengutip pernyataan dari seorang pejabat, hampir 90 juta orang telah terinfeksi di provinsi Henan.

Virus ini telah menyebar secara luas di Cina sejak kebijakan putar balik pada awal Desember setelah protes terhadap kebijakan "nol-COVID" yang diberlakukan dengan kejam selama tiga tahun.

Cina membuka kembali perbatasannya pada hari Minggu, menghapus pembatasan besar terakhir.

Penguncian yang sering terjadi, pengujian tanpa henti, dan berbagai tingkat pembatasan pergerakan sejak awal 2020 telah membawa perekonomian terbesar kedua di dunia ke salah satu tingkat pertumbuhan paling lambat dalam hampir setengah abad dan menyebabkan penderitaan yang sangat luas.

Dengan tingkat infeksi virus yang telah melandai, Cina telah menghentikan publikasi penghitungan infeksi harian dan telah melaporkan jumlah kematian dalam satu digit angka yang menjadi perdebatan Organisasi Kesehatan Dunia.

Banyak rumah duka dan rumah sakit di Cina mengatakan mereka kewalahan, dan para ahli kesehatan internasional memperkirakan setidaknya terdapat 1 juta kematian terkait COVID-19 di Cina tahun ini.

Pada hari Selasa, kompilasi laporan Health Times dari pejabat pemerintah daerah dan pakar kesehatan di seluruh negeri, menunjukkan gelombang COVID-19 mungkin melewati puncaknya di banyak wilayah.

Mengutip pernyataan dari Kan Quan, Direktur Kantor Pencegahan dan Pengendalian Epidemi Provinsi Henan, tingkat infeksi di provinsi hampir 100 juta hampir pada 6 Januari.

Jumlah pasien di klinik provinsi tersebut mencapai puncaknya pada Senin, 19 Desember, tetapi jumlah kasus parah masih tinggi, katanya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Yin Yong, yang menjabat sebagai Walikota Beijing mengatakan, ibukota juga melewati puncaknya. Li Pan, Wakil Direktur Komisi Kesehatan Kota di Kota Chongqing mengatakan, puncak di sana tercapai pada Selasa, 20 Desember.

Di provinsi Jiangsu, puncaknya tercapai pada Kamis, 22 Desember, sementara di Provinsi Zheijiang "gelombang pertama infeksi telah berlalu dengan lancar", kata para pejabatnya. Dua kota di provinsi Guangdong selatan, jantung manufaktur Cina, mencapai puncaknya sebelum akhir tahun.

Secara terpisah, kepada China Daily yang dikelola Pemerintah, seorang pejabat kesehatan terkemuka mengatakan persentase kasus yang parah tetap tidak jelas.

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan persentase keseluruhan pasien COVID yang parah dan kritis di Cina karena berbagai rumah sakit melaporkan jumlah yang berbeda, Wang Guiqiang, Kepala Departemen Penyakit Menular Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, mengatakan.

Pemulihan Bertahap

Analis memperkirakan penurunan aktivitas ekonomi terjadi dalam waktu dekat karena pekerja dan konsumen jatuh sakit, tetapi pemulihan juga akan berlangsung cepat di akhir tahun karena tingkat kekebalan meningkat.

Kantor imigrasi di Beijing minggu ini melihat adanya antrian panjang orang-orang yang ingin memperbarui paspor mereka ketika Cina membatalkan kontrol perbatasan COVID-19 yang telah membuat 1,4 miliar penduduknya enggan bepergian selama tiga tahun karena pembatasan kepulangan mereka.

Tetapi melambungnya tingkat perjalanan ke luar negeri diperkirakan akan terjadi secara bertahap dan jumlah turis Cina yang berbelanja keluar negeri mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat seperti sebelum COVID-19, yang nilainya mencapai US$ 250 miliar per tahun (Rp 3.897,61 triliun).

Menurut data flight master, maskapai penerbangan belum meningkatkan kembali kapasitas penerbangan harian masuk dan keluar Cina mereka.

Ketidaknyamanan travel lainnya adalah banyak negara menuntut tes negatif kepada pengunjung yang berasal dari Cina, setelah munculnya kekhawatiran tentang transparansi negara tersebut atas skala dan dampak wabah serta potensi mutasi.

Cina telah menepis kritik atas datanya sebagai upaya bermotif politik untuk mencoreng "keberhasilannya" dalam menangani pandemi dan mengatakan setiap mutasi di masa depan kemungkinan akan lebih menular tetapi menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah.

yas/yf (Reuters)

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT