WHO: Statistik COVID-19 China Sembunyikan Dampak Sebenarnya

ADVERTISEMENT

WHO: Statistik COVID-19 China Sembunyikan Dampak Sebenarnya

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 05 Jan 2023 13:47 WIB
Beijing -

Ada kekhawatiran yang berkembang atas peningkatan tajam infeksi COVID-19 di China sejak pencabutan kebijakan nol COVID yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun.

"Kami masih belum memiliki data lengkap," kata Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan kepada wartawan.

"Kami percaya bahwa angka saat ini yang diterbitkan China kurang mewakili dampak sebenarnya dari penyakit tersebut dalam hal penerimaan rumah sakit, ICU, dan khususnya dalam hal kematian," tambahnya.

China hanya mengklaim 22 kasus kematian akibat COVID-19 sejak Desember 2022 dan secara dramatis mempersempit kriteria untuk mengklasifikasikan kematian semacam itu, yang artinya data statistik terkait gelombang wabah corona yang belum pernah terjadi sebelumnya sekarang secara luas dilihat tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.

Ryan menunjukkan bahwa definisi yang digunakan Beijing hanya "gangguan pernapasan" yang terkait dengan infeksi COVID-19, yang masuk dalam kriteria kematian akibat COVID-19.

"Itu definisi yang sangat sempit," katanya.

Mandat uji COVID-19 yang datang dari China

Negara-negara Uni Eropa menyuarakan keprihatinan terhadap WHO atas data China tentang infeksi COVID-19 yang tidak transparan. Pertemuan para pakar Uni Eropa mengatakan pada hari Rabu (04/01) bahwa negara-negara UE "sangat didorong" untuk menuntut tes COVID-19 dari penumpang yang datang dari China.

Pertemuan itu diadakan untuk mengoordinasikan tanggapan bersama UE terhadap arus masuk pengunjung yang tiba-tiba, saat Beijing mencabut kebijakan nol COVID yang sebagian besar telah menutup negara itu dari perjalanan internasional.

Para ahli juga merekomendasikan agar penumpang dari dan menuju China mengenakan masker, menjalani tes acak pada saat kedatangan, dan menguji air limbah dari penerbangan China. Rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh kepresidenan Swedia di Uni Eropa.

Sebelumnya, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya telah mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dalam beberapa pekan terakhir dengan mitranya di China.

"Kami terus meminta China untuk data rawat inap dan kematian yang lebih cepat, teratur, dan dapat diandalkan, serta pengurutan virus real time yang lebih komprehensif," kata Tedros.

Dia menegaskan kembali bahwa WHO memahami alasan beberapa negara memberlakukan pembatasan baru COVID-19 pada pengunjung dari China.

"Dengan merebaknya (virus) di China yang begitu tinggi dan tidak tersedianya data yang komprehensif ... dapat dipahami bahwa beberapa negara mengambil langkah yang mereka yakini akan melindungi warganya sendiri," katanya.

Amerika Serikat, yang akan mewajibkan tes COVID-19 bagi sebagian besar pelancong dari China mulai Kamis (05/01), mengapresiasi peran WHO dan mengatakan tindakan pencegahan yang diambil Washington disebabkan oleh kurangnya transparansi dari Beijing.

WHO "dalam posisi terbaik untuk membuat penilaian" karena kontaknya dengan pejabat China, kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price.

Subvarian paling menular

Banyak ahli memperhatikan subvarian di Amerika Serikat dan Omicron XBB.1.5, yang sejauh ini telah terdeteksi di 29 negara. Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis COVID-19 WHO, mengatakan itu adalah "subvarian yang paling menular yang telah terdeteksi".

Namun, belum ada indikasi bahwa XBB.1.5 - yang telah menyebar dengan cepat di Amerika Serikat bagian timur laut - menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada jenis COVID-19 lainnya.

Lonjakan kasus XBB.1.5, kata Van Kerkhove, menggarisbawahi betapa pentingnya "melanjutkan pengawasan COVID-19 di seluruh dunia".

"Bulan lalu saja ada lebih dari 13 juta kasus COVID-19 yang dilaporkan ke WHO, dan kami tahu itu terlalu rendah karena pengawasan telah menurun," tambahnya.

Ada juga 15 persen lebih banyak kematian akibat COVID-19 secara global pada bulan lalu dibandingkan bulan sebelumnya, katanya.

"Setiap minggu, sekitar 10.000 orang meninggal karena COVID-19, yang kami ketahui," kata Tedros. "Jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi."

ha/gtp (AFP)

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT