Jelang Pertemuan WHO, Media China Kecilkan Tingkat Keparahan COVID-19

ADVERTISEMENT

Jelang Pertemuan WHO, Media China Kecilkan Tingkat Keparahan COVID-19

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 03 Jan 2023 13:24 WIB
Beijing -

Keputusan pemerintah China melonggarkan pembatasan COVID-19 pada 7 Desember 2022, ditambah minimnya keakuratan data kasus infeksi dan angka kematian telah mendapat sorotan di dalam dan luar negeri. Beberapa negara bahkan telah memberlakukan pembatasan perjalanan untuk pendatang dari China.

Merebaknya virus corona yang sebagian besar tidak terkendali juga mengakibatkan terjadinya lonjakan permintaan untuk layanan rumah duka. Pakar kesehatan internasional bahkan memperkirakan setidaknya satu juta kematian terjadi di negara itu tahun ini.

China melaporkan tiga kematian akibat COVID-19 pada hari Senin (02/01), bertambah satu kematian dari hari Minggu (01/01). Angka resmi kematian sejak pandemi kembali bertambah, dan kini sudah mencapai 5.253 jiwa.

Dalam sebuah artikel pada hari Selasa (03/01), People's Daily, surat kabar resmi Partai Komunis, mengutip beberapa pakar China yang mengatakan penyakit yang disebabkan oleh virus itu relatif ringan bagi sebagian besar orang.

"Penyakit parah dan kritis mencapai 3% hingga 4% dari pasien yang terinfeksi yang saat ini dirawat di rumah sakit yang ditunjuk di Beijing," Tong Zhaohui, Wakil Presiden Rumah Sakit Chaoyang Beijing, mengatakan kepada surat kabar itu.

Kang Yan, Kepala Rumah Sakit Tianfu China Barat Universitas Sichuan, mengatakan bahwa dalam tiga minggu terakhir, total 46 pasien yang sakit kritis telah dirawat di unit perawatan intensif, terhitung sekitar 1% dari infeksi bergejala.

Sementara lebih dari 80% dari mereka yang tinggal di provinsi Sichuan barat daya telah terinfeksi, kata otoritas kesehatan setempat.

Ilmuwan China diminta jelaskan detail virus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pekan lalu mendesak pejabat kesehatan China untuk secara rutin membagikan informasi spesifik dan real time tentang situasi COVID-19.

Badan tersebut juga telah mengundang para ilmuwan China untuk mempresentasikan data terperinci tentang mutasi virus pada pertemuan kelompok penasihat teknis yang dijadwalkan pada hari Selasa (03/01).

China diharapkan bisa memberikan informasi lebih banyak terkait data pengurutan genetik, data rawat inap, kematian, dan vaksinasi.

Tawaran Uni Eropa

Sementara itu, Uni Eropa telah menawarkan vaksin COVID-19 gratis ke China untuk membantu mengatasi wabah tersebut, demikian laporan Financial Times, pada hari Selasa (03/01).

Pejabat kesehatan pemerintah UE akan mengadakan pembicaraan pada hari Rabu (04/01) tentang tanggapan terkoordinasi terhadap wabah China, kata kepresidenan UE Swedia pada hari Senin (02/01).

Sementara Amerika Serikat, Prancis, Australia, India, dan beberapa negara lainnya telah memutuskan akan mewajibkan tes COVID-19 pada pendatang dari China, sedangkan Belgia mengatakan akan menguji air limbah dari pesawat dari China untuk varian baru COVID-19.

China telah menolak kritik terhadap data COVID-nya dan media pemerintahnya menyebut pembatasan baru itu "diskriminatif". Para pejabat pemerintahan juga menganggap sepele risiko varian baru dengan mengatakan setiap mutasi baru mungkin lebih menular, tetapi tidak menyebabkan penyakit yang parah.

Kekhawatiran ekonomi

Ketika virus menyebar, masyarakat di seluruh China jatuh sakit, meningkatkan kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia yang membebani saham Asia.

Data pada hari Selasa (03/01) menunjukkan aktivitas pabrik China menyusut, jauh di bawah target pada Desember lalu, karena gelombang virus corona mengganggu proses produksi.

Tingginya infeksi di China dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan akan semakin memukul perekonomian negara itu pada tahun ini dan menyeret pertumbuhan global, kata Kepala Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva.

"China sedang memasuki minggu-minggu pandemi yang paling berbahaya," analis di Capital Economics memperingatkan.

"Pihak berwenang sekarang hampir tidak melakukan upaya untuk memperlambat penyebaran infeksi dan dengan dimulainya migrasi menjelang Tahun Baru Imlek, provinsi mana pun yang saat ini tidak berada dalam gelombang COVID besar akan segera terjadi."

Data mobilitas menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tertekan secara nasional dan kemungkinan akan tetap demikian sampai gelombang infeksi mulai mereda, tambah mereka.

ha/gtp (Reuters)

Simak juga 'Negara yang Wajibkan Hasil Tes Negatif Covid-19 Bagi Pelancong Asal China':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT