Perempuan Afghanistan dalam Jerat Misoginisme Politik Taliban

ADVERTISEMENT

Perempuan Afghanistan dalam Jerat Misoginisme Politik Taliban

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 31 Des 2022 08:53 WIB
Kabul -

Setelah melarang perempuan berkuliah di perguruan tinggi atau bekerja di lembaga swadaya masyarakat internasional, Taliban terus semakin membatasi ruang gerak perempuan di Afghanistan.

Adela termasuk salah seorang di antaranya. Hingga pekan lalu, dia masih bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Kabul. Kini dia dipaksa menganggur di rumah.

"Awalnya Taliban cuma mengimbau agar perempuan tidak keluar rumah tanpa dikawal mahram laki-laki," tutur Adela kepada DW. Aturan itu lalu diperketat. Sekarang hanya pada hari Rabu dan Kamis saja perempuan di sejumlah provinsi diizinkan beraktivitas di luar rumah.

Bahkan pengemudi taksi tidak lagi diperbolehkan mengangkut penumpang perempuan.

Banyak perempuan Afghanistan sebabnya khawatir, dalam hitungan pekan, Taliban bisa sepenuhnya melarang aktivitas perempuan di ruang publik.

Para Talib berdalih hanya menjalankan Syariah Islam. Tapi larangan bersekolah bagi perempuan di Afghanistan justru dikritik sejumlah negara berwarga mayoritas Muslim seperti Pakistan atau Arab Saudi.

Pembangunan tanpa prioritas

Sulit dipahami, kenapa kelompok etnis Pashtun itu rela mengorbankan masa depan Afghanistan demi memberangus hak perempuan. Menurut ahli teologi Islam di Universitas al-Azhar, Kairo, Mohamad Mohaq, haluan Taliban tidak disusun untuk kemaslahatan bersama.

"Mereka adalah kelompok teroris, bukan sebuah organisasi politik yang bekerja demi kepentingan masyarakat," kata dia kepada DW. Taliban sejak awal didirikan sebagai kekuatan perusak, bukan untuk sebagai aktor rekonsiliasi atau pembangunan.

Asadullah Nadeem, ahli politik Afghanistan, menilai para Talib tidak digerakkan semata-mata oleh Syariah Islam. Menurut bekas direktur sebuah universitas swasta di Afghanistan dan kini hidup di pengasingan itu, justru tradisi dan adat istiadat Pashtun yang lebih berpengaruh.

"Taliban mengikuti ideologi yang primitif, ekstrem dan terbelakang, yang dalam banyak kasus tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman," kata Nadeem. Mereka hanya menerima Syariah yang sesuai dengan tradisi lokal.

Tekanan domestik

Ditambah lagi, Taliban saat ini direpotkan oleh serangan-serangan Islamic State Khorasan (IS-K) di seluruh penjuru negeri. IS-K tidak hanya membidik serdadu Talib, tetapi juga minoritas Syiah Hazara di Afghanistan.

IS-K juga mampu memikat gerilyawan fanatik Taliban yang mencari kemelut jihad. Sebab itu pula Taliban memperketat penegakan Syariah demi memuaskan kalangan sendiri.

"Para pemimpin Taliban tahu bahwa mereka tidak mampu mempertahankan kekuasaan di Afghanistan untuk waktu lama," kata Nadeem. "Mereka ingin menjaga motivasi para gerilyawannya untuk bisa setiap saat mengangkat senjata."

Mohammad Mohaq meyakini IS-K tidak hanya melancarkan jihad, tetapi juga menyimpan motivasi duniawi. Menurutnya, IS-K mencemburui Taliban yang bermandikan uang dan perempuan setelah berhasil merebut Afghanistan.

"Ganjaran duniawi yang menggiurkan semacam itu pula yang menggerakkan para teroris," kata ahli teologi al-Azhar tersebut.

Sementara itu, tokoh-tokoh elit Afghanistan mulai menjauhi Taliban akibat larangan berkuliah bagi perempuan itu. Termasuk di antaranya adalah Nadjibullah Djame, bekas dosen di sebuah universitas swasta yang selama ini mendukung Taliban.

"Kebijakan ini akan melempar Afghanistan semakin ke belakang dan menuju masa depan yang penuh kegelapan," katanya.

rzn/as

Lihat juga Video: Pilu Mahasiswi Afganistan Dilarang Kuliah oleh Taliban

[Gambas:Video 20detik]




(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT