Benarkah China Tolak Klaim Teritorial Iran di Teluk Persia?

ADVERTISEMENT

Benarkah China Tolak Klaim Teritorial Iran di Teluk Persia?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 17 Des 2022 12:10 WIB
Teheran -

Pekan ini China mengirimkan delegasi ke Teheran untuk memadamkan bara diplomasi. Pemicunya adalah kunjungan Presiden Xi Jinping ke KTT Arab-China di Riyadh, Arab Saudi, akhir pekan lalu.

Di sana, dia ikut menandatangani deklarasi bersama Organisasi Kerja Sama Teluk (GCC) yang, secara tidak langsung, juga mendukung klaim teritorial Uni Emirat Arab terhadap tiga pulau Iran di Teluk Persia.

Sontak publik Iran meradang, tidak cuma terhadap Beijing, tetapi juga terhadap pemerintah sendiri. "Pengakuan terhadap klaim teritorial UAE punya nilai politik yang tinggi," kata Kamran Matin, Guru Besar Hubungan Internasional di Universitas Sussex, Inggris.

"Selama 10 tahun terakhir, Teheran berinvestasi besar untuk memperdalam hubungannya dengan China. Kini, China malah berpihak kepada UEA," yang notabene merupakan rival regional, imbuhnya.

"Bagi China, hubungan perdagangan dengan negara-negara Teluk punya peranan besar. Kasus ini menunjukkan bagaimana Beijing mendefinisikan kepentingannya dan melihat hubungannya dengan Iran."

Konflik warisan kolonialisme

Deklarasi GCC ditanggapi ketus oleh Kementerian Luar Negeri Iran. "Ketiga pulau, Abu Musa, Tunb Besar dan Kecil di Teluk Persia adalah bagian tidak terpisahkan dari Iran dan selamanya dimiliki oleh ibu pertiwi. Iran tidak mengenal kompromi dalam hal ini," tulis Menlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian, dalam bahasa Farsi di Twitter, 10 Desember lalu.

Pernyataan Kemenlu Iran itu memicu gelombang shitstorm di media sosial. "Kalau sudah menyangkut persahabatan, Anda berani menulis dalam bahasa China. Sekarang kalian bahkan tidak berani menyebut nama China dalam kicauan berbahasa Farsi," tulis seorang netizen.

Dua hari kemudian, Abdollahian mengunggah terjemahan bahasa China di akun twitternya.

Sejak 50 tahun, Iran dan Uni Emirat Arab sudah bersitegang soal ketiga pulau kecil di dekat jalur kapal minyak di dekat Selat Hormuz itu. Klaim UEA didukung jiran besarnya, Arab Saudi.

Pertikaian teritorial dimulai ketika Inggris menarik diri dari ketiga pulau pada 1971. Buntutnya Shah Iran, Reza Pahlevi, mengirimkan angkatan lautnya untuk menegakkan kedaulatan secara sepihak. Di antara ketiga pulau, hanya Pulau Abu Musa yang berpenghuni dengan sekitar 5.000 orang.

Di media-media sosial, netizen Iran sibuk menyebarkan sebuah gambar peta dari tahun 1891 buatan kartografer Jerman, Adolf Stieler. Di dalamnya terlihat ketiga pulau ditandai sebagai milik Iran.

Diplomasi mendua ala China

Sebabnya Beijing mengirimkan delegasi ke Teheran pada 13 Desember lalu. Menurut laporan media China, mereka di sana untuk mengkoordinasikan proyek investasi.

Keesokan harinya, harian berbahasa Inggris Iran, Teheran Times, melaporkan "China mendukung keutuhan wilayah Iran," dengan foto Wakil PM China, Hu Chunhua, dan Wakil Presiden Iran, Mohammad Mokhber, usai bertemu dengan Presiden Ebrahim Raisi

Menurut laporan kantor berita IRNA, Raisi menyampaikan keberatan terhadap isyarat politik kunjungan Presiden China, Xi Jinping. Dalam pertemuan dengan Hu Chunhua, Iran meminta China mengklarifikasi posisinya.

China belakangan mulai mengkoordinasikan kebijakannya terhadap Iran dengan Arab Saudi. Dalam sebuah pernyataan bersama, Beijing dan Riyadh mengimbau Teheran agar "memperkuat kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional, untuk menekankan karakter damai program nuklir Iran."

Menurut pakar Iran, Amir Chahaki, Beijing sedang menggiatkan "relasi dengan Arab Saudi dan Dewan Kerja Sama Teluk," kata dia dalam kepada DW. "Bagi China, ekonomi berperan sentral di setiap keputusan."

"China tidak sedang memunggungi Iran dan Republik Islam. Hanya saja relasi dengan Arab Saudi saat ini lebih menguntungkan."

rzn/hp

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT