China Longgarkan Kontrol, Belum Ada Tanda Kebijakan Nol COVID Berakhir

ADVERTISEMENT

China Longgarkan Kontrol, Belum Ada Tanda Kebijakan Nol COVID Berakhir

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 05 Des 2022 18:26 WIB
Jakarta -

Pemerintah Cina dilaporkan akan mulai melonggarkan sejumlah restriksi paling ketat sedunia untuk mencegah sebaran COVID-19. Pihak berwenang mengatakan bahwa varian baru lebih lemah. Namun hingga kini pemerintah belum mengatakan kapan mereka akan mengakhiri strategi "Nol COVID" yang telah mengurung puluhan jutaan orang di rumah mereka dan memicu protes serta tuntutan agar Presiden Xi Jinping mundur.

Untuk pertama kali dalam beberapa bulan terakhir, pada hari Senin (05/12), para komuter di Beijing dan 16 kota lainnya diizinkan naik bus dan kereta bawah tanah tanpa harus menunjukkan tes negatif COVID-19 selama 48 jam sebelumnya. Pusat-pusat industri termasuk Guangzhou di dekat Hong Kong juga telah membuka kembali pasar dan bisnis mereka.

Narasi yang disampaikan oleh Beijing terkait infeksi virus corona juga diberitakan berubah. Cina telah mengandalkan strategi garis keras penguncian atau lockdown massal, karantina paksa di berbagai tempat terpusat dan tes massal bagi jutaan orang. Namun setelah merebaknya protes skala nasional, Beijing pun mulai tergerak mengurangi restriksi.

Pada minggu lalu, pemerintah Cina mengumumkan rencana untuk memvaksinasi jutaan orang berusia 70-an dan 80-an sebagai syarat untuk mengakhiri kebijakan Nol COVID, yang telah sangat diharapkan oleh warga. Namun para ahli kesehatan dan ekonom memperingatkan bahwa langkah ini sepertinya hanya akan terjadi pada pertengahan 2023 dan mungkin 2024.

"Cina belum siap untuk pembukaan kembali secara cepat," kata ekonom Morgan Stanley dalam sebuah laporan pada hari Senin. "Kami perkirakan akan masih ada sejumlah langkah restriksi. ... Pembatasan di kota-kota kecil masih dapat diperketat secara dinamis jika angka rawat inap melonjak."

Antara epidemi dan ekonomi

Cina menghadapi "situasi dan tugas baru" karena "melemahnya patogenisitas" varian omicron terbaru, kata Sun Chunlan, pejabat yang bertanggung jawab atas kampanye antivirus pada pekan lalu. Dia mengatakan Cina memiliki "diagnosis dan pengobatan yang efektif" dan telah memvaksinasi lebih dari 90% rakyatnya.

Partai Komunis tengah mencoba untuk menyeimbangkan "pencegahan epidemi, stabilitas ekonomi, dan keamanan untuk pembangunan," ujar Sun pada hari Rabu (30/11) dalam sebuah konferensi dengan pejabat kesehatan, seperti dilansir kantor berita resmi Xinhua. Terlepas dari perubahan tersebut, Beijing dan kota-kota lain masih meminta sejumlah penduduknya untuk tinggal di rumah atau memberlakukan pembatasan lain di lingkungan yang terinfeksi.

Tes negatif dalam 72 jam terakhir masih diperlukan untuk memasuki gedung-gedung publik di kota besar seperti Chongqing di wilayah barat daya yang menjadi hotspot infeksi terbaru. Makan di restoran di beberapa bagian Beijing juga masih dilarang.

Sebuah surat kabar pekan lalu melaporkan bahwa beberapa penduduk Beijing yang mengalami gejala kasus COVID-19 ringan atau tanpa gejala untuk pertama kalinya diizinkan mengisolasi diri di rumah, alih-alih pergi ke karantina. Berita ini belum dikonfirmasi oleh pemerintah setempat.

Propaganda di media berubah

Pergeseran kebijakan itu disertai dengan perubahan drastis terkait pesan pandemi, baik di media pemerintah maupun pernyataan resmi. Pesan-pesan itu kini bernada mengecilkan risiko dari virus dan menyalahkan pejabat setempat atas penerapan lockdown yang terlalu ketat.

Varian Omicron "sama sekali tidak seperti varian Delta tahun lalu," kata Chong Yutian, profesor kedokteran di Guangzhou dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh China Youth Daily yang dikelola Partai Komunis.

"Setelah terinfeksi varian Omicron, sebagian besar orang tidak akan menunjukkan gejala atau hanya bergejala ringan, dan sangat sedikit yang akan mengalami gejala parah, ini sudah diketahui secara luas," dia meyakinkan pembaca.

Sebuah artikel di Beijing Youth Daily juga mengutip pernyataan seorang pasien yang mengatakan "Jangan terlalu takut, tetapi juga lakukan tindakan pencegahan terhadap virus."

Rencana perubahan ini telah banyak dipublikasikan sebagai upaya untuk meredakan kemarahan publik. Cina adalah satu-satunya negara besar yang masih berusaha menghentikan penularan COVID-19 dengan restriksi yang ketat. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat telah melonggarkan pembatasan dan mencoba hidup dengan virus tersebut.

ae/hp (AP, AFP)

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT