Satu Miliar Orang Terancam Tuli Akibat Kebisingan Tinggi

ADVERTISEMENT

Satu Miliar Orang Terancam Tuli Akibat Kebisingan Tinggi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 13:07 WIB
Jakarta -

Riset yang dipublikasikan belum lama ini menyebutkan, sedikitnya 24% remaja mendengar musik pada level sangat eksesif. Risikonya, mereka terancam mempunyai masalah indra pendengaran serius hingga tuli.

"Riset yang kami lakukan menunjukkan, praktik mendengar musik pada level tidak aman, sudah jadi kebiasaan umum di kalangan remaja. Akibatnya, sekitar satu miliar remaja dan anak muda menghadapi risiko mengembangkan kehilangan kemampuan mendengar secara permanen," kata Lauren Dillard, mahasiswa postdoktoral di Medical University of South Carolina, kepada DW.

"Kehilangan pendengaran akibat induksi kebisingan bersifat menetap. Jadi kita harus mengimplementasikan strategi untuk mencegah kehilangan kemampuan mendengar," ujar salah satu penulis laporan ilmiah itu.

Hasil riset yang dipublikasikan dalam BMJ Global Health itu merupakan kajian sistematik dan meta analisis. Para penulis jurnal ilmiah mengevaluasi 33 laporan ilmiah yang berkaitan dengan paparan kebisingan dan praktik mendengarkan suara yang tidak aman, mencakup lebih 19.000 responden berusia antara 19 hingga 34 tahun.

Risiko gangguan pendengaran dihadapi semua golongan usia

Walaupun risetnya terfokus pada risiko yang dihadapi remaja dan kelompok usia muda, penelitian juga menyimpulkan, semua kelompok umur kini menghadapi risiko kehilangan kemampuan pendengaran, terkait kebiasaan mereka mendengar audio.

Risiko kehilangan kemampuan mendengar, tergantung dari tingkat kebisingan audio, durasi, dan frekuensi paparannya. Satu penelitian menemukan, kelompok umur 19 sampai 29 memakai headphone rata-rata 7,8 jam per minggu. Pada kelompok umur 30 sampai 49, rata-rata 5,5 jam per minggu dan pada kelompok umur 50 sampai 79 tahun, rata-rata 5,2 jam per minggu.

Orang sering kali mendengar lewat perangkat audio pada level 105 desibel. Panduan WHO menyebutkan, paparan volume kebisingan pada level tersebut, dengan durasi antara 10 hingga 15 menit per minggu, melewati ambang batas level aman.

Data menunjukkan risiko kerusakan pendengaran di seluruh kelompok usia dan populasi juga signifikan. Namun, Dillard menyebutkan kelompok remaja dan usia lebih muda menghadapi risiko lebih tinggi, mengingat efek kumulatif dari paparan kebisingan sepanjang waktu.

Mencegah dini kehilangan kemampuan mendengar

"Sangat penting memprioritaskan pencegahan kehilangan kemampuan mendengar pada semua umur. Namun, yang paling penting adalah mereduksi kehilangan indra pendengaran secara lebih dini, hingga tidak berkembang menjadi semakin memburuk seiring waktu," kata peneliti Lauren Dillard.

Para ahli sudah mencemaskan efek musik dengan level kebisingan tinggi pada kemampuan mendengar sejak tahun 50an. Dillard menegaskan, suara kebisingan musik, sejatinya tidak bertambah tinggi levelnya.

"Masalahnya kini, ketersediaan alat pendengar audio yang makin meluas dan durasi waktu yang digunakan alat untuk mendengar musik, semakin meningkat. Smartphone sudah jadi gadget harian di seluruh dunia, dan itu artinya makin banyak orang terpapar suara musik hingar bingar," kata peneliti dari South Carolina itu.

Juga Karen Hirschausen, pakar ilmu audio dari Hearing Australia menyoroti perubahan teknologi dan kondisi aktual di dunia kerja, memiliki dampak pada kebiasaan mendengar audio. "Makin banyaknya orang mempraktekkan working from home punya potensi berkontribusi pada makin seringnya penggunaan headphone," ujarnya kepada DW.

Saran para ahli: turunkan level volume pada kisaran 60% dari level maksimal. Batasi aktivitas mendengar suara bising level tinggi. Ambil jeda pendek dan batasi penggunaan headphone jika itu memang tuntutan kerja. Juga cek secara rutin, kemampuan indra pendengaran kita, dengan mengunjungi dokter atau ahli lainnya.

(as/ha)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT